Delicate, Delightful, Delicious
~A Blog

Sunday, June 04, 2006

Gempa di Jogja: Kisah dari Seorang Sahabat

Akhirnya. Tyas Junaidianto, sahabat SMA saya yang sekarang di UGM cerita tentang pengalamannya pas gempa Jogja 27 Mei lalu. Dia nulis cukup panjang di milis angkatan. Saya coba kutip cerita dia di sini, tapi dengan editing di sana-sini, tentunya tanpa mengubah intisari cerita:

Here is the story

Tanggal 26 Mei
TJ (emang begitu dia biasa dipanggil—red) dan teman-teman JMP (Rohisnya fakultas) lagi ngadain dauroh/training. Kita berangkat jam 18.00 dari kampus naik truk, transit dulu di masjid kira-kira jam 20.00. Perjalanan dilanjutkan jam 21.00 on foot ke bukit Mangunan, kira-kira 15 km dari tempat transit. Sampai di atas kira-kira jam 1 pagi.

Tanggal 27 Mei dini hari
Malam yang dingin dan khusyuk dengan alunan tilawah plus qiyamullail. Meski cuma tidur 2-3 jam, kita masih diizinkan-Nya 'curhat'. Khusyuk sekali, seakan besok akan berjalan seperti biasanya.

Tanggal 27 Mei pukul 4-6
Adzan Subuh sudah dikumandangkan. Kita solat berjamaah dalam aula. Sekali lagi, khusyuk sekali pagi itu. Aktivitas dilanjutkan dengan tilawah dan al'ma'tsurat-an. Menjelang fajar terbit, beberapa akhwat udah mulai menggelar alat-alat masak, ikhwan-ikhwannya mencari kayu untuk dibakar. Beberapa panitia ikhwan yang semalam nggak tidur untuk berjaga-jaga, istirahat dalam tenda. Aktivitas kami terus berlangsung. Seorang ikhwan turun ke bawah untuk buang air ke rumah salah seorang warga, seorang lagi turun gunung menjemput pembicara. Saya sendiri sedang berdiskusi dengan teman.

Tiba-tiba bumi bergejolak. Saat itu TJ dan seorang teman diskusi yg sedari tadi bersandar di dinding aula, tiba-tiba terlempar, karena dinding aula benar-benar bergoyang seperti daun-daun ditiup angin. Semua akhwat yang lagi masak di teras spontan teriak-teriak lari dari teras aula.

Selang beberapa detik setelah kami semua lari ke tengah lapangan, semua genteng berjatuhan diikuti plafon dan eternit aula yang juga ikut berjatuhan. Subhanallah... kami masih diberi kesempatan hidup!! Mungkin 3-5 detik saja kami nggak pergi, tentu udah tertimpa.

Suasana tambah kacau saat aula terus berguncang dan tanah di lapangan retak terbelah dua! Sekali lagi, kami masih diberi kesempatan, nggak ada satu pun yang berada tepat di retakan tanah. Selama kurang lebih 1 menit, bumi berguncang. Kami panik. Selang 3 menit kemudian, bumi kembali berguncang. Gempa susulan dengan selang 1-10 menit terus menerus datang bahkan hingga sore hari pukul 17.

Seorang bapak tempat teman buang air tadi mendatangi kami seraya berkata, "kalau saja tadi masnya nggak bangunin kami sekeluarga minta diantar ke kamar kecil, tentunya kami sudah tewas tertimbun rumah kami yang roboh !!"

Tanggal 27 jam 7-11
Kita segera sepakat untuk menghentikan kegiatan. Setelah keadaan mulai tenang, semua makanan yang telah dimasak kami makan, kemudian bersiap turun gunung. Beberapa warga mendatangi kami, mereka bilang kalo rumah-rumah di bawah hancur total.

bersambung....duit habis n dateng panggilan untuk kembali berjuang.... afwan.

Comment:
Subhanallah. Saya makin terkejut saat mencari tahu letak bukit Mangunan yang dia maksud. Menurut google, bukit itu ada di Bantul—yang berarti saat gempa terjadi, teman saya yang satu ini persis ada di episentrum gempa! Terus, dengan mengingat besarnya gempa yang mencapai angka 5.9 skala Richter (ANTARA news), saya jadi bener-bener mengerti dengan perasaan gimana dia ngomong “Subhanallah... kami masih diberi kesempatan hidup!!”

Padahal UGM-nya sendiri agak jauh dari Bantul, dan menurut beberapa berita di detik.com, kerusakannya nggak parah. Paling cuma genteng yang berjatuhan atau bangunan yang retak. Makanya dengan asumsi seperti itu, waktu itu saya berharap semua teman-teman di Jogja baik-baik aja.

Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

4 Juni 2006

Labels: ,

0 Comments:

Post a Comment

<< Home