Delicate, Delightful, Delicious
~A Blog

Tuesday, August 05, 2008

Kampung Mandiri di Pinggiran Depok

“Di saat orang-orang baru membicarakan pentingnya go green lewat seminar-seminar, kami sudah lama mempraktekkannya.” Bertambah satu lagi tempat wisata Kota Depok setelah Masjid Kubah Emas: Kampung 99 Pepohonan.

Kedatangan saya dan keluarga disambut hangat oleh seorang wanita ramah di usia kepala tiga. Dia memerkenalkan diri sebagai Mbak Nia.

Sepintas memang tidak ada yang spesial dari kampung ini. Dari depan hanya tampak sebuah lapangan rumput yang luas, pepohonan jati yang rindang mengelilinginya, serta sebuah rumah kayu yang belakangan saya ketahui sebagai restoran dan musholla.

Hanya setelah Mbak Nia mengajak kami berjalan menyusuri jalan setapak dari rumah ke rumah di lahan seluas 5 hektar itulah saya baru bisa membayangkan betapa menariknya kehidupan 10 keluarga sanak saudara Mbak Nia di Kelurahan Meruyung itu.

Saya langsung terkesima. Konsep Kampung 99 Pepohonan yang lebih dikenal sebagai Kampung Rusa ini sebenarnya sederhana. Mereka membuat sebuah keluarga yang bisa memenuhi kebutuhan pangan sehari-harinya sendiri. Beras: mulai dari menanam padi hingga memanen mereka lakoni sendiri; susu: mereka punya sapi dan kambing yang diternakkan untuk diperah; sayur-mayur: ini pun mereka tanam sendiri. Karena memang semuanya diusahakan sendiri, tidak ada kata bahan pengawet dalam kamus mereka. Begitupun untuk pupuk dan pakan ikan, selalu kotoran hewan ternak yang mereka gunakan. Semua serba organik! Oh ya, dan tidak ada yang merokok di keluarga ini.

Diawali oleh satu keluarga yang ingin hidup dekat dengan alam, mereka kemudian membeli tanah di Meruyung, membangun rumah, dan mengembangkan lahan yang ada. Setelah merasa nyaman, mereka mengajak sanak saudara yang lain untuk juga pindah dan tinggal di situ.

Semua rumah berbahan dasar kayu. Lingkungannya dikonsep supaya tidak berpagar dan bisa menyatu dengan penduduk sekitar. Masing-masing rumah biasanya diberi “fungsi” masing-masing. “Ada rumah yang dijadikan pusat mencuci piring, pakaian; ada juga rumah yang dijadikan pusat memasak. Ini karena biasanya masing-masing penghuni rumah memiliki keahlian atau hobi tertentu. Sehingga, biar efektif, kami membuat sistemnya terpusat seperti itu,” jelas Mbak Nia.

Lebih jauh, Mbak Nia kemudian menunjukkan kandang hewan ternaknya. Ada rusa, sapi, dan kambing. Dari peternakan inilah mereka setiap harinya bisa memproduksi susu, mengolahnya menjadi yogurt, dan lain-lain. “Kami juga punya rencana untuk membeli sapi perah dari Australia. Tapi rupanya harganya mahal,” terangnya.

Yang juga menarik, tampaknya potensi SDM keluarga besar yang senang kedatangan tamu itu benar-benar dimanfaatkan dengan baik. Ada yang latar belakangnya ilmu pangan lulusan IPB, sehingga ilmunya langsung dipraktekkan dengan menghasilkan produk-produk seperti yogurt, cuka apel, dan sebagainya. Ada yang punya keahlian beternak ikan, makanya dibangunlah tambak ikan. Ikan patin, bawal, gurami adalah beberapa di antara yang diternakkan.

Memang tidak terlalu berlebihan kiranya jika Kampung Rusa ini disebut kampung yang mandiri. Kehidupannya sangat produktif, bukan konsumtif.

Benar, saya terkesima. Baru diajak berputar-putar sejenak saja saya sudah yakin bahwa Kampung 99 Pepohonan ini menyimpan potensi yang luar biasa untuk tempat pariwisata. Tapi bukan cuma pariwisata alam biasa, tapi lebih ke arah pariwisata pendidikan. Saya membayangkan anak-anak sekolah dibawa ke tempat ini untuk disuguhi kegiatan-kegiatan yang tidak pernah mereka temui sehari-hari di kehidupan anak kota: membajak sawah, menangkap ikan, memandikan kerbau, membuat cincau, membuat kue serabi, dan sebagainya.

Selepas berputar-putar di area 5 hektar itu, kami yang kembali ke area restoran disambut oleh seorang petugas Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dari Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya dengan senyumnya yang lebar. Sebutlah namanya Mas Satria.

Seperti saya yang terkesima pada Kampung Rusa, Pemkot Depok pun tampaknya demikian. Menjadikan Masjid Kubah Emas dan Kampung Rusa sebagai bagian dari objek wisata yang dijual, mereka terlihat cukup serius untuk memajukan sisi pariwisata Kota Depok dengan membuat pos-pos Tourist Information Center (TIC) di setiap kecamatan. Dalam hal ini Mas Satria lah yang ditugaskan untuk menjaga TIC Limo yang memang ditempatkan di area Kampung Rusa ini.

Sembari menunggu susu kambing dan yogurt diracik di dapur, Mas Satria menjadi teman ngobrol kami. Pengembangan sektor pariwisata Kota Depok menjadi topik yang diangkat.

“Konsepnya, kita pingin orang-orang yang pergi mengunjungi Masjid Kubah Emas akan mengunjungi tempat ini, lalu mengetahui informasi-informasi tentang tempat wisata lainnya di Kota Depok,” jelasnya panjang lebar. Tak lupa ia juga menunjukkan beberapa brosur pariwisata. Ada juga semacam buklet resmi dari Pemkot, serta peta Kota Depok beserta “tempat-tempat wisata andalan”.

Selesai mendengar penjelasan Mas Satria, saya berpikir. Rasanya masih butuh waktu yang lama sampai tempat-tempat wisata di Depok bisa dikunjungi dengan nyaman oleh para wisatawan. Alasannya sederhana saja: akses ke tempat wisata andalan masih sangat buruk.

Kampung Rusa dan Masjid Kubah Emas adalah contoh riil. Bagi orang Depok kebanyakan, kemacetan yang mereka alami sepanjang Raya Sawangan dan Limo bisa jadi sangat menjengkelkan sehingga mengurungkan niat mereka mengunjungi Masjid Kubah Emas. Fly over di Jalan Arif Rahman Hakim memang sangat membantu, tapi tidak berpengaruh pada macet di Jalan Dewi Sartika. Jalan Limo Raya juga terkenal kurang lebar padahal ini adalah jalur utama akses menuju Masjid Kubah Emas dan Kampung Rusa. Jika ada bus besar rombongan pariwisata—kini semakin sering lewat— tidak jarang arus lalu lintas menjadi tersendat.

Akses dari Cinere pun setali tiga uang. Ruas Jalan Limo Raya dari perbatasan Depok-Jakarta sampai dengan wilayah SMA 6 Depok sudah rusak parah di beberapa titik. Jalan yang berlubang memaksa mobil untuk berjalan melambat dan menciptakan antrian panjang kendaraan.

Mas Satria saya perhatikan merogoh sakunya. Sebatang rokok kemudian dihisap pelan-pelan. Saya hanya tersenyum dan membatin, “Rupanya semua hal di Kampung Rusa alami kecuali ini.”

Singapore,
Sabtu, 2 Agustus 2008

Tautan:
Membangun Surga di Meruyung
Blog Kampung 99
Teduhnya Kampung 99 Pepohonan

Labels: ,

21 Comments:

  • pertamax=p

    By Blogger BiPu, at 11:21 PM, August 05, 2008  

  • sepertinya sebuah kampung yg menarik..
    ,
    aniwey,saya kurang ngerti sama kalimat terakhir artikelnya..hhe

    By Blogger Ecky A., at 7:57 PM, August 06, 2008  

  • Rokok ga alami =)

    By Blogger BiPu, at 10:38 AM, August 07, 2008  

  • @ecky & bipu: iya, maksudnya rokoknya ngerusak suasana yang ada :)

    By Blogger Radon Dhelika, at 3:37 PM, August 09, 2008  

  • Wheew, saya jadi pengen maen ke kampung rusa,
    btw masuknya bayar tidak ya?
    klo mesjid kubah emas saya sudah pernah mengunjunginya, dan benar-benar sulit untuk kesana karena jalanannya hancur lebur, waktu itu saya pergi ke sana mengendarai motor, jadi bisa sampai ke sana. klo kampung rusa di sebelah mana-nya ya?

    By Blogger Muhamad Fajar, at 9:11 PM, August 10, 2008  

  • naek angkot apa kak kalo mau ke sana? kalo dari terminal.. makasi..

    By OpenID azkamadihah, at 12:16 AM, August 11, 2008  

  • @muhammad fajar: masuk ke Kampung Rusa gratis kok. Bayarnya kalo pingin makan atau minum di restorannya.
    Coba aja cari Jl. Mohasan di depan Masjid kubah emas. Kira-kira Kampung Rusanya 500 m dari situ kok. Paling enak emang naik motor. Soalnya masuk ke dalemnya agak jauh :)

    @azka: Naik D03 dari terminal, turun di pertigaan Parung Bingung. Terus lanjutin naik angkot yang ke arah Cinere. Hmm, 102? Agak lupa euy nomornya.

    By Blogger Radon Dhelika, at 9:14 AM, August 11, 2008  

  • farahchantique:
    udah sering maen ke limo ko kuw nggak tau ya ada kampung ini? serius ini organik semua? ngejual hasil pangannya nggak? soalnya kuw lagi nyari sumber makanan organik yang deket dari depok.... kalo nggak ngejual, sayang banget ya....

    oya, restorannya apa aja menunya? duh... tertarik... tertarik...

    btw, di sebelah mananya siy Don? kalo naek 110 (bener nggak ya naek 110), sebelum atau sesudah sman 6 depok?

    (ps: nemu aja kamu yang beginian.... hobi menjelajah ya....? hehehehe
    udah lulus blum...?)

    By Blogger - green _ jewel -, at 1:24 PM, August 11, 2008  

  • @farah: katanya sih organik :)
    Mereka cuma jual beberapa barang jadi aja sih: roti, susu kambing, yogurt, cuka apel, kue serabi, dll.
    Menu restoran sila cek sendiri ntar pas udah di sana, hehe.
    110 tu angkot mana? Pokoknya kalo dari Parung Bingung sih sebelum SMA 6 lah. Persis di depannya Masjid kubah emas kok.

    By Blogger Radon Dhelika, at 2:27 PM, August 11, 2008  

  • ikut ngejawab on behalf : udah lulus tu =)

    By Blogger BiPu, at 3:00 PM, August 11, 2008  

  • ooo...bukan angkot 110 ya... D110 tuw yang arah depok-cinere. tapi lupa lewat sman 6 apa nggak. biasanya kesana naek motor siy...

    masa menu aja nggak dikasih.... tapi, kalo organik siy... jadi niat dateng beneran kow... (lagi suka sama yang organik-organik gitu. malah lagi mikir mau buat kebun sendiri, tapi nggak ada waktu dan nggak tahu caranya, hehehe...)

    ooo... udah lulus ya... selamat ya... soalnya yang di depok juga banyak yang mau wisuda jumat ni....

    By Blogger - green _ jewel -, at 3:27 PM, August 11, 2008  

  • emang bagus banget Kampung Rusa, baru aja beberapa hari yang lalu kesana, soalnya sekarang dapet tugas jadi duta kota depok, akhirnya berkeliling lah kesetiap penjuru kota.
    btw, denger2 udah mau lulus ya kak?kapan wisuda?Congratz!!

    By Blogger Martha-Happy, at 8:53 PM, August 11, 2008  

  • @martha: selamet ya jadi duta Depok :)
    @martha & farah: sebenernya udah lulus n wisuda sih. Thanks.

    By Blogger Radon Dhelika, at 1:36 PM, August 12, 2008  

  • Mohon Doa Restu dan Dukungan. Kami Rumah Autis Yayasan Cahaya keluarga Kita (YCKK), Lembaga Nirlaba yang bergerak di dalam menangani terapi anak-anak autis dhuafa akan membuka cabang di Kota Depok pada Bulan Januari 2009. kunjungi Rumah Autis Depok

    By Blogger RUMAH AUTIS DEPOK, at 2:18 PM, September 26, 2008  

  • boleh dong belajar.

    By Anonymous Anonymous, at 8:46 PM, July 17, 2009  

  • kok kayaknya kampung itu enak sekali buat ngilangin stres, apalagi kl misalnya dikelola dan dipromosikan scr baik mk ga menutup kemungkinan bs jd obyek wisata baru.

    salam.
    stop dreaming start action

    By Blogger luckyjo, at 9:57 PM, August 22, 2009  

  • Makasih banyak informasi wisatanya. Ikut kampanye mari Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang ya :)

    By Blogger Hakimtea, at 2:21 PM, September 24, 2009  

  • Salam Blogger Indonesia, blogwalking ya... dan sukses selalu untuk Anda!
    jabat tangan erat salam penuh damai!

    Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang

    By Blogger Agus Amar Mizwar, at 11:55 AM, September 25, 2009  

  • Klo mau masuk byr gak?
    klo iy, byrnya brp?

    By Anonymous Clara, at 3:08 PM, May 04, 2010  

  • jadi pengen nyoba kesana, makasih ya infonya.

    By Anonymous rio, at 3:07 PM, March 15, 2011  

  • https://www.blogger.com/comment.g?blogID=29228175&postID=2094345544117260222&page=1&token=1405250030115

    By Anonymous zaskia, at 7:14 PM, July 13, 2014  

Post a Comment

<< Home