Terima Kasih, Bo!

Kalau Superman memakai kaos yang bertuliskan huruf “S”, kenapa Batman nggak memakai yang bertuliskan “B”? Soalnya sudah dipakai sama Bobo.
Dua pekan lalu saya merogoh kocek 8.500 Rupiah untuk sebuah nostalgia. Dengan penuh harap untuk mengenang kembali masa-masa kecil dulu, satu demi satu lembar halaman majalah yang kini semuanya sudah berwarna itu saya balik.
Tapi memang benar ini adalah nostalgia. Karena pertemuan saya dengan majalah Bobo kali ini seperti laiknya pertemuan saya dengan seorang sahabat yang sudah tidak bersua lima tahun.
Dan benar saja, hampir setengah jam ke depan, tanpa saya sadari senyum saya mengembang sembari melihat halaman-halaman majalah Bobo edisi 26 Juni 2008. Banyak emosi yang luber, tercurah kepada sahabat saya itu.
Tidak banyak yang berubah. Pertama saya mengamati sampulnya. Memang ilustrasi tokoh Bobonya sedikit berubah—bisa jadi karena ilustratornya berubah juga—tapi citra dan logo Bobonya tetap sama. Berada di pojok kiri atas, berwarna-warni dengan slogan Teman Bermain dan Belajar yang ditempatkan tepat di bawahnya. Tampaknya branding inilah yang terbukti selalu melekat dalam ingatan saya dan ribuan—atau bahkan jutaan—anak Indonesia lainnya, sehingga diletakkan di mana pun di rak penjaja majalah di pinggir jalan, saya dulu tidak pernah gagal untuk menemukan majalah yang sudah berumur 35 tahun ini.
Branding Bobo memang luar biasa. Bisa jadi, seperti saya, Anda pun masih terngiang jingle Bobo yang sempat secara berkala muncul sebagai iklan di TV. Bobo// teman bermain dan belajar// Be-o-be-o/ Bobo!// Asyik lo, kalau di rumah ada Bobo ...
Berikutnya sejenak saya mengamati 2 halaman rubrik Apa Kabar, Bo? Banyak pertanyaan-pertanyaan dari anak-anak yang kalau saya yang sudah akan menginjak usia 22 tahun ini membacanya, mau tidak mau akan terpaksa tersenyum. Kata salah satu surat yang dimuat, “Bo, bagaimana caranya kalau mau dapat sahabat pena?” Redaksi Bobo dengan sabar menyarankan sang penanya untuk mencoba mengirimkan surat ke beberapa nama anak yang juga mengirim surat ke Bobo.
Beberapa halaman dari rubrik Apa Kabar, Bo? saya temukan rubrik Arena Kecil. Senyum saya semakin mengembang sembari mengikuti kisah seorang anak yang diajak tantenya pergi ke kebun binatang.
Beberapa menit berikutnya saya habiskan untuk mengikuti kisah-kisah di rubrik Cerpen dan Dongeng. Ada dua cerpen dan satu dongeng untuk edisi kali ini. Saya berharap menemukan penulis favorit saya dulu, seperti Ny. Widya Suwarna (saya termasuk yang banyak dihibur dan dididik dengan kisah-kisah beliau), Benny Ramdhani, atau Kemala P., tapi rupanya tidak saya temukan di edisi itu. Entah barangkali mereka semua sudah tidak menulis cerita anak-anak lagi, dan kini diganti nama-nama baru. Tapi yang jelas nama-nama tadi begitu lekat di memori saya dan banyak membantu memercikkan semangat saya untuk belajar menulis-nulis cerpen atau dongeng sejak SMP.
Dan—ya, saya jadi teringat rubrik Sayembara Bobo dan Uji Imajinasi! Memang, dibandingkan cerpen dan dongeng yang hanya sesekali saya buat dan saya kirim, kedua rubrik itulah yang lebih banyak memaksa saya mengayuh sepeda dari rumah menuju kantor pos untuk mengirim kartu pos-kartu pos berisi jawaban TTS, dan lainnya. Saya masih ingat menggunting kupon TTS dan UI, melekatkannya pada kartu pos, menulis jawaban di lembar belakangnya, dan memasukkannya bersama kartu pos untuk teka-teki lainnya sekaligus ke dalam amplop sebelum melekatkan perangko 300 Rupiah dan memberikannya ke loket di Kantor Pos. Masa-masa itu adalah saat saya masih SD dan SMP.
Selesai mengamati Sayembara Bobo (ah, ke mana perginya Sayembara Bibi Titi Teliti?), langsung saya ikuti cerita-cerita bergambar khas majalah Bobo: Ceritera dari Negeri Dongeng dengan Oki dan Nirmalanya; Paman Kikuk, Husin, dan Asta; Bona, Gajah Kecil Berbelalai Panjang; dan tentu saja Bobo dengan Bapak, Emak, Upik, Coreng, dan lainnya.
Komentar saya cuma satu: Kok tidak kehabisan cerita ya? Memang dulu saya juga pernah membatin serupa ketika SMP, tapi kini ketika melihat cerita-cerita itu masih bertahan, kekaguman saya semakin bertambah.
Secara santai saya mengikuti kisah paman Kikuk yang diceritakan sedang berwaspada terhadap copet di tempat umum. Ketika di jalan, ketika di bus, ketika di kereta, sikapnya selalu siaga. Lirik kiri-kanan, sampai akhirnya kondektur yang mencolek bahunya pun dibanting. Keluarga Bobo, di halaman yang lain, diceritakan sedang merencanakan mengadakan konser musik.
Tokoh-tokoh rekaan tadi semua adalah bagian yang tak terpisahkan dari majalah Bobo. Mereka semua membentuk cerita, menyampaikan pelajaran, dan membentuk branding Bobo.
Bahkan, kalau menurut saya, “ketokohan” Bobo, Bona, Nirmala, dan Oki sudah bisa disamakan dengan Donal Bebek—tentu saja di level nasional. Sehingga, saya bisa bilang bahwa bila Disney punya Donal Bebek dan Miki Tikus, dan Jepang punya Doraemon; Indonesia punya Bobo dan kawan-kawan. Dan tampaknya pengembangan tokoh-tokoh Bobo dikerjakan dengan serius oleh majalah Bobo dengan program-program seperti Operet Bobo, Bobo Fair, Sanggar Bobo, dan lainnya. Ekstensi produk dengan peluncuran majalah Kreatif (Bona dan Rongrong), majalah Oki-Nirmala juga menjadi salah satu cara.
Cukup banyak ilmu dan inspirasi yang saya dapatkan dari membaca Bobo selama ini. Dari membaca satu edisi itu saja, saya jadi tahu bahwa bola mata manusia tidak pernah bertambah besar sejak kita lahir. Dan konon katanya kita selalu menutup mata ketika bersin. Dari membaca cerpen dan dongengnya, kembali saya bersemangat untuk menulis. Dan tentu saja inspirasi untuk menulis tulisan ini datangnya dari membaca Bobo.
Untuk sahabat yang telah menemani saya bermain dan belajar sejak paruh kedua SD hingga awal SMA, saya ucapkan terima kasih yang tulus.
Terima kasih, Bo!
Singapore,
Senin, 7 Juli 2008
NB: Gimana kalau Bobo bikin rubrik Terima Kasih, Bo!? Isinya tentang kesan-kesan pembaca “seniornya”. Kelihatannya menarik :)
Tautan:
Belajar inflasi lewat galeri Bobo (wajib buka)
Cerpen lainnya oleh Ny. Widya Suwarna: Tiga Hati Penuh Kasih, Tersinggung Pada Kuda
Bobo menemani dua generasi
Website Bobo (kenapa tidak membuat domain sendiri?)
Sumber gambar:
Paper: Majalah Bobo, esnips.com (terima kasih untuk Tomi Ngalusi dan Brahmastagi)
25 Comments:
Hmm tahu tidak kalau tahun 1800, 1900, 2100 bukan tahun kabisat. Bukan tahu dari Bobo sih.
Sayang yah, Bobo itu asalnya bukan dari Indonesia, tapi dari Belanda. Silakan dilihat dari sini :
http://id.wikipedia.org/wiki/Bobo
http://www.bobo.nl/
By
BiPu, at 11:13 PM, July 08, 2008
@bipu: Kayaknya pernah tahu deh.
Iya, Bobo Belanda mirip sama tokohnya majalah Bobo Junior.
By
Radon Dhelika, at 8:16 PM, July 09, 2008
Dakara... it's not quite same to compare Bobo (walaupun nasional level) dengan Donald/Mickey-nya Disney, or Doraemon-nya Jepang - to omounda.
1. Bobo bukan dilahirkan di Indonesia.
2. Merchandise Bobo tidak se'grand' merchandisenya Disney atau Doraemon.
3. Tidak semua anak-anak sekarang kenal dengan Bobo.
Anyway, ada satu tokoh/cerita yang kusuka dari Bobo, "Pak Janggut dan Buntelan Ajaib", ya masih mirip-mirip dengan Doraemon. Dan ternyata setelah dicari di google, ada websitenya, cukup lengkap komiknya, sangat bagus, terutama untuk yang ingin bernostalgia.
http://www.pakjanggut.web.id/
Just a thought.
By
Unknown, at 4:06 PM, July 10, 2008
akhirnya diupdate jg nih bang?hhe,
bobo y,,kisah bona dan rong-rong salah satu favorit saya dmajalah itu tuh,,paman kikuk juga,
oh,bobo dari Belanda tho?bobo=tidur juga gk disana?hhe,
be-o,be-o,bo-bo..:P
By
Ecky A., at 8:59 PM, July 12, 2008
@bipu: ya,namanya juga ide. Toh lisensinya udah dapet dari Belanda. Kan bisa aja Bobo "dibesarin", tapi konteksnya lokal Indonesia aja.
@ecky: iya nih, setelah sekian lama baru di-update. Makasih udah nunggu dengan setia :)
By
Radon Dhelika, at 7:07 PM, July 15, 2008
haiyah...telat deh ~_~
By
Anonymous, at 8:12 PM, July 15, 2008
saya sejak SD sampe sekarang masih langganan. ^^
By
Azka Madihah, at 8:48 PM, July 15, 2008
@tutu: Ya gpp lah ...
@azkaa: dari SD ya?? Keren banget ... Berarti ngerasain perubahan harga Bobo dari 2000an sampe sekarang 8500 dong ya.
By
Radon Dhelika, at 7:02 PM, July 17, 2008
wah..jadi kangen baca majalah bobo lagi...dulu gw juga suka banget baca bobo..ga cuma puas dengan berlangganan majalah bobo terbaru,,,tapi juga suka cari majalah bobo lama di daerah Pasar Minggu...
ada beberapa artikel di majalah bobo yang bakal gw lupain karena menurut gw bagus bgt, yaitu artikel tentang tenggelamnya kapal titanic misteri benua atlantis, dan segitiga bermuda...
By
Unknown, at 2:27 PM, July 29, 2008
@dian: haha, iya nih, kayaknya inget deh pernah ada artikel tentang Titanic sama Atlantis ...
By
Radon Dhelika, at 6:43 PM, July 31, 2008
be-o-be-o bobo...
aku jadi inget langganan bobo dari masih TK, dulu sih buat ngelancarin belajar baca.
dulu bobo suka ngasih hadiah yang cukup mendidik tuh, kayak biji bayam, biji timun, biar pembcanya anak2 yang lugu itu pada belajar nanam ya...ini majalah emang mendidik banget
By
Martha-Happy, at 11:01 PM, August 06, 2008
@martha: biji-bijian ya ... Hmm, FYI, pernah ada cerita Bobo ngasih bonus biji jarak. Terus ada anak 6 tahun yang menyangka itu makanan. Alhasil, anaknya jadi muntah-muntah dan sakit.
Bisa dibaca di http://lita.inirumahku.com/general/lita/keluhan-untuk-bobo/
By
Radon Dhelika, at 3:41 PM, August 09, 2008
Karena kakak dulu langganan bobo juga saat sd, dan saya dari sd hingga smp ngikutin, klo gak salah tuh dari 1500 (apa 1200 ya) sampe level 6000an deh dulu...
Mantep deh majalah Bobo. :D
*masih nyimpen bundelannya klo gak salah ada 40-50 edisi yg dibundel*
By
phy, at 10:17 PM, August 14, 2008
Saya juga penggemar majalah Bobo sewaktu usia SD. pertama kali baca Bobo umur 6 tahun, waktu itu saya sangat curious melihat kotak kardus berisi majalah bekas punya tante, saat saya bongkar saya melihat ada banyak majalah bergambar kartun kelinci yang sangat menarik perhatian. Mulanya saya cuma baca komik stripnya yang bagus (maklum baru bisa baca). Makin lama makin lancar membaca sehingga saya sudah bisa membaca isi majalah Bobo, dari arena kecil, bobosiana hingga cergam pak janggut. Banyak juga dongeng Bobo yang membekas di hati saya seperti gadis yang memelihara ikan mas dan selalu menyisakan nasinya untuk si ikan mas, ketika ibu tirinya tau, ikan mas itu dimakannya, karena sedih si gadis mengubur tulang2 ikan mas itu dan keesokan harinya tumbuh pohon emas yang berdaun dan berbuah emas juga! (ajaib ya??). lalu selembar daun emas itu terbang tertiup angin hingga ke kerajaan seberang, daun emas ditemukan seorang pangeran dan membawa sang pangeran menemui si gadis pemilik pohon emas, merekapun bertemu dan saling jatuh cinta, mereka menikah dan hidup bahagia selamanya (fairy tale Indonesia ya?). Dongeng ini sering diadaptasi dalam sinetron indonesia dan saya cuma bergumam..ini kan dongeng dari Bobo? Saat umur 12 tahun harga Bobo masih 900 perak, saya beli dari uang saku seminggu!
By
Joko Suwono, at 5:33 PM, September 15, 2008
@Joko Suwono: thanks for sharing. Salam kenal :)
By
Radon Dhelika, at 5:57 PM, September 17, 2008
Hwahahaha.....Perlu ditambah tumas bhro kapasitas listrikdi rumahmu...sh
By
Anonymous, at 10:17 AM, October 30, 2008
Jd inget masa kecil dulu. Aku jg cinta Bobo...
Ttg asal usul majalah Bobo itu gak usah dipermasalahkan. Emang bener kok dari Belanda, tp gak usah dipanjang x lebar ya!!
Setuju bgt kalo tokoh Bobo tuh versi kartun anak Walt Disney edisi lokal.
Btw, kuliah di Nanyang ya Bang?e
By
Anonymous, at 4:44 AM, November 08, 2008
Thank bgt mas bwt cerpen2nya Ny.Widya suwarna,beneran keren bgt tuh ibu. Cerpen2 ny dikenal coz pemainnya nggak ganti ganti.ada pak awang guru bahasa indonesia,ada lala,badu,fuad.trus cerpennya itu selalu bikin pinter.
Kebanyakan pengarang langganan bobo jaman itu,kek kemala P,Herviana A.Hiska n fahri aziza(yg ngarang cerpen detektif 'tineke') sekarang udah jd pengarang tenar.buku2ny udah banyak dijual.
Oh ya salam kenal yak.nice blog :D
By
Anonymous, at 9:51 AM, January 05, 2009
suka sekali dengan BOBO..
saya langganan dari kelas 1 sd ampe 3 smp..
dulu ada cerbung judulnya 'si kembar dan makhluk mineractus'
digoogling tapi gak ktemu..
sayang bgt anak2 skrng jarang yg baca bobo..
padahal bobo itu paling ideal buat bacaan anak2..
sedikit banyak Bobo telah sangat berjasa membentuk saya hingga jadi saya yang sekarang..
nice blog.. n_n
By
Dea Amelia, at 12:03 AM, October 20, 2009
Saya suka salah satu cerpen bobo.. kalo tidak salah judulnya "mengecat", pengarangnya Radon Dhelika.. :)
By
Tyas, at 11:02 AM, October 29, 2009
sudah lama gak baca bobo....dulu waktu sd, sering langganan....
lebih suka cerita tentang si gajah yg warna pink dengan temannya si kucing (lupa namanya)
By
Indoproperty Bsd, at 2:15 PM, November 02, 2009
aku nggak pengin breakin your heart, tetapi cerita Widya Suwarna ttg gadis pembersih itu adalah tulisan asli milik Enyd Blyton. I love Widya Suwarna too, but no body's perfect. barangkali dia lagi lupa kalau itu bukan tokoh ciptaannya...
By
Yuniar Khairani , at 11:14 AM, December 08, 2009
aku nggak pengin breakin your heart, tetapi cerita Widya Suwarna ttg gadis pembersih itu adalah tulisan asli milik Enyd Blyton. I love Widya Suwarna too, but no body's perfect. barangkali dia lagi lupa kalau itu bukan tokoh ciptaannya...
By
Yuniar Khairani , at 11:14 AM, December 08, 2009
wah bobo sinh majalh gw banget waktu kecil....
masih inget dulu aku bela-belain ampe ga jajan buat beli bobo, hehe...
wah jadi ingat nostalgia jaman dulu kalo ingat bobo, sekarang sih yang beli gantian anak gw, .....
By
FRESHMEDIA, at 4:36 PM, January 15, 2010
Kyaaaaa arigatouu gozaimasu, terimakasihh bangetttt, artikel anda membuka kembali kenangan masa kecil yg sempat saya tidak ingat lagi, jdi kangennn, mungkin saya kelambatan baca artikel ini.. Engga sabar berbagi kisah majalah yg menemani dari generasi ke generasi bersama anak-anak dijaman masa kini..
By
Unknown, at 10:26 PM, January 18, 2016
Post a Comment
<< Home