Agar “Sistem Pencernaan” Sehat: Menulis

Charles Dickens yang terkenal dengan Oliver Twist-nya ternyata hanya menghabiskan 4 jam sehari untuk menulis. Dia hanya menulis antara waktu sarapan sampai waktu makan siang. Sisanya dihabiskan untuk apa? Rupanya dia lebih memilih menikmati 2 jam untuk berjalan-jalan menyusuri jalanan kota London, mengamati banyak hal. Fakta bahwa dia menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan selama setengah dari waktu yang dia alokasikan untuk menulis menjadi menarik buat kita.
John Maynard Keynes, ekonom kenamaan, juga hanya menghabiskan 4 jam sehari—terkadang hanya 2 jam—untuk menulis.
Graham Greene yang seumur hidupnya menghasilkan 26 novel—ditambah cerita-cerita pendek, naskah film, naskah drama, dan lain-lain—malah hanya mengalokasikan 2 jam sehari, dari jam 7 sampai 9 pagi. Selama 2 jam itu dia bisa menulis hingga 900 kata.
Penulis kontemporer semacam J.K. Rowling konon katanya menghabiskan sampai 8 jam sehari untuk menulis buku keenamnya, Harry Potter and the Half-Blood Prince.
Barangkali karena tuntutan persaingan yang semakin ketat yang membuat penulis-penulis zaman sekarang menghabiskan lebih banyak waktu untuk menulis dibandingkan rekan-rekannya di masa lalu.
Jadi, pertanyaannya: mengapa sebagian besar penulis hanya menghabiskan sedikit sekali waktu mereka untuk menulis? Apa penjelasan rasionalnya?
Banyak yang menyebut menulis itu sebuah proses kreatif. Tidak lain karena menulis itu mirip dengan proses pencernaan. Pengibaratan ini cukup representatif dengan menitikberatkan pada input dan output. Dengan kata lain, seperti proses pencernaan, menulis juga membutuhkan input agar bisa menghasilkan output.
Dengan pengibaratan seperti ini, kita nggak terlalu heran mendapati Graham Greene atau Charles Dickens hanya menghabiskan waktu 2 sampai 4 jam sehari untuk menulis. Sisa waktunya dalam sehari jelas untuk mencari inspirasi. Charles Dickens melakukannya dengan jalan-jalan di kota London. H.C. Andersen melakukan perjalanan keliling Eropa untuk mendapatkan ide untuk cerita-ceritanya.
Dengan pengibaratan seperti ini juga, mustahil kalau kita mengharapkan output lebih banyak dari input. Nggak mungkin bagi penulis untuk menulis terus menerus tanpa mendapatkan input tambahan, entah dari membaca koran, buku fiksi, buku non fiksi; bertemu atau diskusi dengan orang baru; mengalami kejadian-kejadian atau pengalaman-pengalaman baru dan lainnya.
Yang juga menarik bila menulis disamakan dengan sistem pencernaan adalah kalau kita melihatnya dari sisi lain. Bagaimana kalau kasusnya adalah kebanyakan input tanpa output? Mungkin secara langsung kita bisa memprediksi akan terjadi penyakit pencernaan, apa pun itu. Berarti, orang yang terlalu banyak input, tapi nggak pernah mengusahakan input-inputnya menjadi karya-karya sebagai outputnya bisa disebut akan berpenyakit. Begitu logika sederhananya.
Berita buruknya, kita—termasuk saya—bisa jadi termasuk kelompok itu! Iya, betul sekali; sebagian besar dari kita termasuk kelompok orang-orang yang terlalu banyak input tapi minim output dalam masalah tulisan. Saya ingat omongan teman saya, “kita ini sebenanya sudah baca ratusan judul buku lo, dari kecil. Tapi kok sampai sekarang untuk menulis satu buku saja nggak bisa ya?”
Ratusan buku? Anda kurang setuju dengan teman saya? Mari kita korek memori kita. Sejak SD, walaupun buku pelajaran, kita sudah membaca banyak buku. Ambil contoh buku Matematika. Kalau dulu satu tahun kita baca satu buku Matematika, berarti sampai SMA kita sudah baca minimal 11 buku Matematika—bahkan tamat sampai latihan-latihan soalnya. Itu baru Matematika. Jangan lupakan juga Bahasa Indonesia, PPKn, Sejarah, Biologi, Fisika, Sosiologi, dan lainnya.
Selain buku-buku pelajaran, untuk saya pribadi, puluhan judul komik; puluhan buku petualangan anak-anak semacam Lima Sekawan, Trio Detektif, dan lainnya; puluhan novel; puluhan buku Islam termasuk Quran dan terjemahannya; puluhan buku non-fiksi lainnya; ratusan artikel yang tersebar di internet; dan masih banyak lagi akan saya masukkan ke dalam daftar buku atau bacaan yang pernah saya baca.
Dengan kata lain, banyak ide-ide yang sempat mampir di otak saya.
Dengan kenyataan seperti ini, omongan teman saya itu menjadi sangat tepat sasaran.
Padahal itu baru dari satu jenis input: buku. Belum lagi pengalaman-pengalaman hidup kita selama ini. Maka dengan begitu banyak input yang sudah kita serap selama ini, sangat nggak seimbang kalau outputnya hanya karangan-karangan setengah hati untuk tugas mengarang pelajaran Bahasa Indonesia selama di sekolah dulu. “Sistem pencernaan” kita akan bermasalah kalau begitu.
Baiklah, menulis buku memang nggak semudah membalikkan telapak tangan; banyak faktor di situ. Tapi di zaman sekarang ini, membuat blog sudah semudah mengangkat jari kita. Tinggal beberapa klik di mouse kita, dan bisa langsung jadi. Memulai menulis di blog bisa kita coba. Secara khusus tentang blog, Ikhlasul Amal bahkan sampai mengeluarkan ungkapan yang menarik: “Ikatlah ilmu dengan blog.”
Betul, blog bisa jadi salah satu penyemangat kita untuk bisa menyeimbangkan input dengan output.
Singapore,
Selasa, 22 Mei 2007
"Ikatlah Ilmu dengan Blog", oleh Ikhlasul Amal
12 Comments:
*sigh* I have a writing deadline to catch, *bisa gak yah?*
Ga bisa ngebayangin dulu ngabisin berjam2 selama jam pelajaran buat bikin 'komik' dengan mudah, sekarang udah 'merenung' berhari-haripun satu halaman gak kelar2.
Kreatif itu memang perlu, tapi inspirasi, kadang tidak semudah itu datangnya :( I need my muse...
By
BiPu, at 7:15 AM, May 23, 2007
apranum>>
Ya udah deh, selamat mencari inspirasi :)
By
Radon Dhelika, at 12:07 PM, May 24, 2007
giliran inspirasi dapet... tl nya kayak gitu... *oh nasib*
'apakah semua ini mustahil'
By
BiPu, at 6:41 PM, May 24, 2007
Apakah ini Radon SMA 1 yg seangkatan sama Kiki Tsalatsita?
By
ikram, at 7:00 AM, May 29, 2007
ikram>>
Benar sekali, Mas :)
By
Radon Dhelika, at 2:06 PM, May 29, 2007
やっと終わる(barely),きみのお蔭様で
何時もの通りにいろいろな事ありがとうよ
By
BiPu, at 9:41 AM, June 01, 2007
perumpamaan yang menarik tentang menulis... Keep writing radon.
:-)
By
Herry -- HgS, at 4:24 PM, June 06, 2007
farah suraya
he....pakabar pak? masih ingat sama saya? teman jaman sma dulu...
bacaan yang menarik, soal menulis itu. jadi inget, dulu sempet punya keinginan jadi penulis, yah, paling nggak novelis de... tapi, yang tersisa sekarang cuma tulisan-tulisan setengah jadi yang nggak tau bisa selesai pa nggak....
pas liat tulisan ini, jadi semangat lagi deh..........
m(n_n)m
By
chantique, at 12:29 AM, June 15, 2007
herry>>
Makasih. Keep writing juga ya. Jangan sampe karena udah selesai IA jadi berhenti nulis :)
Farah>>
Hoo, Bu (calon) dokter ngeblog juga ya ... Tapi mana nih, baru 2 post :)
By
Radon Dhelika, at 5:08 PM, June 20, 2007
This comment has been removed by the author.
By
Ecky A., at 4:58 PM, February 04, 2008
kalo nyari inspirasi lewat blog gmana?
bloginspire..:),hheh
By
Ecky A., at 5:02 PM, February 04, 2008
hehehe.. bener banget, pas ada bahan tulisan, baru deh di tulis. jadi gak sengaja pengen bikin sebuah tulisan. kalo sengaja pengen bikin tulisan biasanya (ngedadak dan perlu mikir panjang supaya pas) :)
sama seperti saya, nulis pas ada bahan dan berusaha menjadikan semua yang kita lalui jadi sebuah tulisan.. :D
alah.. sok iye kaya penulis aja ya :D
padahal mah pengcopy-paste, wkwkwkwkwk..
lam kenal buat empunya blog ^_^
By
Andy Online, at 7:26 PM, July 11, 2011
Post a Comment
<< Home