Delicate, Delightful, Delicious
~A Blog

Wednesday, April 11, 2007

Renungan Sepanjang Jalan (Bag 2)
The Beauty Within: Akhlak

Kira-kira sebulan lalu, sebuah iklan di Mobile TV menarik perhatian saya. Iklan Dove yang saya maksud. Campaign for the real beauty, katanya. Selalu dalam 20 menit perjalanan bus 179 dari Hall 7 sampai stasiun MRT Boon Lay, saya menonton iklan itu 2 sampai 3 kali—selama kurang lebih sebulan!

Iklannya sederhana, kalau boleh jujur. Hanya memperlihatkan gambar beberapa anak perempuan yang berganti-ganti sepanjang iklan itu. Ada yang bermata sipit, berambut ikal, berkulit kemerahan—mungkin nggak terlalu mulus. Intinya, mereka semua nggak suka dengan penampilan mereka masing-masing. Ah, andaikan kulit saya lebih putih. Ah, coba rambut ini nggak seikal ini. Ah, kalau saja mata saya agak lebar sedikit, dan seterusnya. Mungkin hal-hal seperti itu yang sedang dipikirkan oleh gadis-gadis di iklan itu. Iklannya sendiri dibalut oleh lagu True Colors-nya Phil Collins yang dinyanyikan oleh orang yang beda.

And I’ll see your true colors
Shining through
I see your true colors
And that’s why I love you
So don’t be afraid to let them show
You’re beautiful, like a rainbow

Sekarang saya di MRT dan iklan tersebut membuat saya berpikir: sebenarnya apa pesan iklan itu? Terus terang, untuk iklan ini, saya rela mengacungkan jempol. Sederhana, dengan musik yang pas, dan pesannya cukup jelas. Menurut saya, ini sebuah iklan yang ingin mengampanyekan cantik yang sesungguhnya, “the real beauty”.

Di papan reklame yang cukup besar di stasiun Boon Lay, Dove juga memasang poster kampanye mereka. Tulisnya, “1 in 5 teenage girls consider plastic surgery.” Bisa jadi ini salah satu fakta yang menjadi latar belakang kampanye Dove.

Kalau dipikir-pikir, 1 dari 5 gadis remaja itu bukan angka yang sedikit. Kalau dulu di satu kelas di SMA ada 40 orang dengan 20 perempuan, berarti ada 4 orang di kelas saya dulu yang ingin operasi plastik!

Memang statistik nggak selamanya akurat dan representatif, tapi saya percaya statistik bisa kita gunakan untuk gambaran bagi kita. Sebentar, kalau begitu, ada berapa wanita di gerbong kereta yang sekarang saya naiki yang membayangkan operasi plastik? Saya lihat sekeliling. Hmm, saya estimasi ada sekitar 50 lebih wanita di gerbong saya. Semuanya kebanyakan antara 20-35 tahun; karyawan yang menuju kantornya masing-masing. Lalu, siapakah kira-kira 10 orang yang disebut statistik itu? Waduh, kok malah jadi ke mana-mana mikirnya.

Bicara tentang hal itu, saya jadi ingat berita seorang model Brazil yang meninggal karena anorexia. Entah kapan, saya lupa persisnya. Model itu meninggal karena diet super ketat, ingin terlihat kurus agar bisa bersaing di kancah permodelan.

Astaghfirullah. Bagi saya—maaf—meninggal seperti itu agak konyol. Termasuk 1 dari 5 gadis remaja yang ingin operasi plastik itu juga konyol. Memang, bisa jadi mereka nggak salah, karena yang salah adalah media. Karena medialah yang mendefinisikan kata “cantik”. Nah, sekarang mari bantu saya menyebut definisi cantik menurut media. Kulit putih, rambut lurus, langsing (kurus)? Lalu, apa lagi?

Wah, benar-benar repot kalau seandainya semua orang menyibukkan diri dengan nanti ke kampus pakai apa ya? Atau wah, dia lebih putih dari aku kulitnya, atau lainnya. Padahal, lebih baik menjatah energi seperti itu untuk hal-hal lain. Padahal, banyak orang di belahan bumi lain yang bahkan memiliki baju satu stel pun sudah satu kemewahan bagi mereka. Padahal, cantik fisik nggak abadi. Ibu saya saja selalu mengingatkan, “kalau kamu nyari perempuan yang cantik fisik, itu nggak akan lama. Nanti umur 30-an juga sudah bosan.”

Jadi, begitulah. Saya nggak tahu kampanye Dove lebih mengarah ke mana, tapi itu yang berhasil saya tangkap; tentang inner beauty—dalam hal ini akhlak, mungkin. Juga tentang self-confidence. Wanita harus percaya diri sama penampilannya.

MRT sudah sampai di Raffles Place. Saatnya turun dan pindah kereta. Karena kantor saya di Orchard, begitulah rutinitas saya setiap pagi. Sambil menunggu kereta jalur merah, saya mengamati layar TV LCD di peron. Dan, bingo! Lagi-lagi iklan Dove yang muncul di situ. Lagi-lagi gambar gadis-gadis itu muncul silih berganti dengan lagu True Colors-nya. Saya hanya tersenyum mengamati 2 perempuan di sebelah saya mendengungkan lagu itu. Wah, wah, benar-benar sudah menjadi meme rupanya. Marketing yang hebat.

Sebenarnya, kalau boleh jujur, hal pertama yang terpikir oleh saya saat melihat iklan tersebut di Mobile TV adalah justru hal yang lain: jilbab. Lho, kenapa jilbab? Iyalah, jilbablah yang sebenarnya mengampanyekan the real beauty, the beauty within: akhlak.

Saya kutip dari buku “101 Alasan Mengapa Saya Pakai Jilbab”, banyak sekali alasan yang pada intinya mengatakan kalau dengan jilbab, nggak perlu lagi khawatir masalah penampilan. Sehingga, lebih banyak waktu, energi, semangat untuk konsentrasi ke hal lain: ikut pengajian, memerhatikan akhlak, mengkaji Quran, membaca buku, belajar, ikut di organisasi positif, dan lainnya. Itu hanya sedikit dari sekian banyak hikmah. Meskipun kita nggak akan pernah tahu mengapa Allah mewajibkan jilbab.

Saya teringat saat dulu kelas 1 SMA. Saat di awal tahun ajaran, hanya 2 orang di kelas saya yang berjilbab. Tapi, di akhir tahun ajaran, saat naik kelas 2, dari cuma 2 orang meningkat jadi 8 atau 9. Subhanallah. Itu baru kelas I-1. Belum kalau I-6 dan kelas-kelas lain ikut dihitung.

Buat Dove, saya merasa bahwa dari sekian banyak pengeluaran mereka untuk kampanye seperti itu, ada cara yang lebih efektif sebenarnya. Mereka sebaikya meminta akhwat alumni SMA 1 Depok 2000 atau 2001 untuk menjadi konsultan mereka :p. Baru dengan itu saya jamin tujuan mereka akan tercapai.

Saya menatap matahari pagi di Orchard yang hangat-hangat kuku. Sinarnya menembus pohon-pohon di pinggir jalan, membentuk pola bayangan daun-daun yang menarik. Sembari menutup sedikit pandangan mata saya karena silau, saya terus melangkah menuju kantor. Baiklah, hari baru, semangat baru.

Singapore,
Ahad, 8 April 2007

Bahan Bacaan:
Al-Quran, Surat An-Nur 30-31
101 Alasan Mengapa Saya Pakai Jilbab, Scribd
Research on Singapore teenage girls, Scribd

Labels: ,

11 Comments:

  • membesarkan titipanNya memang sebuah amanah yang tidak sederhana. apalagi anak perempuan dengan segala karakter khususnya yang perlu dihadapi trik tersendiri :) pada kenyataannya, saya percaya persentase responden remaja wanita Asia yang pondasi pola pikirnya terbentuk mulai dari rumah (mothers, kata Milward Brown) sesungguhnya jauh lebih tinggi dari 36%.

    jadi teringat, adik kecil saya (anak teman..) juga selalu bersenandung sambil tertawa geli kalau melihat iklan ini. entah apa yang lucu? :)

    sekalian mau tanya, scribd itu apakah? radon ngupload atau mencari referensi dari sana?

    By Anonymous dindapresanti, at 8:25 PM, April 11, 2007  

  • hmmm... klo gak salah cewek satunya pengen supaya gak gemuk deh, bukan pengen kulitnya putih. CMIIW :p

    By Anonymous nef, at 10:29 PM, April 11, 2007  

  • kak dinda memang kereeenn *_*

    By Blogger Gita Arimanda, at 12:45 AM, April 12, 2007  

  • dindapresanti>>
    Tulisan ini emang terlalu sederhana untuk jelasin dunia yang nggak sederhana itu. Jadi, maaf ya, aspek yang dibahas terlalu sempit. Apalagi ini dari kacamata laki-laki :)
    Scribd itu buat file sharing. Aku nemu bahannya di tempat lain, terus ngupload di situ, biar enak dibaca.

    nef>>
    Iya, bisa jadi Mas/Mbak nef yang bener. Saya soalnya lupa-lupa inget sih.

    By Blogger Radon Dhelika, at 10:42 AM, April 12, 2007  

  • saya bukan wanita berjilbab,tapi saya juga bukan wanita yang rela operasi plastika atau diet ketat cuma demi keliatan cantik,apalagi dress to kill ke kampus biar menarik pria2.
    menurut saya faktor dari pandangan laki2 saat ini yang lebih memilih pacar dengan cantik fisik dari pada akhlak juga yang bikin banyak cewek2 beranggapan "biar sengsara asal cantik/bisa menarik perhatian laki2".
    beberapa teman pria di kampus kalo saya amati memang seperti itu.

    By Blogger Martha-Happy, at 11:21 AM, April 13, 2007  

  • btw, maybe data stat itu accurate, tapi hanya untuk satu region tertentu. as if, baru dikasi tw di lect umum bahwa beberapa negara terhitung super terbuka untuk praktik operasi plastik.

    one of which is south korea.dsini mah memang ada satu avenue yang sepanjang jalan berderet klinik-klinik operasi plastik yang memungkinkan org meng-upgrade hidung dan bagian2 lain.

    fyi, anak usia 15/16 tahun (inisiasi koreans)akan minta hadiah berupa voucher operasi plastik di ultah mereka.

    CMIIW

    By Anonymous dina, at 12:09 PM, April 13, 2007  

  • Pernah ibu ngomong kayak gitu? Heee...

    By Blogger Iko, at 4:07 PM, April 14, 2007  

  • martha>>
    Iya, setuju banget.

    dina>>
    Thanks buat infonya. Mungkin statistik dari Dove itu untuk Singapore aja deh.

    iko>>
    Pernah, lagi ...

    By Blogger Radon Dhelika, at 10:46 AM, April 16, 2007  

  • Asw..

    bang radon p kbr?
    btw, ad bagian dr blog ini yg an quote buat blog an, gpp kan?hhe..jzk

    By Blogger EQ, at 4:28 PM, November 16, 2007  

  • wah lo baca juga buku "101 alasan mengapa saya pakai jilbab?" sama dunk..he2x..
    duh RadonQuw..gw bilangin ya..semua perempuan tuh di dalam relung hati yg paling dalam pasti ingin tampil cantik. tapi untuk ingin tampil cantik itu balik lagi ke albert einstein "RELATIVITAS". mungkin caranya aja yg salah dan ekstrim. coba klo caranya seperti tips di blog gw he2x.
    menurut gw media gak salah tuh..mereka hanya mengeluarkan produk untuk merawat
    penampilan perempuan. yg salah justru pemikiran orangnya..
    for JILBAB, the real beauty, the beauty within...gw setuju bgt. klo gw ceritain pengalaman
    gw sebelum dan sesudah pakai jilbab mgkin kepanjangan. intinya gw ngerasa perbedaan
    yg jauh bgt, contoh yg paling ekstrim bgt yaitu tipe cowo yg suka sama gw awalnya cowo2 metroseksual (tau kan?)eh pas pakai jilbab kebanyakan para ikhwan. intinya tampil cantik secara fisik itu perlu tuk perempuan dan di barengi dgn akhlak yg cantik pula.

    By Blogger knowvie, at 2:36 PM, September 10, 2008  

  • @knowvie: makasih udah cerita-cerita :) kayaknya cerita-cerita orang yang hijrah untuk berjilbab selalu inspiratif ...

    By Blogger Radon Dhelika, at 8:47 AM, September 18, 2008  

Post a Comment

<< Home