Delicate, Delightful, Delicious
~A Blog

Wednesday, January 03, 2007

7 Sapi dan 69 Kambing

7 sapi dan 69 kambing. Angka yang sangat melimpah sebagai jumlah sumbangan hewan kurban di sebuah kompleks perumahan di Depok, menurut saya. Dan memang dugaan saya nggak terlalu meleset. Saat membantu meracik daging-daging kurban di masjid kompleks, saya melihat sendiri orang-orang yang datang mengambil jatah daging mereka. Ada yang gelangnya terpasang banyak di lengannya. Ada yang datang dengan sepeda motor.

Kompleks perumahan saya di Depok termasuk perumahan yang isinya orang-orang yang cukup mapan secara ekonomi. Meski begitu, perumahan itu dikelilingi perkampungan. Jadi, setiap tahun setiap Idul Adha, orang-orang yang dibagikan daging sapi dan kambing adalah orang-orang di kampung sekitar itu.

Hanya saja, yang saya lihat adalah salah satu fenomena overstock daging kurban. Panitia pun dalam kasus seperti ini biasanya kebingungan untuk membagikan, terutama karena proporsi jumlah daging lebih banyak dibanding jumlah penerimanya. Wah.

Ya, akhirnya kondisi seperti ini yang terjadi di kompleks perumahan saya. Bayangkan saja kalau satu kambing hanya dibagi menjadi 8 kupon. Lalu, mau disebut apa lagi kasus seperti ini selain overstock, atau distribusi yang memang kurang tepat sasaran. Yang saya lihat, pada akhirnya orang-orang membawa pulang bungkusan-bungkusan yang bisa disebut sebongkah, bukan sekerat atau segenggaman—sampai kira-kira 2 kg masing-masing. Itu pun sudah diminta beberapa puluh bungkus buat disebar di beberapa panti asuhan dan masjid lain di Depok.

Memang, kalau saya melihat Depok, bahkan di kota seperti itu pun pendistribusian daging kurban masih belum bisa dibilang rata. Rasanya banyak sekali daging menumpuk di pusat kota, itu pun dibagikan kepada orang-orang dengan kelas ekonomi menjelang menengah. Padahal di sebuah masjid di sekitar stasiun Depok Lama hanya ada 6 ekor kambing. Ini harus dijatah untuk warga sekitarnya di pemukiman yang cukup padat. Untung saja ada beberapa kiriman daging tambahan dari beberapa tempat lain. Tapi saya yakin, sate yang dibakar atau gulai yang dimasak orang-orang di situ nggak akan sebanyak yang dimasak orang-orang di sekitar kompleks perumahan saya.

Itu masih di Depok. Lalu, bagaimana dengan di daerah-daerah lain?

Apakah Anda pernah membayangkan sebuah hari besar bernama Idul Adha tanpa kurban? Jadi, selepas sholat, maka selesai dan semua orang kembali ke rumah masing-masing. Ini cerita tahunan di Desa Jlamprang, Magetan, Jawa Timur. Justru kalau setelah sholat Id ada acara pemotongan kambing, menjadi aneh buat mereka.

Di Desa Poigar di Minahasa bahkan sudah lebih dari 14 tahun nggak ada yang berkurban. Untuk daerah seperti ini, biasanya kendala geografis yang jadi masalah. Di banyak daerah pelosok di seantero Nusantara, biasanya 1 kambing untuk 1 desa.

Kisah Suminto, bocah kelas 6 SD di Nglebo, Trenggalek yang biasa dipanggil Minto yang saya baca di Republika 29 Desember lalu cukup bisa melukiskan kondisi yang sama sekali jauh dari lintasan pikiran kita. Sang penulis mengenalnya saat prosesi Tebar Hewan Kurban (THK) di Januari 2006. Di desa Nglebo yang hampir seluruhnya warga miskin, bisa makan nasi tiwul dengan lauk ikan asin itu suatu kenikmatan yang luar biasa. Ikan asinnya pun terkadang hanya lauk mingguan—seminggu sekali.

Idul Adha lalu adalah pertama kalinya Desa Nglebo mengadakan kurban karena mendapat sumbangan 5 ekor kambing. Lima untuk sedesa. Akhirnya Minto dan keluarga mendapat satu kantong plastik kecil. Kecil sekali. Ya, Anda bisa bayangkan 5 kambing untuk satu desa, dibagi rata.

Minto pulang dengan girang. Simbok yang sudah menunggu di rumah menyalakan kayu bakar. Daging sejimpit itu direbus dengan kuah melimpah. Minto dan adik-adiknya sama sekali nggak beranjak dari dapur. Sambil mencium baunya, “walah, enak tenan lo le ambune (walah, enak sekali ya Dik, baunya),” ujar Minto ke adiknya.

Akhirnya masakan siap. Minto dan adik-adiknya langsung berebutan. Mereka mengambil tiwulnya di piring masing-masing, lalu menghampiri ibunya yang membagikan daging sejimpit itu. Sang penulis berada di situ saat itu untuk menyaksikan isi piring masing-masing yang membuat dada semua orang yang masih waras bergemuruh. Daging yang hanya seibu jari kaki. Lalu, tulang yang dicacah kecil-kecil.

Sekeluarga itu sejurus kemudian sudah sibuk dengan makanan di piringnya masing-masing. Lauk tadi ditambah tiwul yang kecoklatan. Setengah jam kira-kira, lalu pemandangan berikutnya semakin membuat miris. Daging sejimpit dan tulang itu nggak dihabiskan. Mereka menyimpannya kembali di piring masing-masing.

Ojo dientekne le, di nggo lawuh sesuk (jangan dihabiskan, buat lauk besok,” kata ibu mereka. “Wong Jakarta, atine apik tenan yo mbok. Gelem menehi daging barang (orang Jakarta baik hati ya Mbok, mau memberi daging segala),” Minto berkomentar dengan senang.

Saya nggak pernah berada di desa itu, pun berjumpa dengan Minto dan keluarganya. Tapi kisah yang dituturkan sang penulis seperti membawa saya ke sana, membayangkan berada di tengah-tengah mereka; cukup untuk membuat mata saya berkaca-kaca.

Begitulah. Ini fenomena tahunan. Kisah yang selalu berulang tiap tahun. Tiap tahun, masih ada saja desa-desa terpelosok dengan Minto-Minto yang lainnya. Kalau membayangkan itu, rasanya nggak tega untuk melihat begitu banyak daging dibagikan untuk orang-orang di Depok, yang bisa jadi menerima dari 2 atau 3 tempat yang berbeda.

Melihat itu semua, acungan jempol layak diberikan bagi PKPU dengan program-programnya. Hanya saja, acungan jempoldengan 4 jempol sekalipunnggak akan jadi sapi atau kambing yang bisa dinikmati orang-orang di pelosok. “Berkurban sampai pelosok Nusantara” adalah tema mereka tahun ini. Ya, semoga senyum ceria Idul Adha juga bisa dijumpai sampai pelosok Nusantara di tahun-tahun depan.

Singapore,
3 Januari 2007


Sumber:
"Nikmatnya Sekerat Daging" oleh S Adhiat, Republika 29 Desember 2006

Bahan Bacaan:

"Tak Ada Daging Saat Idul Qurban",
PKPU Online
Website
PKPU
Website
SebarQurban

Labels: ,

11 Comments:

  • "捧げる事の本当の意味" (Liat iklannya kan? di RCTI kalo gak salah)

    Terlepas dari pengertian "qurban"/pengorbanan dari segi ibadah, are sacrifices necessary?

    Let's see from non real life thing
    デスノートの海砂, she gave "her life", (3/4 to be exact, she's supposed to be dead already anyway), for Raito, in return, hidupnya malah lebih panjang lagi.

    ジェラスとレム, they gave their lives for Misa, and I don't quite get, what do they get in return. Turned into pile of sand, that's for sure.

    L & Raito, they both have the same "Sacrifice is necessary, for the greater good" attitude, different way though.

    Di hagane no renkinjutsushi, disebut tentang "Toukan Koukan".

    Kalau melihat ke real life, baru-baru ini ada "beberapa" orang yang "mati" di MRT, entah bunuh diri, atau entah "berkorban" demi keluarganya, karena setelah itu keluarganya mendapatkan uang "santunan" yang cukup besar.

    Well my point is, kembali ke tadi "捧げる事の本当の意味", people do sacrifices (misal seorang kepala keluarga pergi pagi pulang petang demi sesuap nasi untuk keluarganya), but sometimes they made the wrong sacrifices (misal orang2 di MRT tadi), sometimes they do sacrifices wrongly (for wrong things, misal Raito's intention to kill his father), etc. Jadi apakah sebenarnya "pengorbanan" dan bagaimanakah dan untuk apakah pengorbanan yang benar itu?

    Ini kemaren lupa juga diomongin, jitsu wa ore ga kimi ni urayande iru."3sen koto". Karena kamu bisa "segitunya", kalau aku yang berada di posisimu Don, aku belum tentu bisa. "Toukan Koukan" apalagi yang "itu", belum apa-apa kamu sudah mendapatkan "equal trade", dan itupun belum termasuk "ganjaran" lainnya tuh. Ore wa "sonna koto" ga wakaru, shinjiru, sering mengalami juga, demo, mada dekimasen. Dakara, oshiete kudasai, ore mo kimi no mitai ni naritai desukara.

    By Blogger apranum, at 11:26 AM, January 04, 2007  

  • waktu di kompleks perumahan ku yang dulu kok daging kurbannya dibagiin ke warga di kompleks ya,,padahal mereka juga termasuk orang2 yang berada,,waktu kecil sich gak begitu merhatiin tapi waktu idhul adha kemaren pas liat pemotongan di kompleks ku yang sekarang sempet kepikiran,,apa tuch daging gak dibagiin ke orang2 yang lebih ngebutuhin aja,,

    Selamat Hari Raya Idul Adha ya kak!

    selamat tahun baru juga,,

    btw,kenapa gak dateng EBS?kata johar tadinya ada rencana mw datang?

    By Blogger Martha-Happy, at 2:26 PM, January 05, 2007  

  • Martha>>
    Tadinya emang mau dateng, tapi ada acara mukhayyam (kemah).

    apranum>>
    japri

    By Blogger Radon Dhelika, at 2:04 PM, January 08, 2007  

  • Itu informasinya cacat hukum. Mestinya sebuah yayasan di dekat stasiun depok lama mengumpulkan 6 kambing dan 1 sapi. Satu sapinya honki, yang kambing lupa, 6 ato lebih. Cuman emang area persebarannya luas banget

    By Anonymous midou ryokan, at 7:51 AM, January 09, 2007  

  • wow, you are so prolific writer.
    why didn't I read it since a long time. Kayaknya aku pernah liat kamu deh, dimana ya????

    well, tentang tulisan tanggal 3 des itu menarik. tapi bukannya kesenjangan sosial itu sudah merupakan konsekuensi ya?

    By Blogger Septian, at 11:43 PM, January 13, 2007  

  • septian>>
    Emang kita pernah ketemu, terus kenalan. Satu atau dua kali, kalo nggak salah. Dan, abis itu lupa :)

    Kesenjangan sosial konsekuensi dari apa? Kapitalisme, demokrasi? Atau jangan2 konsekuensi kehidupan?

    Ah, emang kesenjangan sosial rasanya akan tetep ada. Tukang becak sama anggota DPR sampai tahun 2050 juga akan tetap sama perbedaan "kasta ekonominya". Tapi kesenjangan sosial itu bukan sesuatu yang mustahil untuk dikurangi, rasanya. Intinya sih dengan pendidikan.

    By Blogger Radon Dhelika, at 12:24 PM, January 15, 2007  

  • emang pernah kenalan? wah lupa
    well, gitu ya?
    kemaren itu berpikir kesenjangan sosial ya akan tetap ada dan selamanya, huahua....
    dengan pendidikan? siapa yang mau membiayai orang miskin ?

    By Blogger Septian, at 1:12 PM, January 15, 2007  

  • Haha, good point. Ya emang harusnya pemerintah yang berperan di situ. Dan, kalau kita list, akan banyak banget teori "seharusnya". Seharusnya begini, seharusnya begitu.
    Tuh kan, jadi satu topik bagus buat tulisan. Tertarik?

    By Blogger Radon Dhelika, at 10:46 AM, January 17, 2007  

  • nope

    By Blogger Septian, at 3:01 PM, January 17, 2007  

  • 酷いねえ
    我慢するよ

    By Blogger apranum, at 11:41 PM, January 17, 2007  

  • Ada beberapa pengelola kurban nasional yang telah memiliki "program tebar hewan kurban" sebagai salah satu solusi untuk mengatasi menumpuknya hasil kurban di satu daerah. Program ini mendistibusikan hewan dan hasil kurban ke seluruh wilayah rawan pangan termasuk daerah bencana, baik berupa hewan ataupun hasil kurban yang telah diproses (kornet). Di antaranya adalah yang dilakukan oleh :
    - Rumah Zakat Indonesia
    - Dompet Dhuafa
    - Dompet Peduli Umat DT
    - PKPU
    - dll

    smoga bermanfaat..

    By Anonymous ekonawa, at 11:12 AM, March 29, 2007  

Post a Comment

<< Home