Delicate, Delightful, Delicious
~A Blog

Saturday, October 07, 2006

Ramadhan, Bulannya Semua Orang (1)

Ramadhan memang punya pengaruh yang luar biasa. Kapan lagi kita bisa melihat Masjid dan Musholla bisa penuh saat sholat Subuh dan Isya? Lalu, kalau kita lihat di TV Indonesia, artis-artis akan merasa malu kalau nggak menampilkan sisi “keislamannya”. Juga, mengutip istilah teman saya, hanya di bulan inilah ada yang namanya kontrol sosial yang kasat mata. “Puasa lo, nggak boleh bohong,” atau “puasa nih, nggak boleh ngomongin orang lah.”

Selain itu, kalau kita menjelajah dunia maya, ada banyak hal-hal menarik dari kisah-kisah Ramadhan orang-orang seluruh dunia yang sama sekali berbeda latar belakangnya dengan kita. Tentang bagaimana Ramadhan sangat dinikmati oleh mereka.

Pernahkah membayangkan bagaimana seorang muallaf berpuasa? Saya menemukan kisah seorang Hannah dari Portland, Oregon. Dia muallaf yang baru mengucapkan syahadat bulan Desember lalu. Benar, berarti Ramadhan kali ini adalah Ramadhan pertama buat Hannah. Tapi dia sudah sangat serius ingin menjalankan salah satu rukun Islam ini, begitu akunya di tulisannya.

Yang menarik, suaminya sendiri bukan seorang Muslim. Teman-teman kantornya pun kebanyakan bukan Muslim, yang berarti dia puasa sendirian. Tapi dia mengaku sangat bersyukur karena suaminya sangat toleran dengan mengizinkan dia puasa. Bahkan saat ada di rumah, suaminya berusaha nggak makan di depan Hannah. Teman-teman kerjanya yang non-Muslim pun demikian. Mereka, termasuk bosnya, berlaku sangat baik kepada Hannah. Malah, mengetahui Hannah baru beberapa bulan berpindah keyakinan ke Islam, mereka mendukungnya. Memang, sebagai muallaf, tantangan puasa sangat berat bagi Hannah. Karenanya sesekali di siang hari dia meneguk satu atau dua gelas jus sekedar untuk mengembalikan kadar gulanya.

Katanya, “What I’ve loved about Ramadan so far has been the knowledge that my fellow Muslims all over the world are sharing this month together, and that it’s making me so much more aware of the blessing of having and sharing food.” Makanya kemudian Hannah mengaku sangat menikmati momen iftar dengan teman-temannya. Menurutnya pula, Ramadhan ini adalah saat Muslim mendekati non-Muslim dengan mengundang mereka. Salah satunya bisa ke acara iftar.

Bagaimana pula menurut Anda Ramadhannya seorang Muslim yang tinggal di negara non-Muslim? Kalau seandainya dia tinggal bersama komunitas Muslim lainnya, hal ini biasanya nggak menjadi masalah. Biasanya Ramadhan ini justru jadi waktu-waktu di mana ukhuwah menjadi sangat terasa. Sahur bareng, iftar bareng, masak bareng, dan juga belanja bareng. Semangkok kolak yang dimakan sendiri dengan yang dibumbui gelak tawa atau senyum dari orang lain akan terasa beda.

Di NTU sini banyak kisah-kisah menarik dari teman-teman saya. Ada yang kisahnya tentang telur yang meledak di microwave, atau tentang susahnya masak rawon untuk sahur. Ya, setiap pagi adalah eksperimen. Teman saya yang masak rawon itu biasanya sahurnya berlima—dengan anak-anak Indonesia dan seorang Thailand. Benar-benar warga negara nggak menjadi batas. Asal sama-sama Muslim, semuanya jadi gampang; langsung klop.

Tapi, yang tinggal jauh dari komunitas Muslim biasanya akan sedikit kesulitan. Kisah seorang Pakistan yang memiliki nickname Boo! bisa menjadi contoh. Dia baru dua setengah bulan tinggal di Hongkong untuk bekerja. Memang, dia akui Hongkong negaranya sangat teratur; sangat pemerintah-sentris. Hampir semuanya diatur pemerintah. Tapi keteraturan seperti itu nggak mengobati kerinduan suasana Ramadhan bersama keluarganya di Pakistan. Makanya dia menyempatkan diri pulang ke Pakistan selama 3 hari. Akunya, “I got a couple of Suhoors and Iftaars with family, which made me realize (even more than before) what I'm missing, spending Ramadan alone in Hong Kong. It is just so much different spending the Ramadan alone in a country where you don't hear the Azaan.”

Yang lebih mengherankan lagi, saya baru menemukan bahwa ada sebagian kecil orang non-Muslim yang juga sebenarnya ikut berpuasa di Ramadhan ini. Salah satunya Daniel, warga negara Swedia yang dibesarkan di keluarga yang nggak agamis. Bapaknya atheis, dan ibunya pernah mencoba semua agama dari Kristen hingga “agama” new age.

Danielnya sendiri mengaku mewarisi sifat ibunya yangingin mencari agama-agama. Akunya, ia bukan mencari agama, tapi mencari ritual penyembahan (ritual of worship). Untuk itu ia bertualang ke Inggris dan bertemu dengan komunitas Muslim di sana. Kemudian ia tertarik untuk mencoba “ritual” puasanya orang Muslim. Nggak tanggung-tanggung, ia ingin mencobanya sebulan penuh di Ramadhan kali ini. Makanya banyak sekali kisah-kisah menarik yang dialami sendiri oleh Daniel. Ada kisahnya yang kelewatan sahur, atau kisahnya menghindar dari godaan perempuan. Tapi, tantangan terbesar puasa menurutnya adalah rasa haus.

(bersambung ke "Ramadhan, Bulannya Semua Orang (2)")

Labels: , ,

0 Comments:

Post a Comment

<< Home