Delicate, Delightful, Delicious
~A Blog

Wednesday, August 30, 2006

Yang Berawal Dari Kebiasaan

Sering terpikir oleh saya tentang gagasan menciptakan hobi atau karakter. Hal ini terinspirasi dari pernyataan Stephen Covey dalam bukunya, The 7 Habits of Highly Effective People, “taburlah gagasan, petiklah perbuatan. Taburlah perbuatan, petiklah kebiasaan. Taburlah kebiasaan, petiklah karakter. Taburlah karakter, petiklah nasib".

Berarti, Stephen Covey secara jelas mengindikasikan bahwa karakter itu berbeda sifat dengan energi. Nggak ada yang namanya hukum kekekalan karakter, “karakter tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.” Nggak ada itu.

Bagaimana dengan hobi? Ini hanya gagasan tambahan dari saya saja. Hobi juga sebenarnya hasil taburan kebiasaan seperti yang diungkapkan Covey. Hanya saja, tergantung dari jenis kebiasaan yang ditabur. Jika kebiasaannya bersifat pemikiran atau cara berpikir, maka yang tumbuh adalah karakter. Seperti kalau menabur kebiasaan membuang sampah di tong sampah sejak kecil, maka yang akan dipetik adalah karakter itu. Sedangkan kalau kebiasaannya bersifat kegiatan-kegiatan spesifik, maka yang dihasilkan adalah hobi. Seperti kebiasaan membaca yang akan menjadi hobi membaca.

Baru akhir-akhir ini saya merasakan kebenaran teori itu, bahwa hobi bisa diciptakan. Sekarang saya agak berbeda kalau ditanya tentang hobi. Biasanya jawabannya nggak jauh-jauh dari membaca, main bola, nonton bola, merenung. Tapi kini secara pasti sudah berani untuk menambah satu hal lagi: menulis.

Nah, bagaimana dengan gagasan memusnahkan karakter atau hobi? Sama saja. Sudah banyak kisah di sekitar kita tentang orang-orang yang tiba-tiba saja punya hobi baru dan meninggalkan hobi lamanya. Contohnya orang-orang yang meninggalkan hobi merokoknya. Kebanyakan dari mereka melakukannya dengan terapi permen karet. Begitu juga karakter. Teman seangkatan saya ada yang dulu di SMA selalu diejek ketika berbicara di depan kelas. Entah karena merasa kurang percaya diri atau bagaimana, ketika berbicara jadi terdengar seperti sedang menangis. Di situlah diejeknya. Tapi kini Anda sudah nggak bisa menemukan teman saya yang dulu lagi. Sekarang dia sudah menjadi seorang pembicara yang berkualitas, dan memegang 4 kelompok pengajian kelas di SMA-SMA Depok.

Ini sebuah ide yang menarik tentunya, kalau kita percaya bahwa karakter dan hobi bisa diciptakan dan dimusnahkan. Berarti kita bisa menciptakan karakter dan hobi yang positif bagi diri kita atau orang lain, dan membuang yang negatif ke tong sampah. Seperti menciptakan hobi membaca Quran, hobi membaca, hobi pemrograman komputer, hobi utak-atik peralatan elektronik, dan juga karakter yang tegas, cekatan, gampang menolong orang.

Ada setidaknya 3 jalur penerapan bagi teori penaburan kebiasaan ini. Yang paling sederhana adalah tentunya penaburan kepada diri sendiri. Bukan mustahil kita menciptakan hobi-hobi baru buat kita sendiri, dan menciptakan karakter-karakter yang kita inginkan. Modalnya satu: harus yakin bahwa nggak ada yang namanya hukum kekekalan hobi dan karakter.

Yang kedua dan yang lebih menarik adalah orang tua yang menabur kebiasaan ke anak-anaknya. Seperti menuliskan sesuatu ke kertas yang masih putih. Peluang untuk ini sangat terbuka ketika anak-anak masih kecil. Ketika kecil, semua gampang untuk dimasukkan ke memori anak-anak. Anak-anak Indonesia yang dibesarkan di Amerika, karena sehari-harinya mendengarkan bahasa Inggris, maka ketika besar akan fasih bahasa Inggrisnya, walaupun nggak pernah mendapatkan pelajaran bahasa secara formal dan hanya tahu dari TV, misalnya.

Nah, kalau bahasa saja bisa cepat diserap, apalagi kalau menciptakan kebiasaan buat anak. Sepupu saya dari kecil sudah dikasih komponen-komponen elektronik, mulai dari baterai, kabel, resistor, dan lain-lain. Di awal SD, anak itu sudah mulai menyolder. Sekitar kelas 3 SD sudah bisa memperbaiki remote TV yang rusak. Kelas 6 SD sudah mendapat pesanan dari orang—walaupun masih keluarga sendiri—untuk dibuatkan suatu alat tertentu. Agak mirip dengan kisah masa kecil Sehat Sutardja, lulusan University of California, Berkeley yang kini punya perusahaan semikonduktor papan atas, Marvell.

Itu baru hobi yang biasa. Bagaimana dengan hobi yang lain dari yang lain, seperti hobi membaca Quran dan menghafal Quran? Ada kisah dari Durottul Muqoffa yang hafal Quran pada usia 6 tahun. “Ya, kami biasakan kalau bermain-main bersama teman lainnya sambil menghafal surat-surat pendek. Mau tidur menghafal lagi, bangun tidur menghafal lagi. Jalan-jalan, sehari-hari tidak berhenti berhadapan dengan Quran,” kata ibu kandungnya, Mundasah, seperti dikutip dari Suara Merdeka.

Memang, selagi masih kecil, anak bisa diajarkan apa saja. Begitu fitrahnya. Teman saya dulu di SMA ada yang sudah hafal 7 juz Quran. SD dan SMP dia dihabiskan di Nurul Fikri (NF), sebuah sekolah Islam terpadu yang cukup populer di Depok. Ketika saya tanya, ternyata memang rahasianya di kurikulum sekolahnya. Lulus dari SD NF, sebagian besar lulusannya sudah hafal 6 juz. Lalu, ditambah lagi 3 juz di SMP.

Yang lebih hebat lagi adalah kalau bisa menumbuhkan karakter unggulan. Saya sedikit terkejut ketika membaca sebuah artikel tentang anak-anak dari Yusuf Qaradawi, ulama internasional yang sekarang berdomisili di Qatar. Anak beliau total ada 7—3 putra dan 4 putri. Tiga dari empat putrinya memiliki gelar PhD dari universitas-universitas di Inggris—di bidang fisika nuklir, kimia organik, dan botani. Sedangkan putri keempatnya bergelar Master di bidang Biologi dari University of Texas. Putranya, Mohamed, mendapat PhD di bidang teknik mesin dari University of Central Florida di Orlando. Dua putra lainnya sedang mengejar gelar Master di bisnis. Dan hanya satu orang saja putranya yang mengikuti jejak bapaknya untuk belajar ilmu Islam di tingkat yang lebih tinggi. Tentunya ada suatu karakter yang berhasil ditanamkan orang tuanya sehingga anak-anaknya bisa seperti itu. Karakter untuk selalu menjadi ranking satu? Mungkin saja.

Jalur ketiga, dan yang paling hebat, adalah kalau penaburan kebiasaan ini dilakukan pemerintah kepada rakyatnya. Selain akan menghasilkan karakter bagi lebih banyak orang, proses ini juga bisa menciptakan karakter suatu bangsa. Seperti pemerintah Jepang yang menciptakan karakter kebersihan dan kerapihan bagi orang Jepang.

Singapore,
Selasa malam, 29 Agustus 2006

Labels: ,

4 Comments:

  • Kayaknya kurang setuju deh Don.
    1. Kita semua udah mulai dengan karakter tertentu (malah katanya gen itu yang berpengaruh paling kuat dalam membentuk karakter kita-each person's DNA codes for a certain type of nervous system).
    2. Karena sudah ada, maka karakter kita berubah, melalu proses yang tidak bisa dibilang sebentar, yang mungkin karena pengaruh orang tua dan lingkungan. Dan selain butuh waktu, "membuat/menghapus" karakter itu juga masih perlu usaha, keinginan, dan sarana yang mendukung. Dan... I have plenty of "unpleasant" memories regarding of this. Sumari, sonna koto wo kantan dewa nai yo. Yah mungkin balik ke gen tadi, orang memang ada yang bakat menyanyi, ada yang bakat matematika.

    Mumpung masih nyambung dengan topik... kemaren aku baru nonton I not stupid too (bagus deh, kalo tertarik/blom nonton kukasih deh, critanya garing di awal, mengharuskan di akhir). Moralnya adalah salah satu cara terbaik orang tua mendidik/mengembangkan karakter anak, adalah dengan memberi apresiasi instead of hukuman. Bayangin aja ada seorang anak kecil, sedang belajar jalan misalnya, kalo jatuh, orang2 di sekelilingnya terus mensupport dengan senyuman, tawa, dan sebaliknya bayangin aja kalau tiap dia jatuh dia dijewer, dimarahin, dicubit... kapan bisanya?

    By Blogger apranum, at 2:42 AM, August 30, 2006  

  • Jangan2, tulisan ini jadi sebuah justifikasi ama yang gw omongin dulu..

    -bahwa Pak Polisi begini karena memang gen dia udah 'dari sononya' gtu-

    By Anonymous tegar, at 9:08 AM, August 30, 2006  

  • apranum: Nggak, rasanya yang dibawa gen itu bakat--itu pun bisa diasah. Misal: bakat musik, bakat seni, dll. Tapi karakter itu menurutku diciptakan. Ya, bener bahwa kalo udah besar mah susah untuk ngubahnya. Makanya semuanya ditentuin pas kecil. Lagi-lagi, ini semua cuma opini.

    I not stupid itu katanya emang bagus ya. Ada tulisan di blog lain yang ngebahas film ini, terus dilanjutin ngebahas sistem pendidikan di Sg. Ntar deh Insya Allah kapan2 mau nulis tentang hal itu juga.

    Tegar: Entah ya, kalo emang ada yang namanya 'bakat ngoreksi orang' .. Eh, tapi keren juga.

    By Blogger Radon Dhelika, at 5:31 PM, September 03, 2006  

  • Halo, mau tanya dong ttg temen yg sekolah di SD & SMP NF. Kira-kira dia mau gak ya saya "gangguin" utk tanya-tanya ttg kesannya sekolah di SD NF ? Kebetulan anak saya sekarang di TK B tahun depan insya Allah masuk SD. Maunya ke SD NF jadi lagi cari-cari informasi dari orang dalam... Terima kasih sebelumnya... Btw. kalau tidak keberatan, boleh nggak informasinya dikirim ke mirna.muska@gmail.com ? Soalnya saya susaaahh banget mau online lama-lama, ketiga "buntut" ku minta perhatian terus... ;-). Makasih banyak ya....

    By Anonymous Mirna Muska, at 2:49 AM, December 14, 2006  

Post a Comment

<< Home