41 Tahun Singapore, 61 Tahun Indonesia

Masih seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap National Day pada 9 Agustus, orang Singapore nggak bosan-bosannya membahas hal yang sama. Sederhana saja. Coba buka lembar-lembar surat kabar pada 9 Agustus, dan Anda akan mengerti maksud saya. Dari 164 halaman The Straits Times misalnya, bahasannya nggak jauh-jauh dari “what makes Singaporean so Singaporean?” atau tentang bahasan “kapan sebaiknya memakai Singlish dan kapan memakai bahasa Inggris yang baik?” atau “apa yang paling pantas disebut sebagai ikon Singapore?” Untuk topik yang terakhir, tahun lalu saja bahasan itu memenuhi lembar-lembar surat kabar Today. Orang Singapore akan menyebut salah satu atau beberapa dari daftar berikut: Merlion, Esplanade, Hawker Centre, dan Singlish.
Sangat kontras ketika saya membuka halaman web KOMPAS atau Detikcom. Headline beritanya jauh dari mengundang senyum orang yang membacanya—begitu juga judul-judul berita yang mengiringinya. Di Detikcom tanggal 10 Agustus ada “Pungli di MA Masuk Kategori Korupsi.” Masih di halaman web yang sama, ada “Polisi Gerebek Gudang Penimbunan Pupuk Ilegal di Sumut.” Di KOMPAS pun sama saja: “4 Lintasan KA Surabaya-Malang Terancam Lumpur Panas”, dan masih banyak lagi.
Saya yakin, sampai dengan 17 Agustus pun berita-berita ini masih akan memenuhi surat kabar-surat kabar nasional. Bahasan surat kabar tertanggal 17 Agustus pekan depan pun bisa jadi nggak jauh-jauh dari refleksi. Intinya mengevaluasi kembali perbandingan umur bangsa Indonesia yang sudah 61 tahun dengan hasil pembangunan yang nampak secara kasat mata. Akhirnya, surat kabar nggak akan jauh-jauh dari memenuhi artikelnya dengan bahasan yang mempertanyakan sejauh mana efektivitas pemberantasan korupsi, efektivitas kerja kabinet SBY, kebenaran dari reformasi yang setengah hati, dan nostalgia kejayaan masa silam yang sebenarnya kelabu walau tak nampak.
Alih-alih memikirkan bagaimana berbahasa Indonesia yang benar atau memikirkan ikon Indonesia yang paling Indonesia, bangsa Indonesia masih disibukkan dengan bahasan seputar korupsi, kasus lumpur panas Sidoarjo, rencana pemadaman listrik bergilir di beberapa daerah, penanganan daerah tertinggal seperti Yahukimo, dan lainnya. Makanya teman saya selalu bilang, “koran Singapore itu nggak ada isinya.” Benar, walaupun tebal sampai seratusan halaman, tetap nggak menarik. Soalnya mereka lebih sibuk membahas hal-hal yang remeh. Bukan karena nggak mau membahas hal serius—tapi lebih karena nggak ada yang bisa dibahas. Menyedihkan. Entah siapa yang menyedihkan.
Apakah ini bukti bahwa Indonesia dan Singapore sejatinya berada di dunia yang berbeda?
Sebegitu berbedanyakah Indonesia dengan Singapore? Saya pikir tidak. Ada beberapa hal yang masih bisa membuat saya bangga memiliki paspor Indonesia.
Pertama, karena orang Singapore itu lebih apatis dibandingkan orang Indonesia—setidaknya menurut pengamatan saya. NTU SU (Students’ Union) pada 2 Maret 2006 lalu mengadakan dialogue session, sebuah acara yang dimaksudkan sebagai sebuah platform penyampaian aspirasi mahasiswa NTU, terutama mengenai kasus kenaikan uang sekolah yang tiba-tiba dan tanpa melibatkan mahasiswa. Itu adalah topik yang sangat hangat saat itu. Tapi percayakah Anda, bahwa sebuah acara seperti itu hanya dihadiri oleh tak lebih dari 15 orang? Coba ceritakan ini ke teman-teman kita di UI atau ITB dan mereka tentu akan tertawa. “NTU is pathetic. The dialogue session is pathetic. There is nobody around,” kata seorang peserta yang hadir, dikutip oleh Nanyang Chronicle.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang Singapore itu apatis. Salah satunya dalam hal politik. Banyak orang Singapore yang secara terang-terangan mengaku bahwa mereka politically apathetic, atau politically illiterate. Tapi bagi mereka, itu suatu hal yang wajar saat mereka bisa menjumpai sistem pendidikan, transportasi, pelayanan umum dan lainnya berjalan baik. “Mind your own business, lah,” kata mereka.
Yang kedua, rasa kebersamaan sebagai bangsa lebih dimiliki orang Indonesia. Januari 2005 lalu saya berkesempatan menonton langsung pertandingan final Piala Tiger antara Indonesia dan Singapore di National Stadium Kallang. Pertandingan itu sendiri bekesudahan 1-2 untuk keunggulan tuan rumah. Ratusan suporter Indonesia yang hadir pada saat itu menjadi saksi betapa menyedihkannya suporter Singapore. Kami yang hanya dijatahi satu bagian tribun kecil di pojok yang kapasitasnya tak lebih dari satu per dua puluh bagian stadion bisa menyanyi Indonesia Raya dengan lebih lantang dan kompak. Saat giliran suporter Singapore untuk bernyanyi, hanya gumaman dan dengungan nggak jelas saja yang terdengar dari segala penjuru stadion. Ya, mereka nggak hapal lagu mereka sendiri.
Begitu pun mengenai inisiatif. Suporter Indonesia lah yang pertama kali berinisiatif membuat gerakan ombak khas suporter sepakbola. Baru setelahnya suporter Singapore ikutan.
Memang tulisan ini terlalu sederhana untuk bisa dijadikan rujukan perbandingan 2 negara yang bertetangga itu. Mungkin juga tidak tepat saya men-generalisasi karakter sebuah bangsa hanya dari segelintir kisah. Tapi bagi saya, orang Indonesia lebih memiliki karakter-karakter dasar sebuah bangsa yang besar. Ya, jangan sampai usia kita yang 20 tahun lebih tua menjadi tak ada maknanya.
Sebuah kado untuk republik yang akan berusia 61 tahun
Singapore, 10 Agustus 2006
6 Comments:
Satu kata untuk menggambarkan Singapore: cliche!
Perayaan kemerdekaan itu kayanya cuma sebuah rutinitas tiap tahun yg harus dijalani, setidaknya utk menunjukkan kelengkapan sebuah negara atau kampanye gratis bagi partai berkuasa.
Esok harinya, kembali sibuk lagi. Ga ada namanya lomba 17an (atau 9an), trus pergelaran dangdut (atau Mandapop)..
Emang Indo lebih kerenn!!
Btw, gw nulis comment kaya bikin postingan aja, hehe... maap Don, gw tadinya mo nulis sesuatu ttg NDP juga, cuma males ah..
By
Anonymous, at 1:04 AM, August 11, 2006
Bagus postingannya Radon, subhanaLlah..
orang Indonesia lbh variatif dgn budayanya ...
Lia Yaniarti
By
Anonymous, at 12:18 PM, August 14, 2006
Satu kata untuk menggambarkan Singapore: cliche!
Well said, Tegar. Tadinya mau ngungkapin Singaporean dengan satu kata, tapi gak ketemu2. *ini kok comment telat amat ya..*
orang Indonesia lbh variatif dgn budayanya ...
Hmm, sebenernya sih lebih nekanin "karakternya". Budaya sih masing-masing. Tapi karakter Indonesian sama Singaporean itu beda. Kita lebih "tertempa" sama keadaan--mungkin gitu bahasanya. Jadinya lebih sabar, lebih matang, dll.
Seorang temen Singaporean waktu itu pernah memberi compliment atas recovery orang Indonesia yang cepet dari kasus bom Marriot.
Dia bilang, "saya yakin, kalo Singapore kena bom di Orchard, misalnya, Singapore akan lumpuh total."
By
Radon Dhelika, at 8:50 PM, August 15, 2006
ada yg perlu diralat tuh don.. indonesia kalah 1-4, bukannya 1-2.. :P
-arri-
By
Anonymous, at 10:03 PM, August 16, 2006
ealah, bner deng 1-2.. koq jadi ketuker ama hasil yg laen yah.. maap nyampah.. silakan dihapus kalo mau.. :D
-arri-
By
Anonymous, at 10:04 PM, August 16, 2006
Haha, jangan salah. Data-datanya udah diabsahkan oleh Wuri, lo.
By
Radon Dhelika, at 7:00 AM, August 17, 2006
Post a Comment
<< Home