Delicate, Delightful, Delicious
~A Blog

Tuesday, August 08, 2006

Pembodohan Terselubung

“Ok, ada pertanyaan?” seorang guru bertanya kepada 40-an anak SMA di sebuah kelas setelah menjelaskan sebuah konsep. Tetapi pertanyaan itu hanya dibalas hening. Alih-alih buka mulut untuk bicara, yang angkat tangan saja nggak ada.

Maka biasanya, untuk mengaktifkan suasana, sang guru akan melanjutkan, “kalau nggak ada, Bapak yang nanya ya.” Sedihnya, sekarang semua berusaha menutup wajahnya. Entah dengan buku, atau bersembunyi di balik punggung temannya. Atau minimal memalingkan pandangan agar tak bertatapan mata dengan sang guru. Agak menyedihkan, memang. Apalagi kalau mengingat bahwa pemandangan seperti ini nggak cuma di beberapa sekolah, tapi di hampir semua sekolah di Indonesia.

Tadinya saya berpikir bahwa fenomena itu cuma di Indonesia. Jadi, orang Indonesia yang dibesarkan—atau minimal belajar—di luar negeri, bisa jadi kebiasannya beda; begitu pikiran saya dulu. Tapi menurut apa yang saya dengar, ternyata tingkah laku mahasiswa Indonesia di Amerika pun sebenarnya nggak ada bedanya. Kalah aktif dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya. Memang, secara akademis mahasiswa Indonesia cukup bersaing.

Di NTU, Singapore pun setali tiga uang. Setelah selesai kuliah, biasanya dosen akan dikerubuti mahasiswa-mahasiswa yang ingin bertanya. Sayangnya, orang India atau Cina yang lebih sering seperti itu. Orang Indonesia kebanyakan sudah cukup senang dengan duduk agak di tengah di ruang kuliah, ikut kuliah, dan dapat nilai bagus di ujian.

Mengapa bisa seperti itu?

Padahal, rasanya semua orang ketika kecil punya rasa ingin tahu yang luar biasa, sampai-sampai orang tua biasanya kewalahan untuk meladeni. Apa-apa akan ditanya. Ini namanya apa? Itu apa? Mengapa ini begini? Kapan itu bisa begitu? Dan masih banyak lagi. Jangan dihitung jumlah pertanyaan anak kecil yang beranjak 3 atau 4 tahun bila diajak pergi ke suatu tempat yang baru baginya. Tentunya akan menjadi rentetan yang panjang.

Terkadang, pertanyaan-pertanyaan yang muncul bisa sangat cerdas. Cerdas karena sederhana, pikirannya masih belum kompleks. Karena sederhana, makanya bisa menjadi sumber inspirasi bagi orang dewasa: “iya ya. Kenapa baru kepikir sekarang.” Ada anak kecil usia 5 tahun yang saat diajari cara menggunakan telepon rumah, dia bertanya, “kalau kita telepon nomor kita sendiri, bisa nggak?” Pertanyaan yang cukup kreatif, saya pikir. Bandingkan dengan kita. Sudah berapa tahun kita punya ponsel, pernahkah terlintas di pikiran kita tentang pertanyaan seperti itu? Ya, kalau begitu, silakan dicoba sekarang. Atau cobalah SMS ke nomor kita sendiri, dan lihat apa yang terjadi.

Banyak bertanya, banyak mencoba, dan tidak takut gagal. Itulah 3 hal yang menjadi modal utama kita dari kecil. Dengan attitude seperti itu, maka kita nggak perlu heran dengan hasil penelitian George Hartmann dari Columbia University. Menurutnya, orang dewasa normal hanya bisa menambah perbendaharaan kosakata sebesar 50 kata per tahun. Bandingkan dengan kecepatan anak usia 6 sampai 10 tahun yang bisa menguasai 5000 kosakata tiap tahunnya. Masih menurutnya pula, perbendaharaan kosakata orang dewasa normal adalah 50000 kata. Dan angka itu hanya sekitar satu setengah kali lebih besar dibandingkan kosakata anak usia 10 tahun. Lalu, mengapa demikian?

Jangan salah, yang punya andil besar memangkas sikap belajar yang efisien tersebut bisa jadi adalah kita, orang dewasa. Mari kita lihat 2 adegan berikut:

Di suatu sore di hari Sabtu, seorang anak usia 5 tahun tiba-tiba berpikir, kalau kacang merah warna merah dan kacang hijau warna hijau, mengapa kacang kedelai beda sendiri ya? Kayaknya ada yang istimewa dengan kacang kedelai deh. Akhirnya ia mendekati bapaknya yang sedang sibuk dengan korannya. Bapaknya sempat meladeni untuk mendengarkan pertanyaan dari anaknya itu, tapi yang keluar dari mulutnya hanya “tanya ibu aja ya. Bapak lagi baca koran, nih.”

Akhirnya, si anak mencari ibunya yang kebetulan sedang menyiapkan makan malam di dapur. Pertanyaan serupa, dan jawabannya hampir sama: “tanya bapak aja ya. Bapak lebih ngerti kok.”

Akhirnya sang anak belajar suatu pelajaran berharga, “lebih baik mencari tahu sendiri daripada bertanya pada orang.”

Berikutnya, pengalaman saya sendiri di SMP. Saya bertanya pada guru Biologi, “Pak, kalau ada osmosis dan difusi; yang satu dari konsentrasi rendah ke tinggi dan yang satu kebalikannya, kenapa nggak terjadi keseimbangan, Pak?”

Guru Biologi menjelaskan, saya tambah bingung. Saya masih berbaik sangka dengan menganggap bahwa beliau hanya kurang bagus dalam menyampaikan ide-idenya. Tapi saya terlanjur mendapatkan pelajaran “oh, mereka pun nggak tahu. Berarti nggak ada gunanya nanya.”

Seringkali, orang dewasa—termasuk kita—terlalu malu untuk berujar, “saya nggak tahu.” Ini salah satu masalah. Padahal mengucapkan kalimat itu bukan berarti akhir dari segalanya. Kita masih bisa melanjutkannya dengan “saya cari di buku dulu ya. Insya Allah saya jawab besok,” atau cara lainnya.

Saya pernah mengikuti seminar psikologi di Fakultas Psikologi UI, tahun 2003 lalu. Fenomena ini disebut oleh salah seorang narasumber saat itu. Dan, menanggapi angka-angka hasil penelitian George Hartmann yang menarik itu, salah seorang narasumber mengatakan bahwa ada yang salah dengan pendidikan kita. “Pendidikan kita membuat bodoh.” Di mana salahnya? Saya juga nggak tahu.

Akhirnya, mayoritas orang yang baca tulisan ini bahkan nggak berusaha untuk mencoba saran saya sebelumnya tentang ponsel. Memang, kita ini lebih bodoh dari anak kecil.

Singapore,
Selasa pagi, 8 Agustus 2006

Labels:

8 Comments:

  • gw udah pernah tuh, Don. Yang ngirim sms ama telpon ke hape sendiri

    Klo sms, pasti nyampe

    Klo nelpon, ada nada sibuk. Sama halnya klo kita nelpon rumah kita dari rumah kita sendiri.

    Btw, ini gara2 habis kuliah, trus kesel ato gmana nih?

    By Anonymous tegar, at 12:53 PM, August 08, 2006  

  • Ah, nggak tuh. Sama sekali nggak lagi kesel. Emangnya nadanya keliatan tinggi ya?

    By Blogger Radon Dhelika, at 8:00 PM, August 08, 2006  

  • habisan, coba deh gw quote:

    Akhirnya, mayoritas orang yang baca tulisan ini bahkan nggak berusaha untuk mencoba saran saya sebelumnya tentang ponsel. Memang, kita ini lebih bodoh dari anak kecil.

    kesannya langsung ngejudge gtu.. *wekekek... intinya gantian mo comment yg waktu itu, yg gw kesel bgt --) ga dewasa bgt yah gw?

    By Anonymous tegar, at 11:32 AM, August 09, 2006  

  • 実は乃公がラドンくんに何度も質問をしていた. でも彼は何度も答たくなかった.多分そんな事は詰らなくて可笑しくて重い事じゃありません.Tapi bener gak sih... kadang2 kita juga males menjawab pertanyaan2 yang kita anggep gak penting, seperti masalah kacang itu(although it might be important for the asker), でしょう?

    (mohon maaf kalo jepunnya masih ngaco as usual, 宜しくお願いします)

    By Blogger apranum, at 2:55 AM, August 10, 2006  

  • まあ、それはそうだけど、私たちいつかおやになった時子どもたちとの責任て言うのがあるんだよ。それわ子どもたちの質問に答えること。どんなにつまらなくても、ばかばかしくても、ややこしくても、答えなきゃならないんだ。まあ、特に子どもたちの強化のためにね。

    By Blogger Radon Dhelika, at 12:32 AM, August 11, 2006  

  • AAh... lupa satu kata itu, "ばか", gara2 terlalu mikir kejauhan -_-

    兎に角ラドンくん"それ'わ'"じゃありませんとおもいます

    そんな事(受け答え)が分かっている. *duh aku masih pemula banget nih, jadi gak tau deh, siapa yang gak nyambung -_-*

    What I was trying to say is : 乃公もドンくんに沢山質問があるだった,ばかみたいな事だが... *mode omongan yang gak diselesein spt di drama2 gitu lho :P*

    Cuma ngomong sih (smoga ngerti maksudnya), since it's related to the topic :P

    Btw lagi Don, yang kisah telpon itu dapet dari mana sih? Dulu... waktu ku kecil, waktu telepon baru di pasang di perumahanku, aku juga nyobain nelpon rumah sendiri. Selain itu aku nyobain, kalo nomernya gak bener2 urut bisa gak ya. Misal no telp nya 123456, tapi mencetnya 123465. Terus, waktu teleponku bisa mulai terima 2 telpon sekaligus, aku juga nyobain lagi telpon ke nomerku, masih nada sibuk gak ya... The same thing with handphone :P Tapi ada juga pepatah... (atau bukan pepatah, apalah namanya :P) curiousity killed the cat, gimana tu

    By Blogger apranum, at 3:48 AM, August 11, 2006  

  • To Apranum:
    the correct response:
    え、そうかな?僕が君の質問に何度も答えなかった?覚えてないな。ほら、知っているでしょ、僕がどんなになにかを簡単に忘れるのが。でも、もしそれが本当だったら誤るよ。ごめん。
    :)

    By Blogger Radon Dhelika, at 11:12 PM, August 21, 2006  

  • 忘れるならいいよ。Tapi bahkan di previous comment (yang di atas ini) aku juga ngasih pertanyaan tu don :P 覚えてよ... (smoga bukan penggunaan よ yang salah)

    By Blogger apranum, at 7:15 AM, August 22, 2006  

Post a Comment

<< Home