Delicate, Delightful, Delicious
~A Blog

Tuesday, July 08, 2008

Terima Kasih, Bo!

Kalau Superman memakai kaos yang bertuliskan huruf “S”, kenapa Batman nggak memakai yang bertuliskan “B”? Soalnya sudah dipakai sama Bobo.

Dua pekan lalu saya merogoh kocek 8.500 Rupiah untuk sebuah nostalgia. Dengan penuh harap untuk mengenang kembali masa-masa kecil dulu, satu demi satu lembar halaman majalah yang kini semuanya sudah berwarna itu saya balik.

Tapi memang benar ini adalah nostalgia. Karena pertemuan saya dengan majalah Bobo kali ini seperti laiknya pertemuan saya dengan seorang sahabat yang sudah tidak bersua lima tahun.

Dan benar saja, hampir setengah jam ke depan, tanpa saya sadari senyum saya mengembang sembari melihat halaman-halaman majalah Bobo edisi 26 Juni 2008. Banyak emosi yang luber, tercurah kepada sahabat saya itu.

Tidak banyak yang berubah. Pertama saya mengamati sampulnya. Memang ilustrasi tokoh Bobonya sedikit berubah—bisa jadi karena ilustratornya berubah juga—tapi citra dan logo Bobonya tetap sama. Berada di pojok kiri atas, berwarna-warni dengan slogan Teman Bermain dan Belajar yang ditempatkan tepat di bawahnya. Tampaknya branding inilah yang terbukti selalu melekat dalam ingatan saya dan ribuan—atau bahkan jutaan—anak Indonesia lainnya, sehingga diletakkan di mana pun di rak penjaja majalah di pinggir jalan, saya dulu tidak pernah gagal untuk menemukan majalah yang sudah berumur 35 tahun ini.

Branding Bobo memang luar biasa. Bisa jadi, seperti saya, Anda pun masih terngiang jingle Bobo yang sempat secara berkala muncul sebagai iklan di TV. Bobo// teman bermain dan belajar// Be-o-be-o/ Bobo!// Asyik lo, kalau di rumah ada Bobo ...

Berikutnya sejenak saya mengamati 2 halaman rubrik Apa Kabar, Bo? Banyak pertanyaan-pertanyaan dari anak-anak yang kalau saya yang sudah akan menginjak usia 22 tahun ini membacanya, mau tidak mau akan terpaksa tersenyum. Kata salah satu surat yang dimuat, “Bo, bagaimana caranya kalau mau dapat sahabat pena?” Redaksi Bobo dengan sabar menyarankan sang penanya untuk mencoba mengirimkan surat ke beberapa nama anak yang juga mengirim surat ke Bobo.

Beberapa halaman dari rubrik Apa Kabar, Bo? saya temukan rubrik Arena Kecil. Senyum saya semakin mengembang sembari mengikuti kisah seorang anak yang diajak tantenya pergi ke kebun binatang.

Beberapa menit berikutnya saya habiskan untuk mengikuti kisah-kisah di rubrik Cerpen dan Dongeng. Ada dua cerpen dan satu dongeng untuk edisi kali ini. Saya berharap menemukan penulis favorit saya dulu, seperti Ny. Widya Suwarna (saya termasuk yang banyak dihibur dan dididik dengan kisah-kisah beliau), Benny Ramdhani, atau Kemala P., tapi rupanya tidak saya temukan di edisi itu. Entah barangkali mereka semua sudah tidak menulis cerita anak-anak lagi, dan kini diganti nama-nama baru. Tapi yang jelas nama-nama tadi begitu lekat di memori saya dan banyak membantu memercikkan semangat saya untuk belajar menulis-nulis cerpen atau dongeng sejak SMP.

Dan—ya, saya jadi teringat rubrik Sayembara Bobo dan Uji Imajinasi! Memang, dibandingkan cerpen dan dongeng yang hanya sesekali saya buat dan saya kirim, kedua rubrik itulah yang lebih banyak memaksa saya mengayuh sepeda dari rumah menuju kantor pos untuk mengirim kartu pos-kartu pos berisi jawaban TTS, dan lainnya. Saya masih ingat menggunting kupon TTS dan UI, melekatkannya pada kartu pos, menulis jawaban di lembar belakangnya, dan memasukkannya bersama kartu pos untuk teka-teki lainnya sekaligus ke dalam amplop sebelum melekatkan perangko 300 Rupiah dan memberikannya ke loket di Kantor Pos. Masa-masa itu adalah saat saya masih SD dan SMP.

Selesai mengamati Sayembara Bobo (ah, ke mana perginya Sayembara Bibi Titi Teliti?), langsung saya ikuti cerita-cerita bergambar khas majalah Bobo: Ceritera dari Negeri Dongeng dengan Oki dan Nirmalanya; Paman Kikuk, Husin, dan Asta; Bona, Gajah Kecil Berbelalai Panjang; dan tentu saja Bobo dengan Bapak, Emak, Upik, Coreng, dan lainnya.

Komentar saya cuma satu: Kok tidak kehabisan cerita ya? Memang dulu saya juga pernah membatin serupa ketika SMP, tapi kini ketika melihat cerita-cerita itu masih bertahan, kekaguman saya semakin bertambah.

Secara santai saya mengikuti kisah paman Kikuk yang diceritakan sedang berwaspada terhadap copet di tempat umum. Ketika di jalan, ketika di bus, ketika di kereta, sikapnya selalu siaga. Lirik kiri-kanan, sampai akhirnya kondektur yang mencolek bahunya pun dibanting. Keluarga Bobo, di halaman yang lain, diceritakan sedang merencanakan mengadakan konser musik.

Tokoh-tokoh rekaan tadi semua adalah bagian yang tak terpisahkan dari majalah Bobo. Mereka semua membentuk cerita, menyampaikan pelajaran, dan membentuk branding Bobo.

Bahkan, kalau menurut saya, “ketokohan” Bobo, Bona, Nirmala, dan Oki sudah bisa disamakan dengan Donal Bebek—tentu saja di level nasional. Sehingga, saya bisa bilang bahwa bila Disney punya Donal Bebek dan Miki Tikus, dan Jepang punya Doraemon; Indonesia punya Bobo dan kawan-kawan. Dan tampaknya pengembangan tokoh-tokoh Bobo dikerjakan dengan serius oleh majalah Bobo dengan program-program seperti Operet Bobo, Bobo Fair, Sanggar Bobo, dan lainnya. Ekstensi produk dengan peluncuran majalah Kreatif (Bona dan Rongrong), majalah Oki-Nirmala juga menjadi salah satu cara.

Cukup banyak ilmu dan inspirasi yang saya dapatkan dari membaca Bobo selama ini. Dari membaca satu edisi itu saja, saya jadi tahu bahwa bola mata manusia tidak pernah bertambah besar sejak kita lahir. Dan konon katanya kita selalu menutup mata ketika bersin. Dari membaca cerpen dan dongengnya, kembali saya bersemangat untuk menulis. Dan tentu saja inspirasi untuk menulis tulisan ini datangnya dari membaca Bobo.

Untuk sahabat yang telah menemani saya bermain dan belajar sejak paruh kedua SD hingga awal SMA, saya ucapkan terima kasih yang tulus.

Terima kasih, Bo!

Singapore,
Senin, 7 Juli 2008

NB: Gimana kalau Bobo bikin rubrik Terima Kasih, Bo!? Isinya tentang kesan-kesan pembaca “seniornya”. Kelihatannya menarik :)

Tautan:
Belajar inflasi lewat galeri Bobo (wajib buka)
Cerpen Ny. Widya Suwarna yang diceritakan kembali: Cleaning Girl (baca deh)
Cerpen lainnya oleh Ny. Widya Suwarna: Tiga Hati Penuh Kasih, Tersinggung Pada Kuda
Bobo menemani dua generasi

Website Bobo
(kenapa tidak membuat domain sendiri?)

Sumber gambar:
Paper: Majalah Bobo, esnips.com (terima kasih untuk Tomi Ngalusi dan Brahmastagi)

Labels: ,

Tuesday, May 22, 2007

Agar “Sistem Pencernaan” Sehat: Menulis

Sebuah artikel yang pernah saya baca mengetengahkan fakta yang menarik: penulis-penulis terkenal ternyata hanya menghabiskan sedikit sekali waktu untuk menulis. Sama sekali jauh dari bayangan kita bahwa mereka menghabiskan belasan jam sehari untuk menulis, bahkan terkadang sampai begadang untuk mengejar deadline seperti dalam gambaran-gambaran mangaka Jepang.

Charles Dickens yang terkenal dengan Oliver Twist-nya ternyata hanya menghabiskan 4 jam sehari untuk menulis. Dia hanya menulis antara waktu sarapan sampai waktu makan siang. Sisanya dihabiskan untuk apa? Rupanya dia lebih memilih menikmati 2 jam untuk berjalan-jalan menyusuri jalanan kota London, mengamati banyak hal. Fakta bahwa dia menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan selama setengah dari waktu yang dia alokasikan untuk menulis menjadi menarik buat kita.

John Maynard Keynes, ekonom kenamaan, juga hanya menghabiskan 4 jam sehari—terkadang hanya 2 jam—untuk menulis.

Graham Greene yang seumur hidupnya menghasilkan 26 novel—ditambah cerita-cerita pendek, naskah film, naskah drama, dan lain-lain—malah hanya mengalokasikan 2 jam sehari, dari jam 7 sampai 9 pagi. Selama 2 jam itu dia bisa menulis hingga 900 kata.

Penulis kontemporer semacam J.K. Rowling konon katanya menghabiskan sampai 8 jam sehari untuk menulis buku keenamnya, Harry Potter and the Half-Blood Prince.

Barangkali karena tuntutan persaingan yang semakin ketat yang membuat penulis-penulis zaman sekarang menghabiskan lebih banyak waktu untuk menulis dibandingkan rekan-rekannya di masa lalu.

Jadi, pertanyaannya: mengapa sebagian besar penulis hanya menghabiskan sedikit sekali waktu mereka untuk menulis? Apa penjelasan rasionalnya?

Banyak yang menyebut menulis itu sebuah proses kreatif. Tidak lain karena menulis itu mirip dengan proses pencernaan. Pengibaratan ini cukup representatif dengan menitikberatkan pada input dan output. Dengan kata lain, seperti proses pencernaan, menulis juga membutuhkan input agar bisa menghasilkan output.

Dengan pengibaratan seperti ini, kita nggak terlalu heran mendapati Graham Greene atau Charles Dickens hanya menghabiskan waktu 2 sampai 4 jam sehari untuk menulis. Sisa waktunya dalam sehari jelas untuk mencari inspirasi. Charles Dickens melakukannya dengan jalan-jalan di kota London. H.C. Andersen melakukan perjalanan keliling Eropa untuk mendapatkan ide untuk cerita-ceritanya.

Dengan pengibaratan seperti ini juga, mustahil kalau kita mengharapkan output lebih banyak dari input. Nggak mungkin bagi penulis untuk menulis terus menerus tanpa mendapatkan input tambahan, entah dari membaca koran, buku fiksi, buku non fiksi; bertemu atau diskusi dengan orang baru; mengalami kejadian-kejadian atau pengalaman-pengalaman baru dan lainnya.

Yang juga menarik bila menulis disamakan dengan sistem pencernaan adalah kalau kita melihatnya dari sisi lain. Bagaimana kalau kasusnya adalah kebanyakan input tanpa output? Mungkin secara langsung kita bisa memprediksi akan terjadi penyakit pencernaan, apa pun itu. Berarti, orang yang terlalu banyak input, tapi nggak pernah mengusahakan input-inputnya menjadi karya-karya sebagai outputnya bisa disebut akan berpenyakit. Begitu logika sederhananya.

Berita buruknya, kitatermasuk sayabisa jadi termasuk kelompok itu! Iya, betul sekali; sebagian besar dari kita termasuk kelompok orang-orang yang terlalu banyak input tapi minim output dalam masalah tulisan. Saya ingat omongan teman saya, “kita ini sebenanya sudah baca ratusan judul buku lo, dari kecil. Tapi kok sampai sekarang untuk menulis satu buku saja nggak bisa ya?”

Ratusan buku? Anda kurang setuju dengan teman saya? Mari kita korek memori kita. Sejak SD, walaupun buku pelajaran, kita sudah membaca banyak buku. Ambil contoh buku Matematika. Kalau dulu satu tahun kita baca satu buku Matematika, berarti sampai SMA kita sudah baca minimal 11 buku Matematika—bahkan tamat sampai latihan-latihan soalnya. Itu baru Matematika. Jangan lupakan juga Bahasa Indonesia, PPKn, Sejarah, Biologi, Fisika, Sosiologi, dan lainnya.

Selain buku-buku pelajaran, untuk saya pribadi, puluhan judul komik; puluhan buku petualangan anak-anak semacam Lima Sekawan, Trio Detektif, dan lainnya; puluhan novel; puluhan buku Islam termasuk Quran dan terjemahannya; puluhan buku non-fiksi lainnya; ratusan artikel yang tersebar di internet; dan masih banyak lagi akan saya masukkan ke dalam daftar buku atau bacaan yang pernah saya baca.

Dengan kata lain, banyak ide-ide yang sempat mampir di otak saya. Sayangnya, sebagian besar—kalau bukan semuanya—hanya mampir, kemudian terlupakan. Padahal Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Dengan kenyataan seperti ini, omongan teman saya itu menjadi sangat tepat sasaran.

Padahal itu baru dari satu jenis input: buku. Belum lagi pengalaman-pengalaman hidup kita selama ini. Maka dengan begitu banyak input yang sudah kita serap selama ini, sangat nggak seimbang kalau outputnya hanya karangan-karangan setengah hati untuk tugas mengarang pelajaran Bahasa Indonesia selama di sekolah dulu. “Sistem pencernaan” kita akan bermasalah kalau begitu.

Baiklah, menulis buku memang nggak semudah membalikkan telapak tangan; banyak faktor di situ. Tapi di zaman sekarang ini, membuat blog sudah semudah mengangkat jari kita. Tinggal beberapa klik di mouse kita, dan bisa langsung jadi. Memulai menulis di blog bisa kita coba. Secara khusus tentang blog, Ikhlasul Amal bahkan sampai mengeluarkan ungkapan yang menarik: “Ikatlah ilmu dengan blog.”

Betul, blog bisa jadi salah satu penyemangat kita untuk bisa menyeimbangkan input dengan output.

Singapore,
Selasa, 22 Mei 2007

Bahan bacaan:
"Ikatlah Ilmu dengan Blog", oleh Ikhlasul Amal

Labels: ,

Thursday, February 22, 2007

Disini Di Jual Kartu Perdana

Budi Rahardjo, dosen ITB yang cukup populer di dunia blog Indonesia, dalam tulisannya menyebut bahwa banyak sekali kesalahan dalam tulisan mahasiswanya yang dia periksa. Salah satu hal yang menjadi perhatiannya adalah tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, selain tentang format tulisan, fokus target pembaca, dan lainnya.

Kalau Budi Rahardjo fokus pada hal itu, maka saya lebih tertarik untuk menyorot hal yang lebih sederhana, tetapi sudah menjadi penyakit kronis bangsa Indonesia karena terlalu biasa diabaikan. Yang saya maksud adalah tentang kesalahan penggunaan awalan dan kata depan.

Contohnya iklan berikut ini di Kompas. Ini adalah iklan yang dipasang oleh Kompas Cyber Media (KCM), memberitahukan kalau walaupun Kompas nggak terbit pada tanggal 31 Desember dan 1 Januari lalu karena berturut-turut libur Idul Adha dan tahun baru Masehi, pelanggan setia Kompas masih bisa menikmati berita-berita aktual Kompas di KCM. Maksudnya jelas, tapi mata saya cukup sensitif saat itu untuk melihat satu kesalahan tata bahasa di situ. Ya, jelas sekali ada kesalahan penggunaan “di” yang seharusnya menjadi awalan, bukan kata depan. Begitu juga kesalahan serupa di iklan yang dipasang KIA.

Ah, bahkan nggak usah jauh-jauh melihat ke surat kabar. Kalau Anda jalan-jalan sebentar melihat daerah-daerah teramai di kota mana pun, niscaya akan Anda temui kesalahan-kesalahan serupa di papan reklame, petunjuk jalan, papan nama toko, dan masih banyak lagi. Kalau di daftar, akan kita dapati deretan-deretan yang membuat kening kita berkerut: “disini di jual kartu perdana”, “rumah ini di jual”, “di larang masuk kecuali karyawan”, dan lainnya.

Inilah sebabnya saya menyebut kesalahan penggunaan kata depan dan awalan sebagai penyakit kronis orang Indonesia. Padahal ini adalah pelajaran bahasa Indonesia sejak kita SD. Anda bisa mendapati semua lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa, dosen, Doktor sering melakukan kesalahan yang sama. Gambar di bawah ini adalah salah satu kesalahan yang saya dapati di Jurnal Teknik Sipil ITB.

Saya pribadi bukan termasuk yang sangat fanatik pada penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar setiap saat. Bahkan di blog saya sendiri, saya membuat standar penggunaan kata “nggak” sebagai pengganti “tidak”. Begitu pula dengan “Singapore”; bukan “Singapura” sesuai dengan EYD. Karena bagi saya, ada 2 hal yang seharusnya bisa ditoleransi di penggunaan bahasa Indonesia, yaitu kesalahan ejaan karena kata serapan, dan kesalahan diksi karena pengaruh kata-kata populer. Seperti kata Remy Sylado, pada dasarnya bahasa Indonesia berasal dari bahasa pasar. Banyak kesalahan transliterasi yang sekarang malah menjadi populer. Masih menurutnya, “Bahasa yang tertib memang harus dijaga. Namun di samping itu bahasa Indonesia dengan istilah-istilah kolokuial juga tidak perlu dianggap dosa.” Tapi jelas, kesalahan-kesalahan yang bukan dianggap dosa olehnya hanya mengacu pada kesalahan diksi dan ejaan karena pengaruh transliterasi.

Jadi, saya nggak terlalu meradang melihat fenomena “apotik” yang dengan gagah mengungguli “apotek” di hasil pencarian Google, walaupun kita semua tahu kalau “apotek” dan “apotik” adalah contoh paling klasik pelajaran kata baku. Tapi beda kasus kalau saya mendapati fenomena kesalahan penggunaan kata depan dan awalan yang menjamur, menggurita. Karena seharusnya nggak ada alasan bahwa kita bisa salah dalam penggunaan kata depan dan awalan. Ini adalah hal yang sama sekali nggak dipengaruhi bahasa asing atau bahasa populer. Kalau kita membaca ulang tulisan kita sekali saja, saya yakin ada peluang yang sangat besar bagi kita untuk mengidentifikasi kesalahan penggunaan kata depan dan awalan di tulisan kita.

Penelitian sederhana saya menghasilkan fakta menarik bahwa halaman web dengan kata “di mana” dan “dimana” yang berhasil di-indeks oleh Google di semua halaman web berbahasa Indonesia berjumlah hampir sama. Berarti, secara kasar bisa disebut bahwa 1 dari 2 orang Indonesia nggak paham bedanya kata depan dengan awalan.

Bagaimana pun bahasa adalah cermin penggunanya. Dari bahasa kita bisa mengetahui—atau minimal menerka-nerka—kepribadian, cara berpikir, ketelitian, maupun keseriusan orang. Nggak heran bila ada seorang ekspatriat di Jakarta yang sampai menanyakan seberapa serius Adam Air memperhatikan perawatan pesawat-pesawatnya. Ada apa gerangan? Oh, rupanya sang ekspat ini menemukan 10 kesalahan tata bahasa Inggris dari iklan Adam Air selembar penuh di Jakarta Post 19 Desember 2005! Logikanya, kalau sekadar membawa naskah iklan ke Jalan Jaksa untuk diedit saja nggak bisa, bagaimana dengan urusan perawatan pesawat? Makanya saya bisa memaklumi kalau di akhir tulisannya, dia menulis, “Sorry Adam, but for all your expenditure, you've lost at least one potential passenger.”

Dalam konteks yang lebih ketat, Ariel Heryanto juga pernah menyindir kita semua dalam tulisannya di Kompas saat Nadine “Indonesia is a beautiful city” Chandrawinata sedang menjadi topik bahasan yang hangat. Tulisnya, “Indonesia semakin mirip bangsa-bangsa bekas jajahan Inggris. Semakin banyak orang Indonesia yang tidak mampu menulis satu halaman atau bicara lima menit dalam bahasa Indonesia yang mulus, tanpa istilah-istilah bahasa Inggris mutakhir yang sedang pop. Mereka juga tidak mampu menulis satu halaman atau bicara lima menit dalam bahasa Inggris yang mulus, tanpa berlepotan logat dan pengaruh tata-bahasa bahasa Indonesia. Ada banyak Nadine di antara yang menertawakan Nadine.”

Dengan ungkapan Ariel Heryanto seperti itu, seharusnya sudah nggak terkejut lagi kalau kita mendapati salah satu tokoh berbahasa Indonesia lisan terbaik adalah justru Richard Gozney, orang asing.

Oh ya, apakah Anda menemukan satu kesalahan penggunaan awalan di tulisan ini? Selamat, berarti Anda lulus.

Singapore,
Kamis, 22 Februari 2007
NB: Maaf bagi yang kurang berkenan dengan tulisan ini


Bahan bacaan:
Pedoman ejaan, Wikipedia Indonesia
Tulisan Jakartass tentang iklan Adam Air
"Remy Sylado: Bahasa Televisi Harus Luwes", Gatra.com
"Nadine" oleh Ariel Heryanto, Kompas.com
"Panduan Menulis dan Mempresentasikan Karya Ilmiah" oleh Budi Rahardjo, cert.or.id
Blog Polisi EYD

Perlu dicoba:
dimana vs "di mana", apotek vs apotik, Google
dimana vs "di mana", disini vs "di sini", Googlefight

Labels: ,

Saturday, February 10, 2007

The World is Blogging; Are You Not?

Di sepanjang tahun 2006, kita menyaksikan blog-blog politisi bermunculan. Walaupun belum banyak, tapi sudah cukup aneh dan mengherankan rasanya melihat seorang Juwono Sudarsono ngeblog layaknya orang-orang kebanyakan. Juga seorang Yusuf Asy’ari menulis pengalaman-pengalaman perjalanannya yang secara bebas bisa diakses dan dibaca oleh orang banyak.

Sebuah terobosan yang unik tentunya di zaman seperti ini. Dengan ciri khas blog yang menyediakan fasilitas komentar, kesan yang langsung bisa ditangkap oleh orang awam seperti saya adalah tentang sebuah usaha mempersempit jarak antara rakyat—apa pun itu artinya—dengan pemimpin-pemimpinnya.

Juwono Sudasono tampaknya berhasil di situ. Memang tulisan-tulisan utama di blog itu adalah opini pribadi Juwono terhadap topik tertentu yang biasanya adalah isu-isu hangat nasional maupun internasional. Tapi dia pun menyertakan beberapa tulisannya yang bersifat pribadi, dengan menceritakan tentang kelahiran cucu pertamanya, misalnya. Tulisan pertamanya ini mendapat respon yang luar biasa. Terakhir saya cek, ada 45 komentar yang sebagian besar mengucapkan selamat. Anda bisa bayangkan, sebelum ada blog seperti ini, kemungkinan buat orang biasa seperti saya dan Anda untuk sekedar berkomunikasi kepada beliau hampir mendekati nol. Lewat SMS? Titip salam lewat satpam di depan rumahnya? Telepon langsung? Yang mana pun terdengar mustahil bagi saya. Tapi kini, tinggal beberapa klik di mouse kita dan mengetik beberapa baris kalimat, selesai. Dan kita bisa berharap bahwa pesan kita dibaca oleh beliau.

Dalam blog Yusuf Asy’ari pun demikian. Walau pun didahului oleh Juwono Sudarsono, tapi dari blognya, minimal orang banyak jadi tahu tentang kegiatan-kegiatan dan rencana-rencana beliau di bidang pembangunan perumahan, seperti yang dituturkan di artikel “Pembangunan Rusunawa di IPB”, misalnya. Tulisan itu sendiri langsung dikomentari oleh mahasiswa IPB dan beberapa orang Bogor yang merasa berkepentingan.

Mungkin begitu terkesimanya Fatih Syuhud mendapati 2 menteri kita membuat blog sehingga baik Juwono Sudarsono maupun Yusuf Asy’ari dianugerahi gelar Blogger of the Week olehnya.

Selain mereka berdua, ada beberapa lagi politisi-politisi Indonesia yang membuat website pribadi. Sebut saja Sutiyoso, Hidayat Nur Wahid, SBY, Zulkieflimansyah, Faisal Basri, Sarwono Kusumaatmadja, dan mungkin masih ada lagi yang kelewatan. Tapi saya lebih suka menyebut website-website mereka sebagai website pribadi; bukan sebuah blog. Kebanyakan hanya kumpulan berita tentang aktivitas mereka ditambah beberapa galeri. Kemunculannya pun bisa jadi dipicu oleh beberapa momen seperti Pilkada Jakarta yang sudah sebentar lagi. Hal ini terutama mengacu pada 2 nama terakhir.

Jelas, fenomena seperti ini bukan hanya di Indonesia. Politisi-politisi negara lain pun nggak sedikit yang memulai ngeblog. Lionel Jospin, yang 2 kali dicalonkan sebagai Presiden Perancis; Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran; Ségolène Royal, calon kuat Presiden Perancis; Ferenc Gurcsany, Perdana Menteri Hungaria; adalah yang termasuk dalam daftar panjang politisi yang ngeblog.

Selain politisi, mungkin wartawan lah yang juga sekarang banyak meramaikan blogosphere. Sebut saja Ong Hock Chuan, sang mantan jurnalis. Ada lagi Ahiruddin Bin Attan yang sempat membuat ramai Malaysia tempo hari. Bahkan Tempo Interaktif juga mempercayakan inovasi terbaru mereka dalam portal berita melalui sebuah blog. “Sementara situs web tradisional lebih merupakan ‘pusat arsip digital’, situs blog lebih merupakan arena ‘percakapan’,” tulis S. Malela Mahargasarie, Pemred Koran Tempo dalam posting pertamanya di blog Tempo Interaktif.

Artis, sebaliknya, walaupun bisa menjadi media promosi yang sangat mumpuni bagi mereka, tapi belum banyak yang mempunyai blog, khususnya di Indonesia. Padahal di China, menurut paparan teman saya, blog yang paling terkenal dan banyak dikunjungi orang adalah blog milik artis. Rata-rata komentar di setiap postingnya mencapai ribuan.

Sebuah pertanyaan besar yang mungkin melintas di benak kita: ada apa dengan blog sampai figur publik, utamanya politisi tertarik menyentuh dunia yang sama sekali baru bagi mereka? Tentunya ada sesuatu yang menarik di blog sampai mereka rela menginvestasikan waktu, pikiran, tenaga, uang untuk mengembangkan blog mereka.

Walaupun bukan yang terbaru, Dave Sifry, pendiri dan CEO Technorati, dalam blognya memaparkan banyak statistik tentang blogosphere. Per 31 Juli 2006, jumlah blog yang ada mencapai angka 50 juta. Dan di periode sekitar itu, setiap harinya ada 175 ribu blog baru yang lahir—berarti 2 blog setiap detik.

Kita melihat masa depan blog yang masih bisa menjadi 2 sisi mata pedang. Di satu sisi, infomasi akan cenderung menjadi milik publik, nggak dikuasai secara menyeluruh oleh media massa arus utama (mainstream), tapi sisi lainnya memberikan pertanyaan dan tantangan baru buat kita: sejauh mana kredibilitas informasi yang tersebar di blogosphere bisa dipertanggungjawabkan?

Tetapi saya lebih melihat blog dari sisi yang pertama—sisi positif yang membuat dunia menjadi lebih rata, meminjam istilah Thomas Friedman dalam bukunya The World is Flat. Persaingan dunia jurnalistik yang sudah diisi pemain-pemain lama nan mapan seperti Kompas, Republika, detikcom, dan lainnya akan dibuat rata kembali.

Sekarang sudah ada blogger-blogger seperti Priyadi, Nofie Iman, atau Yosef Ardi yang secara rutin membahas isu-isu kontemporer dalam kacamata lain—beda dengan media massa arus utama. Priyadi dalam blognya seringkali memaparkan penipuan-penipuan yang terjadi di sekitar kita, terutama tentang hoax atau kabar bohong, dan secara komprehensif mengupasnya tuntas—hal yang tentunya jarang bisa kita jumpai di Kompas. Sebut saja tentang email kode produk babi yang sangat meyakinkan, atau tentang air heksagonal yang mendadak jadi obrolan ibu-ibu di Indonesia. Lita Mariana lain lagi. Lewat blognya, BananaTalk, Lita lebih fokus membahas tentang dunia kesehatan, ibu, dan anak. Pernah ada keluhan tentang bonus biji jarak dari Bobo yang dimuat di salah satu surat pembaca di koran. Tapi isu dan tulisannya justru menyebar cepat lewat blog dan milis, juga jadi topik bahasan yang menarik di BananaTalk.

Saya menyebutnya media alternatif. Ya, blog adalah media alternatif. Tapi nggak lama lagi mungkin sudah menjadi media pelengkap, bukan lagi sebagai substitusi dari media massa mainstream. Karena kecenderungan ke arah itu sudah tampak. Banyak berita yang kini “terpaksa” dimunculkan di surat kabar karena sudah sangat meledak dan menjadi bahasan yang hangat di blogosphere.

Jadi, pertanyaan saya buat Anda adalah: are you not blogging?

Singapore,
Sabtu, 10 Februari 2007


Bahan bacaan:
Tulisan Ong Hock Chuan di The Jakarta Post: blog level field for corporations and governments
Dari Blog Tempo Interaktif: Mengapa Tempo Ngeblog?

Labels: ,

Wednesday, August 30, 2006

Yang Berawal Dari Kebiasaan

Sering terpikir oleh saya tentang gagasan menciptakan hobi atau karakter. Hal ini terinspirasi dari pernyataan Stephen Covey dalam bukunya, The 7 Habits of Highly Effective People, “taburlah gagasan, petiklah perbuatan. Taburlah perbuatan, petiklah kebiasaan. Taburlah kebiasaan, petiklah karakter. Taburlah karakter, petiklah nasib".

Berarti, Stephen Covey secara jelas mengindikasikan bahwa karakter itu berbeda sifat dengan energi. Nggak ada yang namanya hukum kekekalan karakter, “karakter tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan, melainkan hanya bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.” Nggak ada itu.

Bagaimana dengan hobi? Ini hanya gagasan tambahan dari saya saja. Hobi juga sebenarnya hasil taburan kebiasaan seperti yang diungkapkan Covey. Hanya saja, tergantung dari jenis kebiasaan yang ditabur. Jika kebiasaannya bersifat pemikiran atau cara berpikir, maka yang tumbuh adalah karakter. Seperti kalau menabur kebiasaan membuang sampah di tong sampah sejak kecil, maka yang akan dipetik adalah karakter itu. Sedangkan kalau kebiasaannya bersifat kegiatan-kegiatan spesifik, maka yang dihasilkan adalah hobi. Seperti kebiasaan membaca yang akan menjadi hobi membaca.

Baru akhir-akhir ini saya merasakan kebenaran teori itu, bahwa hobi bisa diciptakan. Sekarang saya agak berbeda kalau ditanya tentang hobi. Biasanya jawabannya nggak jauh-jauh dari membaca, main bola, nonton bola, merenung. Tapi kini secara pasti sudah berani untuk menambah satu hal lagi: menulis.

Nah, bagaimana dengan gagasan memusnahkan karakter atau hobi? Sama saja. Sudah banyak kisah di sekitar kita tentang orang-orang yang tiba-tiba saja punya hobi baru dan meninggalkan hobi lamanya. Contohnya orang-orang yang meninggalkan hobi merokoknya. Kebanyakan dari mereka melakukannya dengan terapi permen karet. Begitu juga karakter. Teman seangkatan saya ada yang dulu di SMA selalu diejek ketika berbicara di depan kelas. Entah karena merasa kurang percaya diri atau bagaimana, ketika berbicara jadi terdengar seperti sedang menangis. Di situlah diejeknya. Tapi kini Anda sudah nggak bisa menemukan teman saya yang dulu lagi. Sekarang dia sudah menjadi seorang pembicara yang berkualitas, dan memegang 4 kelompok pengajian kelas di SMA-SMA Depok.

Ini sebuah ide yang menarik tentunya, kalau kita percaya bahwa karakter dan hobi bisa diciptakan dan dimusnahkan. Berarti kita bisa menciptakan karakter dan hobi yang positif bagi diri kita atau orang lain, dan membuang yang negatif ke tong sampah. Seperti menciptakan hobi membaca Quran, hobi membaca, hobi pemrograman komputer, hobi utak-atik peralatan elektronik, dan juga karakter yang tegas, cekatan, gampang menolong orang.

Ada setidaknya 3 jalur penerapan bagi teori penaburan kebiasaan ini. Yang paling sederhana adalah tentunya penaburan kepada diri sendiri. Bukan mustahil kita menciptakan hobi-hobi baru buat kita sendiri, dan menciptakan karakter-karakter yang kita inginkan. Modalnya satu: harus yakin bahwa nggak ada yang namanya hukum kekekalan hobi dan karakter.

Yang kedua dan yang lebih menarik adalah orang tua yang menabur kebiasaan ke anak-anaknya. Seperti menuliskan sesuatu ke kertas yang masih putih. Peluang untuk ini sangat terbuka ketika anak-anak masih kecil. Ketika kecil, semua gampang untuk dimasukkan ke memori anak-anak. Anak-anak Indonesia yang dibesarkan di Amerika, karena sehari-harinya mendengarkan bahasa Inggris, maka ketika besar akan fasih bahasa Inggrisnya, walaupun nggak pernah mendapatkan pelajaran bahasa secara formal dan hanya tahu dari TV, misalnya.

Nah, kalau bahasa saja bisa cepat diserap, apalagi kalau menciptakan kebiasaan buat anak. Sepupu saya dari kecil sudah dikasih komponen-komponen elektronik, mulai dari baterai, kabel, resistor, dan lain-lain. Di awal SD, anak itu sudah mulai menyolder. Sekitar kelas 3 SD sudah bisa memperbaiki remote TV yang rusak. Kelas 6 SD sudah mendapat pesanan dari orang—walaupun masih keluarga sendiri—untuk dibuatkan suatu alat tertentu. Agak mirip dengan kisah masa kecil Sehat Sutardja, lulusan University of California, Berkeley yang kini punya perusahaan semikonduktor papan atas, Marvell.

Itu baru hobi yang biasa. Bagaimana dengan hobi yang lain dari yang lain, seperti hobi membaca Quran dan menghafal Quran? Ada kisah dari Durottul Muqoffa yang hafal Quran pada usia 6 tahun. “Ya, kami biasakan kalau bermain-main bersama teman lainnya sambil menghafal surat-surat pendek. Mau tidur menghafal lagi, bangun tidur menghafal lagi. Jalan-jalan, sehari-hari tidak berhenti berhadapan dengan Quran,” kata ibu kandungnya, Mundasah, seperti dikutip dari Suara Merdeka.

Memang, selagi masih kecil, anak bisa diajarkan apa saja. Begitu fitrahnya. Teman saya dulu di SMA ada yang sudah hafal 7 juz Quran. SD dan SMP dia dihabiskan di Nurul Fikri (NF), sebuah sekolah Islam terpadu yang cukup populer di Depok. Ketika saya tanya, ternyata memang rahasianya di kurikulum sekolahnya. Lulus dari SD NF, sebagian besar lulusannya sudah hafal 6 juz. Lalu, ditambah lagi 3 juz di SMP.

Yang lebih hebat lagi adalah kalau bisa menumbuhkan karakter unggulan. Saya sedikit terkejut ketika membaca sebuah artikel tentang anak-anak dari Yusuf Qaradawi, ulama internasional yang sekarang berdomisili di Qatar. Anak beliau total ada 7—3 putra dan 4 putri. Tiga dari empat putrinya memiliki gelar PhD dari universitas-universitas di Inggris—di bidang fisika nuklir, kimia organik, dan botani. Sedangkan putri keempatnya bergelar Master di bidang Biologi dari University of Texas. Putranya, Mohamed, mendapat PhD di bidang teknik mesin dari University of Central Florida di Orlando. Dua putra lainnya sedang mengejar gelar Master di bisnis. Dan hanya satu orang saja putranya yang mengikuti jejak bapaknya untuk belajar ilmu Islam di tingkat yang lebih tinggi. Tentunya ada suatu karakter yang berhasil ditanamkan orang tuanya sehingga anak-anaknya bisa seperti itu. Karakter untuk selalu menjadi ranking satu? Mungkin saja.

Jalur ketiga, dan yang paling hebat, adalah kalau penaburan kebiasaan ini dilakukan pemerintah kepada rakyatnya. Selain akan menghasilkan karakter bagi lebih banyak orang, proses ini juga bisa menciptakan karakter suatu bangsa. Seperti pemerintah Jepang yang menciptakan karakter kebersihan dan kerapihan bagi orang Jepang.

Singapore,
Selasa malam, 29 Agustus 2006

Labels: ,

Sunday, August 27, 2006

Pengokot: Bukti Kekuatan Duet Blog-Milis

Apakah Anda juga salah seorang korban penerima email “pengokot”—yang dibuat tertawa terbahak-bahak, atau setidaknya mengurai senyum membaca tulisan itu? Tenang saja, saya juga salah satu korbannya. Sekitar bulan Februari lalu saya mendapat email yang cukup fenomenal itu dari beberapa milis yang saya ikuti. Gaya tulisannya jenaka, menghibur, dan yang paling perlu diacungi jempol adalah idenya yang kreatif. Dari sebuah tulisan di surat pembaca di majalah Tempo, bisa disulap menjadi sebuah tulisan yang sangat cepat beredar di jagad milis saat itu.

Secara kebetulan, selain berkesempatan membaca email itu, saya juga berkesempatan mengetahui orang yang membuat tulisan itu. Bukan, bukan bertemu secara fisik, tapi mengetahui sumber tulisan itu, yang nggak lain nggak bukan berasal dari sebuah blog. Pemiliknya bernama Agung yang menggunakan nickname Mbot.

Itu salah satu kisah dari dunia blog Indonesia. Sejak ada situs blogger.com secara resmi pada 1999, jumlah pemiliknya pun semakin bertambah. Itu juga didukung oleh semakin banyaknya situs-situs penyedia layanan pembuatan blog semacam Multiply dan Wordpress. Teman saya menyebut blog sebagai sarana pemenuhan kebutuhan kelima dalam teori hirarki Abraham Maslow. Yang lebih menarik lagi adalah ungkapan Enda Nasution, Bapak Blog Indonesia, yang komentar-komentarnya sering dikutip Kompas, “jika saat ini Rene Descartes bangkit dari kubur, maka ia mungkin akan berkata: saya ngeblog, karenanya saya ada.”

Tapi, penyebaran tulisan Agung itu memerlukan satu komponen lagi: milis. Yang ini pun memiliki fenomenanya sendiri di Indonesia. Sejatinya bernama mailing list. Tapi entah bagaimana ceritanya, lidah orang Indonesia lebih cocok dengan kata “milis”.

Dari dulu sampai sekarang, bisa kita katakan milis adalah salah satu sumber berita yang berpengaruh, terutama di kalangan terpelajar yang mengenal internet. Tentunya ini terlepas dari fakta banyaknya hoax-hoax yang muncul. Tetapi, justru dengan mengamati betapa hoax-hoax bisa cepat menyebar dari milis yang satu ke milis yang lainnya, kita jadi tahu betapa berpengaruhnya milis. Anda mendapat kabar tentang planet Mars yang akan bersinar terang pada 26 Agustus kemarin? Itu ternyata sebuah hoax. Saya sendiri pun tadinya percaya mentah-mentah, sampai membaca banyak analisis tentang itu di internet.

Jadi, sudah percaya bahwa milis itu begitu berpengaruh? Bayangkan saja berapa banyak orang yang meneruskan email tentang Mars itu ke semua orang yang dikenalnya. Saya pikir, begitu berpengaruhnya milis dipengaruhi oleh 2 faktor. Yang pertama, tentunya kebiasaan orang Indonesia yang senang meneruskan email-email yang menarik bagi mereka tanpa mengecek kebenarannya. Yang kedua adalah jaringan yang dimiliki oleh milis itu sendiri. Saya sendiri, sampai dengan hari ini terdaftar sebagai anggota pada 29 kelompok milis di Yahoo! Groups. Itu belum termasuk yang terdaftar di Google Groups. Ini nggak aneh mengingat brgitu mudahnya membuat milis. Ikut organisasi ini, bikin milis. Bahkan di dalam divisinya pun terkadang membuat milis sendiri. Lulus dari SMA, bikin milis. Bertemu dengan orang yang satu hobi, bikin milis. Kalau Anda mencoba menjelajah Yahoo! Groups, Anda akan dibuat kaget dengan daftar milisnya. Hampir semua ada, mulai dari topik yang aneh, sampai yang paling aneh. Ada milis orang Sukoharjo, milis pencinta Nokia Communicator, dan ada juga milis pencinta Tintin yang suka bernostalgia dengan kisah-kisah di komik Tintin yang kini menghilang dari pasaran.

Menurut beberapa literatur di dunia maya, milis mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 98-99. Sejak kemunculannya hingga sekarang, milis nggak pernah mati. Hal ini agak sedikit berbeda dengan blog. Walaupun situs blogger sudah ada sejak 1999, tetapi blog baru benar-benar dikenal luas oleh orang Indonesia sejak sekitar tahun 2005. Kompas saja baru menulis artikel resmi tentang blog pada Juni 2005. Berarti, boleh dibilang blog telat booming di Indonesia dibandingkan milis.

Di atas itu semua, saya melihat sebuah kekuatan yang luar biasa dari kombinasi fenomena milis dan fenomena blog. Mungkin seperti duet Cole-Yorke atau Crespo-Chiesa di masa jayanya. Masing-masing punya kemampuan individu yang hebat, tetapi menjadi semakin hebat ketika disatukan. Mungkin juga seperti duet semikonduktor tipe n dan tipe p yang kemudian bisa membentuk pn-junction yang banyak menginspirasi penemuan-penemuan di bidang elektronik. Blog dalam hal ini berperan sebagai penyuplai tulisan, dan di posisi lain ada milis yang menjadi kurirnya. Milis seperti menemukan teman lamanya yang hilang.

Seperti tulisan tentang pengokot itu, banyak tulisan-tulisan lain yang sudah menyebar cepat di milis, yang bisa menyebarkan gagasan ke orang banyak. Masih menurut Agung, yang menyebut milis memiliki efek domino, total ada 4 tulisan hasil karyanya yang mengalami efek domino seperti itu. Asalnya hanya dari seorang yang membaca blognya dia, tertarik, dan kemudian meneruskannya ke milis-milis.

Intinya, menyebarkan gagasan lewat duet blog-milis bukan hal yang mustahil, karena sudah ada buktinya. Berarti, seharusnya nggak susah juga untuk menyebarkan gagasan tentang kebaikan kepada orang lain lewat media ini. Misalnya tentang mengapa kita harus mendukung Palestina. Asal nggak terjebak dan bisa sedikit berhati-hati terhadap hoax, lomba the best entry bertema “antara Lebanon, Palestina, dan kita” oleh komunitas Indonesian Muslim Blogger bisa menjadi sangat berpengaruh. Bayangkan saja bila ada artikel yang benar-benar bagus, dan kemudian satu orang meneruskannya ke beberapa milis, yang dilanjutkan ratusan orang lainnya. Entah akan ada berapa puluh atau berapa ratus orang yang akan ikut tergugah—atau minimal dari apatis menjadi tahu akan apa yang terjadi beribu-ribu kilometer di tanah Arab sana.

Priyadi menyebut dalam bannernya, “changing the world, one person at a time...” Bukan mustahil menurut saya. Walaupun bukan anggota DPR yang punya kuasa mengatur UU, orang biasa seperti kita pun bisa mengikuti prinsip Priyadi. Menyampaikan gagasan kita lewat keyboard—syukur-syukur bisa merubah orang.

Kalau begitu, dari mana semuanya berasal? Dari blog? Bukan, melainkan dari kita. Seperti kata Aa Gym, “mulailah dari hal yang kecil, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah dari sekarang.” Ya, Insya Allah.

Singapore,
Ahad siang, 27 Agustus 2006

Labels: ,

Saturday, August 19, 2006

Menyelami 68% Dunia Blog Indonesia

Apa yang pertama kali muncul dalam pikiran Anda kalau saya menyebut nama Priyadi? Lalu, apa pula Hi Roy!™ menurut Anda? Kalau Anda mengaku blogger dan untuk pertanyaan pertama, yang Anda ingat adalah nama teman SD Anda, maka rasanya nggak rugi kalau Anda menghabiskan beberapa menit ke depan membaca tulisan ini. Begitu juga kalau berpikir bahwa Hi Roy!™ adalah sejenis tagline promosi McDonald's seperti I’m Lovin’ It™. Jadi, singkirkan sejenak niat Anda untuk segera keluar dari halaman ini menuju detikcom. Itu bisa belakangan.

Kata banyak orang, selamat datang di era narsisme. Tentunya ungkapan itu mengacu ke blog dan pertumbuhan jumlah dan popularitasnya yang meningkat. Selamat datang di zaman di mana orang sudah sangat umum untuk mencurahkan perasaannya, pemikirannya dalam tulisan, dan merasa senang bila orang lain membacanya. Kompas pernah menyebut blog sebagai diari terbuka.

Seperti layaknya kumpulan orang yang memiliki hobi yang sama yang berakhir dengan membentuk komunitas, blogger pun punya kecenderungan seperti itu. Begitu juga blogger di Indonesia. Mengamati komunitas blogger Indonesia cukup menyenangkan. Ada banyak hal-hal menarik yang terkadang hanya berawal dari satu orang, tetapi kemudian sudah menjadi trademark karena begitu luar biasanya respon orang yang meniru.

Kalau bicara komunitas blogger Indonesia, maka rasanya belum pas kalau belum menyebut milis id-Gmail yang juga biasa disebut Kampung Gajah. Bagaimana pun juga tokoh-tokoh di komunitas ini adalah sesepuh-sesepuh dunia blog Indonesia. Menariknya, milis yang tadinya hanya diperuntukkan untuk tempat permintaan orang-orang yang menginginkan undangan pembuatan akun di Gmail ini malah menjelma menjadi komunitas tempat bincang-bincang masalah IT, dan juga tentang dunia per-blog-an. Dari komunitas ini banyak muncul istilah-istilah jenaka seperti basbang (basi banget), dan Hi Roy! yang legendaris. Sampai-sampai mereka membuat Wiki id-Gmail, sebuah situs berpenampilan seperti Wikipedia dengan artikel hal-hal jenaka yang biasa didiskusikan oleh komunitas ini.

Selebihnya, ada komunitas blogger lain seperti Indonesian Muslim Blogger yang aktif juga dengan milisnya. Per 18 Agustus 2006, mereka memiliki anggota sebanyak 556 orang. Ada lagi Angkringan Jogja untuk orang Jogja. Untuk Bandung ada Bandung Blog Village, dan masih banyak lagi. Selain berbasis milis, banyak di antara mereka yang secara rutin mengadakan pertemuan. Isinya biasanya nggak cuma pertemuan silaturahmi biasa, tapi juga penuh dengan diskusi seputar tips-tips blog, fenomena blog, dan lainnya.

Lalu, siapa tokoh-tokoh utama alias public figure di dunia blog Indonesia? Mungkin orang akan beda-beda jawabannya, tapi tidak dalam menyebut 2 orang lulusan ITB ini: Priyadi Iman Nurcahyo dan Enda Nasution. Fenomena yang menarik akan kita jumpai kalau kita berkunjung ke priyadi.net milik Priyadi. Dalam setiap postingan Priyadi yang umumnya bernuansa gadget atau current issue, orang-orang akan berbondong-bondong mengisi kolom komentarnya. Bukan hanya berjumlah 2 digit; malah kadang-kadang mencapai 3 digit alias seratusan. Yang lebih mengherankan lagi adalah fakta bahwa mengisi komentar di priyadi.net sudah menjadi sebuah kebanggan tersendiri, apalagi kalau berhasil masuk urutan 10 besar. Maka nggak heran kalau kita menjumpai komentar-komentar seperti, “nomor 1 lagikah saya?” atau “baca belakangan, yg penting 15 besarrrr hihihi ;))”. Menarik sekali.

Ada lagi si artis dadakan Herman Saksono yang pernah sampai dipanggil dan diperiksa polisi karena membuat rekayasa foto Mayang dengan Bambang yang dicampuradukkan dengan foto SBY dan Roy Suryo.

Pernah Priyadi mengadakan semacam survey yang ia namakan Top 100 Blog Indonesia dengan bantuan Technorati pada 2005, dan di situ bisa kita lihat beberapa blog yang betul-betul populer, seperti priyadi.net sendiri di posisi 3, Blog Enda Nasution, Polisi EYD yang spesialis membahas perihal bahasa seperti di kolom Bahasa di Kompas Sabtu, Catatan Jay adalah Yulian, dan sebagainya.

Walaupun blog Indonesia yang populer banyak, tapi tokoh-tokohnya terbatas. Tokoh-tokoh inilah trend-setter di dunia blog. Mereka menciptakan trend, termasuk trend diskusi atau pembahasan—entah kata apa yang pas—tentang Roy Suryo. Roy Suryo? Ada apa dengan dia? Ya, menurut saya, di sinilah yang paling menarik. Menarik mengamati bagaimana arus informasi mengalir di dunia blog melawan informasi di media-media mapan non-blog seperti surat kabar dan TV.

Sudah sejak lama komunitas blog Indonesia mempermasalahkan ketidakpakaran seorang Roy Suryo yang sering didaulat media sebagai pakar telematika. Banyak pendapat-pendapat Roy Suryo yang ngasal, menurut komunitas blog. Terutama ketika dia diminta untuk meneliti kasus-kasus foto rekayasa artis, seperti foto Artika, foto Mayang, dan foto Bjah. Karena kecenderungannya untuk diminta terlibat dalam penelitian kasus-kasus seperti itulah, maka tokoh bergelar KRMT lulusan UGM ini sering dipelesetkan panggilannya menjadimaaf, pakar pornomatika.

Puncaknya adalah saat dalam wawancara Metro TV Roy Suryo menyebut bahwa 68% pemilik akun friendster adalah palsu. Langsung saja komunitas blogger ramai memperbincangkan angka sakti itu. Hebatnya, Priyadi mengambil inisiatif dengan menanyakan langsung ke administrator Friendster, yang dijawab dengan, “... and his comment about 68% of Friendster users being fake is categorically not true. We have never issued such statement to Mr.Suryo before.

Bisa jadi, sejak saat itulah muncul sapaan khas yang hanya dimengerti komunitas blogger Indonesia: Hi Roy! Terkadang, cara menuliskannya harus dengan lambang ™ menjadi Hi Roy! Ini adalah bentuk fast reply atau fast comment setiap kali ada pernyataan-pernyataan atau klaim-klaim Roy Suryo di media yang dinilai bombastis atau belum teruji kebenarannya.

Lebih menarik lagi, ada blog khusus yang mengamati Roy Suryo: Roy Suryo Watch. Tapi dalam dunia blog Indonesia, nggak semuanya bersikap demikian terhadap Roy Suryo. Ada segelintir orang yang masih tetap mendukungnya. Salah satunya dengan membuat tandingan Roy Suryo Watch, bernama Roy Suryo Watch-Watch!

Memang, 68% menarik.

Singapore,
Pagi buta, 19 Agustus 2006

oleh newbie di dunia blog

Beberapa catatan:
1. Ternyata Mas Priyadi bukan lulusan ITB seperti yang saya sebut di atas. Ini dinyatakan sendiri oleh Mas Priyadi di komennya di bawah.

2. Mengenai angka 68%, rupanya angka itu memiliki suatu makna khusus di dunia statistik. Silakan mengacu ke sini. Jadi, yang perlu dipermasalahkan bukan angka 68%-nya itu sendiri, tapi penggunaan angka itu oleh Roy Suryo yang nggak berdasar. Terima kasih Mas Tirta untuk masukannya.

Labels: ,

Wednesday, August 16, 2006

Siap Untuk Menulis?

Seringkali saat saya memerhatikan beberapa dosen saya di School of Electrical and Electronic Engineering, NTU, saya jadi suka bertanya-tanya sendiri. Soalnya, banyak hal-hal yang menarik untuk diamati.

Contohnya, saya membandingkan dosen berinisial SR dengan TKC. Yang pertama adalah orang India yang berperawakan agak gempal, mengajar beberapa kelas tutorial. Sedangkan yang kedua orang lokal. Dari wajahnya, kita bisa tahu kalau TKC masih agak muda untuk memiliki gelar Associate Professor di depan namanya. Mungkin masih pertengahan 30-an usianya. Tapi TKC sudah menjadi salah satu pengajar utama di mata kuliah Signal and System. Bandingkan dengan SR yang kira-kira sudah di pertengahan 40-an. Sampai sekarang SR masih bertitel Assistant Professor.

Pertanyaannya, apa yang membedakan keduanya sehingga yang satu karirnya bisa lebih mulus dibandingkan yang lainnya?

Ada lagi sebuah pemikiran saya yang cukup mengganggu. Selalu sehabis exam, banyak anak NTU—bahkan mayoritasnya—lupa total, atau sengaja menghapus memori tentang rumus-rumus, teknik pengerjaan soal di mata kuliah itu. Sehingga, saat memulai lagi kuliah di semester berikutnya untuk mata kuliah yang masih berhubungan, nggak sedikit waktu yang dikonsumsi sekadar untuk mengulang bahasan semester kemarin. Saya sendiri termasuk yang mengalaminya, tentu saja. Lalu, mengapa bisa seperti itu?

Kagetkah Anda, kalau saya katakan bahwa jawaban kedua pertanyaan tersebut ada kaitannya dengan kebiasaan menulis? Memang, ini hanya pemikiran saya, tapi saya yakin bahwa kebiasaan menulis mempunyai efek yang luar biasa—membuat seseorang cepat dipromosikan menjadi Profesor, dan membuat orang susah lupa akan suatu hal yang dipelajarinya.

Ada setidaknya dua sikap positif yang timbul dari kebiasaan menulis. Yang pertama, sikap “pemaksaan diri” untuk membaca. Mengapa banyak orang yang bilang kalau menulis itu merupakan dimensi pembelajaran yang satu tingkat lebih tinggi dari membaca? Saya pikir, alasannya sederhana: karena dengan menulis, kita juga membaca. Karena kita menulis, kita butuh referensi. Jadinya, kita membaca juga. Dari hanya meniatkan satu aktivitas, kita mendapatkan 2 aktivitas.

Yang lebih istimewa lagi, dengan menulis, sama saja dengan memuseumkan ilmu kita. Seperti memasukkan ilmu-ilmu ke tempat-tempat yang sesuai, membuatnya rapi, dan mempersilakan orang lain untuk melihat koleksi ilmu kita. Tentunya hal ini jauh lebih baik dari sekadar membaca.

Sikap yang kedua adalah seperti yang ditunjukkan Romi Satria Wahono. Pendiri ilmukomputer.com yang menghabiskan S1 sampai S3-nya di Jepang ini dulu ketika kuliah mengaku punya penyakit “rakus ilmu”. Gejalanya adalah suka mengambil mata kuliah jurusan lain. Bahkan, di tahun keempat, beliau sampai ditegur Profesornya agar nggak overdosis SKS. Akhir cerita, secara menakjubkan beliau lulus dengan jumlah SKS 170 dari hanya 118 yang disyaratkan. Dalam blognya, Romi Satria Wahono menyatakan, “Saya suka membaca dan belajar bidang apa pun yang belum saya kuasai... Dan secara tidak sadar, orientasi dalam belajar adalah untuk mengajarkannya kepada orang lain. Begitu membaca sebuah buku, saya selalu berorientasi bagaimana saya membuat penjelasan yang lebih mudah untuk saya sampaikan ke orang lain.”

Inilah sikap kedua yang saya maksudkan: berorientasi menyampaikan. Bahwa setiap kata di buku yang dibaca, setiap ucapan dosen di ruang kuliah, semuanya dipersepsi oleh Romi Satria Wahono demikian. Dalam pikirannya, “gimana ya, biar ucapan dosen ini enak disampaikan ke orang lain?” Luar biasa. Ini sekaligus sebagai jawaban dari pertanyaan kedua yang saya ajukan di awal tulisan ini. Seandainya saja kita belajar dengan persepsi seperti itu, tentunya akan lebih lengket.

Dan, saya percaya bahwa menciptakan kebiasaan menulis adalah salah satu cara menuju cara berpikir seperti itu—belajar untuk disampaikan ke orang lain. Dengan menulis, kita terbiasa menyampaikan. Nggak hanya membaca—yang terkadang nggak ada kelanjutannya kecuali hanya menimbun ilmu. Dan kalau kita bisa menyebut orang yang menimbun beras atau sembako sebagai orang yang egois, maka orang yang hanya menimbun ilmunya pun bisa jadi berhak mendapat sebutan yang sama: egois.

Ya, 2 sikap inilah yang bisa jadi membedakan kecepatan promosi Profesor yang satu dengan yang lainnya. Karena menurut Wikipedia, ada 4 hal yang bisa mempercepat promosi seorang Profesor: mengajar, penelitian, pelayanan masyarakat, dan pelatihan mahasiswa-mahasiswa pasca sarjana. Secara spesifik, bahasan layak tidaknya seseorang dipromosikan sebagai Profesor tergantung pada banyaknya publikasi ilmiah dan patennya. Makanya di NTU ada orang seperti Goh Wang Ling yang masih tampak muda, tapi sudah Associate Professor. Hal ini nggak mengherankan kalau kita lihat CV-nya. Satu buku, 14 paten, dan lebih dari 60 paper adalah buah karyanya.

Bagaimana kebiasaan menulis di Indonesia? Dalam pengamatan saya yang paling sederhana, rasanya kebiasaan menulis kita masih sangat kurang. Lihat saja milis-milis yang kita ikuti. Apakah posting-posting dari membernya lebih banyak tulisan sendiri atau hasil forward dari milis tetangga? Tentu kita lebih tahu.

Ada tulisan yang menarik dari Brian Yuliarto, Doktor lulusan Jepang, yang membahas tentang fenomena publikasi paper di seluruh dunia. Pada negara-negara maju, paper ilmiah yang dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional merupakan salah satu parameter penting untuk mengukur kualitas penelitianselain tentunya parameter dunia tulis-menulis di tingkat yang lebih tinggi. Dan bagaimana peta persebaran paper-paper di dunia? Majalah Nature 21 Juli 2005 memuat bahwa 25% paper yang terbit di seluruh dunia pada 2004 berasal dari Asia, sedangkan Eropa 38%, dan Amerika 33%. Angka 25% yang ditunjukkan Asia menjadi sangat fenomenal karena kenaikannya yang luar biasa. Faktanya, pada tahun 1990, Asia hanya menerbitkan 16% publikasi paper.

Indonesia? Bisa ditebak. Indonesia pada 2004 hanya menerbitkan 522 paper ilmiah. Dengan angka ini, Indonesia duduk manis di peringkat 4 negara se-Asia Tenggara. Singapore ada di nomor satu dengan 5781 paper, Thailand 2397 paper, dan Malaysia 1438 paper. Sekadar gambaran, Jepang pada 2004 mempublikasikan 83484 paper.

Jadi, siapkah kita untuk menjadi Profesor lebih cepat? (baca: siapkah kita untuk menulis?—pen)

Singapore,
Selasa malam, 15 Agustus 2006
yang juga sedang belajar menulis secara rutin

Labels: