Delicate, Delightful, Delicious
~A Blog

Tuesday, May 22, 2007

Agar “Sistem Pencernaan” Sehat: Menulis

Sebuah artikel yang pernah saya baca mengetengahkan fakta yang menarik: penulis-penulis terkenal ternyata hanya menghabiskan sedikit sekali waktu untuk menulis. Sama sekali jauh dari bayangan kita bahwa mereka menghabiskan belasan jam sehari untuk menulis, bahkan terkadang sampai begadang untuk mengejar deadline seperti dalam gambaran-gambaran mangaka Jepang.

Charles Dickens yang terkenal dengan Oliver Twist-nya ternyata hanya menghabiskan 4 jam sehari untuk menulis. Dia hanya menulis antara waktu sarapan sampai waktu makan siang. Sisanya dihabiskan untuk apa? Rupanya dia lebih memilih menikmati 2 jam untuk berjalan-jalan menyusuri jalanan kota London, mengamati banyak hal. Fakta bahwa dia menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan selama setengah dari waktu yang dia alokasikan untuk menulis menjadi menarik buat kita.

John Maynard Keynes, ekonom kenamaan, juga hanya menghabiskan 4 jam sehari—terkadang hanya 2 jam—untuk menulis.

Graham Greene yang seumur hidupnya menghasilkan 26 novel—ditambah cerita-cerita pendek, naskah film, naskah drama, dan lain-lain—malah hanya mengalokasikan 2 jam sehari, dari jam 7 sampai 9 pagi. Selama 2 jam itu dia bisa menulis hingga 900 kata.

Penulis kontemporer semacam J.K. Rowling konon katanya menghabiskan sampai 8 jam sehari untuk menulis buku keenamnya, Harry Potter and the Half-Blood Prince.

Barangkali karena tuntutan persaingan yang semakin ketat yang membuat penulis-penulis zaman sekarang menghabiskan lebih banyak waktu untuk menulis dibandingkan rekan-rekannya di masa lalu.

Jadi, pertanyaannya: mengapa sebagian besar penulis hanya menghabiskan sedikit sekali waktu mereka untuk menulis? Apa penjelasan rasionalnya?

Banyak yang menyebut menulis itu sebuah proses kreatif. Tidak lain karena menulis itu mirip dengan proses pencernaan. Pengibaratan ini cukup representatif dengan menitikberatkan pada input dan output. Dengan kata lain, seperti proses pencernaan, menulis juga membutuhkan input agar bisa menghasilkan output.

Dengan pengibaratan seperti ini, kita nggak terlalu heran mendapati Graham Greene atau Charles Dickens hanya menghabiskan waktu 2 sampai 4 jam sehari untuk menulis. Sisa waktunya dalam sehari jelas untuk mencari inspirasi. Charles Dickens melakukannya dengan jalan-jalan di kota London. H.C. Andersen melakukan perjalanan keliling Eropa untuk mendapatkan ide untuk cerita-ceritanya.

Dengan pengibaratan seperti ini juga, mustahil kalau kita mengharapkan output lebih banyak dari input. Nggak mungkin bagi penulis untuk menulis terus menerus tanpa mendapatkan input tambahan, entah dari membaca koran, buku fiksi, buku non fiksi; bertemu atau diskusi dengan orang baru; mengalami kejadian-kejadian atau pengalaman-pengalaman baru dan lainnya.

Yang juga menarik bila menulis disamakan dengan sistem pencernaan adalah kalau kita melihatnya dari sisi lain. Bagaimana kalau kasusnya adalah kebanyakan input tanpa output? Mungkin secara langsung kita bisa memprediksi akan terjadi penyakit pencernaan, apa pun itu. Berarti, orang yang terlalu banyak input, tapi nggak pernah mengusahakan input-inputnya menjadi karya-karya sebagai outputnya bisa disebut akan berpenyakit. Begitu logika sederhananya.

Berita buruknya, kitatermasuk sayabisa jadi termasuk kelompok itu! Iya, betul sekali; sebagian besar dari kita termasuk kelompok orang-orang yang terlalu banyak input tapi minim output dalam masalah tulisan. Saya ingat omongan teman saya, “kita ini sebenanya sudah baca ratusan judul buku lo, dari kecil. Tapi kok sampai sekarang untuk menulis satu buku saja nggak bisa ya?”

Ratusan buku? Anda kurang setuju dengan teman saya? Mari kita korek memori kita. Sejak SD, walaupun buku pelajaran, kita sudah membaca banyak buku. Ambil contoh buku Matematika. Kalau dulu satu tahun kita baca satu buku Matematika, berarti sampai SMA kita sudah baca minimal 11 buku Matematika—bahkan tamat sampai latihan-latihan soalnya. Itu baru Matematika. Jangan lupakan juga Bahasa Indonesia, PPKn, Sejarah, Biologi, Fisika, Sosiologi, dan lainnya.

Selain buku-buku pelajaran, untuk saya pribadi, puluhan judul komik; puluhan buku petualangan anak-anak semacam Lima Sekawan, Trio Detektif, dan lainnya; puluhan novel; puluhan buku Islam termasuk Quran dan terjemahannya; puluhan buku non-fiksi lainnya; ratusan artikel yang tersebar di internet; dan masih banyak lagi akan saya masukkan ke dalam daftar buku atau bacaan yang pernah saya baca.

Dengan kata lain, banyak ide-ide yang sempat mampir di otak saya. Sayangnya, sebagian besar—kalau bukan semuanya—hanya mampir, kemudian terlupakan. Padahal Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

Dengan kenyataan seperti ini, omongan teman saya itu menjadi sangat tepat sasaran.

Padahal itu baru dari satu jenis input: buku. Belum lagi pengalaman-pengalaman hidup kita selama ini. Maka dengan begitu banyak input yang sudah kita serap selama ini, sangat nggak seimbang kalau outputnya hanya karangan-karangan setengah hati untuk tugas mengarang pelajaran Bahasa Indonesia selama di sekolah dulu. “Sistem pencernaan” kita akan bermasalah kalau begitu.

Baiklah, menulis buku memang nggak semudah membalikkan telapak tangan; banyak faktor di situ. Tapi di zaman sekarang ini, membuat blog sudah semudah mengangkat jari kita. Tinggal beberapa klik di mouse kita, dan bisa langsung jadi. Memulai menulis di blog bisa kita coba. Secara khusus tentang blog, Ikhlasul Amal bahkan sampai mengeluarkan ungkapan yang menarik: “Ikatlah ilmu dengan blog.”

Betul, blog bisa jadi salah satu penyemangat kita untuk bisa menyeimbangkan input dengan output.

Singapore,
Selasa, 22 Mei 2007

Bahan bacaan:
"Ikatlah Ilmu dengan Blog", oleh Ikhlasul Amal

Labels: ,

Saturday, February 10, 2007

The World is Blogging; Are You Not?

Di sepanjang tahun 2006, kita menyaksikan blog-blog politisi bermunculan. Walaupun belum banyak, tapi sudah cukup aneh dan mengherankan rasanya melihat seorang Juwono Sudarsono ngeblog layaknya orang-orang kebanyakan. Juga seorang Yusuf Asy’ari menulis pengalaman-pengalaman perjalanannya yang secara bebas bisa diakses dan dibaca oleh orang banyak.

Sebuah terobosan yang unik tentunya di zaman seperti ini. Dengan ciri khas blog yang menyediakan fasilitas komentar, kesan yang langsung bisa ditangkap oleh orang awam seperti saya adalah tentang sebuah usaha mempersempit jarak antara rakyat—apa pun itu artinya—dengan pemimpin-pemimpinnya.

Juwono Sudasono tampaknya berhasil di situ. Memang tulisan-tulisan utama di blog itu adalah opini pribadi Juwono terhadap topik tertentu yang biasanya adalah isu-isu hangat nasional maupun internasional. Tapi dia pun menyertakan beberapa tulisannya yang bersifat pribadi, dengan menceritakan tentang kelahiran cucu pertamanya, misalnya. Tulisan pertamanya ini mendapat respon yang luar biasa. Terakhir saya cek, ada 45 komentar yang sebagian besar mengucapkan selamat. Anda bisa bayangkan, sebelum ada blog seperti ini, kemungkinan buat orang biasa seperti saya dan Anda untuk sekedar berkomunikasi kepada beliau hampir mendekati nol. Lewat SMS? Titip salam lewat satpam di depan rumahnya? Telepon langsung? Yang mana pun terdengar mustahil bagi saya. Tapi kini, tinggal beberapa klik di mouse kita dan mengetik beberapa baris kalimat, selesai. Dan kita bisa berharap bahwa pesan kita dibaca oleh beliau.

Dalam blog Yusuf Asy’ari pun demikian. Walau pun didahului oleh Juwono Sudarsono, tapi dari blognya, minimal orang banyak jadi tahu tentang kegiatan-kegiatan dan rencana-rencana beliau di bidang pembangunan perumahan, seperti yang dituturkan di artikel “Pembangunan Rusunawa di IPB”, misalnya. Tulisan itu sendiri langsung dikomentari oleh mahasiswa IPB dan beberapa orang Bogor yang merasa berkepentingan.

Mungkin begitu terkesimanya Fatih Syuhud mendapati 2 menteri kita membuat blog sehingga baik Juwono Sudarsono maupun Yusuf Asy’ari dianugerahi gelar Blogger of the Week olehnya.

Selain mereka berdua, ada beberapa lagi politisi-politisi Indonesia yang membuat website pribadi. Sebut saja Sutiyoso, Hidayat Nur Wahid, SBY, Zulkieflimansyah, Faisal Basri, Sarwono Kusumaatmadja, dan mungkin masih ada lagi yang kelewatan. Tapi saya lebih suka menyebut website-website mereka sebagai website pribadi; bukan sebuah blog. Kebanyakan hanya kumpulan berita tentang aktivitas mereka ditambah beberapa galeri. Kemunculannya pun bisa jadi dipicu oleh beberapa momen seperti Pilkada Jakarta yang sudah sebentar lagi. Hal ini terutama mengacu pada 2 nama terakhir.

Jelas, fenomena seperti ini bukan hanya di Indonesia. Politisi-politisi negara lain pun nggak sedikit yang memulai ngeblog. Lionel Jospin, yang 2 kali dicalonkan sebagai Presiden Perancis; Mahmoud Ahmadinejad, Presiden Iran; Ségolène Royal, calon kuat Presiden Perancis; Ferenc Gurcsany, Perdana Menteri Hungaria; adalah yang termasuk dalam daftar panjang politisi yang ngeblog.

Selain politisi, mungkin wartawan lah yang juga sekarang banyak meramaikan blogosphere. Sebut saja Ong Hock Chuan, sang mantan jurnalis. Ada lagi Ahiruddin Bin Attan yang sempat membuat ramai Malaysia tempo hari. Bahkan Tempo Interaktif juga mempercayakan inovasi terbaru mereka dalam portal berita melalui sebuah blog. “Sementara situs web tradisional lebih merupakan ‘pusat arsip digital’, situs blog lebih merupakan arena ‘percakapan’,” tulis S. Malela Mahargasarie, Pemred Koran Tempo dalam posting pertamanya di blog Tempo Interaktif.

Artis, sebaliknya, walaupun bisa menjadi media promosi yang sangat mumpuni bagi mereka, tapi belum banyak yang mempunyai blog, khususnya di Indonesia. Padahal di China, menurut paparan teman saya, blog yang paling terkenal dan banyak dikunjungi orang adalah blog milik artis. Rata-rata komentar di setiap postingnya mencapai ribuan.

Sebuah pertanyaan besar yang mungkin melintas di benak kita: ada apa dengan blog sampai figur publik, utamanya politisi tertarik menyentuh dunia yang sama sekali baru bagi mereka? Tentunya ada sesuatu yang menarik di blog sampai mereka rela menginvestasikan waktu, pikiran, tenaga, uang untuk mengembangkan blog mereka.

Walaupun bukan yang terbaru, Dave Sifry, pendiri dan CEO Technorati, dalam blognya memaparkan banyak statistik tentang blogosphere. Per 31 Juli 2006, jumlah blog yang ada mencapai angka 50 juta. Dan di periode sekitar itu, setiap harinya ada 175 ribu blog baru yang lahir—berarti 2 blog setiap detik.

Kita melihat masa depan blog yang masih bisa menjadi 2 sisi mata pedang. Di satu sisi, infomasi akan cenderung menjadi milik publik, nggak dikuasai secara menyeluruh oleh media massa arus utama (mainstream), tapi sisi lainnya memberikan pertanyaan dan tantangan baru buat kita: sejauh mana kredibilitas informasi yang tersebar di blogosphere bisa dipertanggungjawabkan?

Tetapi saya lebih melihat blog dari sisi yang pertama—sisi positif yang membuat dunia menjadi lebih rata, meminjam istilah Thomas Friedman dalam bukunya The World is Flat. Persaingan dunia jurnalistik yang sudah diisi pemain-pemain lama nan mapan seperti Kompas, Republika, detikcom, dan lainnya akan dibuat rata kembali.

Sekarang sudah ada blogger-blogger seperti Priyadi, Nofie Iman, atau Yosef Ardi yang secara rutin membahas isu-isu kontemporer dalam kacamata lain—beda dengan media massa arus utama. Priyadi dalam blognya seringkali memaparkan penipuan-penipuan yang terjadi di sekitar kita, terutama tentang hoax atau kabar bohong, dan secara komprehensif mengupasnya tuntas—hal yang tentunya jarang bisa kita jumpai di Kompas. Sebut saja tentang email kode produk babi yang sangat meyakinkan, atau tentang air heksagonal yang mendadak jadi obrolan ibu-ibu di Indonesia. Lita Mariana lain lagi. Lewat blognya, BananaTalk, Lita lebih fokus membahas tentang dunia kesehatan, ibu, dan anak. Pernah ada keluhan tentang bonus biji jarak dari Bobo yang dimuat di salah satu surat pembaca di koran. Tapi isu dan tulisannya justru menyebar cepat lewat blog dan milis, juga jadi topik bahasan yang menarik di BananaTalk.

Saya menyebutnya media alternatif. Ya, blog adalah media alternatif. Tapi nggak lama lagi mungkin sudah menjadi media pelengkap, bukan lagi sebagai substitusi dari media massa mainstream. Karena kecenderungan ke arah itu sudah tampak. Banyak berita yang kini “terpaksa” dimunculkan di surat kabar karena sudah sangat meledak dan menjadi bahasan yang hangat di blogosphere.

Jadi, pertanyaan saya buat Anda adalah: are you not blogging?

Singapore,
Sabtu, 10 Februari 2007


Bahan bacaan:
Tulisan Ong Hock Chuan di The Jakarta Post: blog level field for corporations and governments
Dari Blog Tempo Interaktif: Mengapa Tempo Ngeblog?

Labels: ,

Sunday, August 27, 2006

Pengokot: Bukti Kekuatan Duet Blog-Milis

Apakah Anda juga salah seorang korban penerima email “pengokot”—yang dibuat tertawa terbahak-bahak, atau setidaknya mengurai senyum membaca tulisan itu? Tenang saja, saya juga salah satu korbannya. Sekitar bulan Februari lalu saya mendapat email yang cukup fenomenal itu dari beberapa milis yang saya ikuti. Gaya tulisannya jenaka, menghibur, dan yang paling perlu diacungi jempol adalah idenya yang kreatif. Dari sebuah tulisan di surat pembaca di majalah Tempo, bisa disulap menjadi sebuah tulisan yang sangat cepat beredar di jagad milis saat itu.

Secara kebetulan, selain berkesempatan membaca email itu, saya juga berkesempatan mengetahui orang yang membuat tulisan itu. Bukan, bukan bertemu secara fisik, tapi mengetahui sumber tulisan itu, yang nggak lain nggak bukan berasal dari sebuah blog. Pemiliknya bernama Agung yang menggunakan nickname Mbot.

Itu salah satu kisah dari dunia blog Indonesia. Sejak ada situs blogger.com secara resmi pada 1999, jumlah pemiliknya pun semakin bertambah. Itu juga didukung oleh semakin banyaknya situs-situs penyedia layanan pembuatan blog semacam Multiply dan Wordpress. Teman saya menyebut blog sebagai sarana pemenuhan kebutuhan kelima dalam teori hirarki Abraham Maslow. Yang lebih menarik lagi adalah ungkapan Enda Nasution, Bapak Blog Indonesia, yang komentar-komentarnya sering dikutip Kompas, “jika saat ini Rene Descartes bangkit dari kubur, maka ia mungkin akan berkata: saya ngeblog, karenanya saya ada.”

Tapi, penyebaran tulisan Agung itu memerlukan satu komponen lagi: milis. Yang ini pun memiliki fenomenanya sendiri di Indonesia. Sejatinya bernama mailing list. Tapi entah bagaimana ceritanya, lidah orang Indonesia lebih cocok dengan kata “milis”.

Dari dulu sampai sekarang, bisa kita katakan milis adalah salah satu sumber berita yang berpengaruh, terutama di kalangan terpelajar yang mengenal internet. Tentunya ini terlepas dari fakta banyaknya hoax-hoax yang muncul. Tetapi, justru dengan mengamati betapa hoax-hoax bisa cepat menyebar dari milis yang satu ke milis yang lainnya, kita jadi tahu betapa berpengaruhnya milis. Anda mendapat kabar tentang planet Mars yang akan bersinar terang pada 26 Agustus kemarin? Itu ternyata sebuah hoax. Saya sendiri pun tadinya percaya mentah-mentah, sampai membaca banyak analisis tentang itu di internet.

Jadi, sudah percaya bahwa milis itu begitu berpengaruh? Bayangkan saja berapa banyak orang yang meneruskan email tentang Mars itu ke semua orang yang dikenalnya. Saya pikir, begitu berpengaruhnya milis dipengaruhi oleh 2 faktor. Yang pertama, tentunya kebiasaan orang Indonesia yang senang meneruskan email-email yang menarik bagi mereka tanpa mengecek kebenarannya. Yang kedua adalah jaringan yang dimiliki oleh milis itu sendiri. Saya sendiri, sampai dengan hari ini terdaftar sebagai anggota pada 29 kelompok milis di Yahoo! Groups. Itu belum termasuk yang terdaftar di Google Groups. Ini nggak aneh mengingat brgitu mudahnya membuat milis. Ikut organisasi ini, bikin milis. Bahkan di dalam divisinya pun terkadang membuat milis sendiri. Lulus dari SMA, bikin milis. Bertemu dengan orang yang satu hobi, bikin milis. Kalau Anda mencoba menjelajah Yahoo! Groups, Anda akan dibuat kaget dengan daftar milisnya. Hampir semua ada, mulai dari topik yang aneh, sampai yang paling aneh. Ada milis orang Sukoharjo, milis pencinta Nokia Communicator, dan ada juga milis pencinta Tintin yang suka bernostalgia dengan kisah-kisah di komik Tintin yang kini menghilang dari pasaran.

Menurut beberapa literatur di dunia maya, milis mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 98-99. Sejak kemunculannya hingga sekarang, milis nggak pernah mati. Hal ini agak sedikit berbeda dengan blog. Walaupun situs blogger sudah ada sejak 1999, tetapi blog baru benar-benar dikenal luas oleh orang Indonesia sejak sekitar tahun 2005. Kompas saja baru menulis artikel resmi tentang blog pada Juni 2005. Berarti, boleh dibilang blog telat booming di Indonesia dibandingkan milis.

Di atas itu semua, saya melihat sebuah kekuatan yang luar biasa dari kombinasi fenomena milis dan fenomena blog. Mungkin seperti duet Cole-Yorke atau Crespo-Chiesa di masa jayanya. Masing-masing punya kemampuan individu yang hebat, tetapi menjadi semakin hebat ketika disatukan. Mungkin juga seperti duet semikonduktor tipe n dan tipe p yang kemudian bisa membentuk pn-junction yang banyak menginspirasi penemuan-penemuan di bidang elektronik. Blog dalam hal ini berperan sebagai penyuplai tulisan, dan di posisi lain ada milis yang menjadi kurirnya. Milis seperti menemukan teman lamanya yang hilang.

Seperti tulisan tentang pengokot itu, banyak tulisan-tulisan lain yang sudah menyebar cepat di milis, yang bisa menyebarkan gagasan ke orang banyak. Masih menurut Agung, yang menyebut milis memiliki efek domino, total ada 4 tulisan hasil karyanya yang mengalami efek domino seperti itu. Asalnya hanya dari seorang yang membaca blognya dia, tertarik, dan kemudian meneruskannya ke milis-milis.

Intinya, menyebarkan gagasan lewat duet blog-milis bukan hal yang mustahil, karena sudah ada buktinya. Berarti, seharusnya nggak susah juga untuk menyebarkan gagasan tentang kebaikan kepada orang lain lewat media ini. Misalnya tentang mengapa kita harus mendukung Palestina. Asal nggak terjebak dan bisa sedikit berhati-hati terhadap hoax, lomba the best entry bertema “antara Lebanon, Palestina, dan kita” oleh komunitas Indonesian Muslim Blogger bisa menjadi sangat berpengaruh. Bayangkan saja bila ada artikel yang benar-benar bagus, dan kemudian satu orang meneruskannya ke beberapa milis, yang dilanjutkan ratusan orang lainnya. Entah akan ada berapa puluh atau berapa ratus orang yang akan ikut tergugah—atau minimal dari apatis menjadi tahu akan apa yang terjadi beribu-ribu kilometer di tanah Arab sana.

Priyadi menyebut dalam bannernya, “changing the world, one person at a time...” Bukan mustahil menurut saya. Walaupun bukan anggota DPR yang punya kuasa mengatur UU, orang biasa seperti kita pun bisa mengikuti prinsip Priyadi. Menyampaikan gagasan kita lewat keyboard—syukur-syukur bisa merubah orang.

Kalau begitu, dari mana semuanya berasal? Dari blog? Bukan, melainkan dari kita. Seperti kata Aa Gym, “mulailah dari hal yang kecil, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah dari sekarang.” Ya, Insya Allah.

Singapore,
Ahad siang, 27 Agustus 2006

Labels: ,

Saturday, August 19, 2006

Menyelami 68% Dunia Blog Indonesia

Apa yang pertama kali muncul dalam pikiran Anda kalau saya menyebut nama Priyadi? Lalu, apa pula Hi Roy!™ menurut Anda? Kalau Anda mengaku blogger dan untuk pertanyaan pertama, yang Anda ingat adalah nama teman SD Anda, maka rasanya nggak rugi kalau Anda menghabiskan beberapa menit ke depan membaca tulisan ini. Begitu juga kalau berpikir bahwa Hi Roy!™ adalah sejenis tagline promosi McDonald's seperti I’m Lovin’ It™. Jadi, singkirkan sejenak niat Anda untuk segera keluar dari halaman ini menuju detikcom. Itu bisa belakangan.

Kata banyak orang, selamat datang di era narsisme. Tentunya ungkapan itu mengacu ke blog dan pertumbuhan jumlah dan popularitasnya yang meningkat. Selamat datang di zaman di mana orang sudah sangat umum untuk mencurahkan perasaannya, pemikirannya dalam tulisan, dan merasa senang bila orang lain membacanya. Kompas pernah menyebut blog sebagai diari terbuka.

Seperti layaknya kumpulan orang yang memiliki hobi yang sama yang berakhir dengan membentuk komunitas, blogger pun punya kecenderungan seperti itu. Begitu juga blogger di Indonesia. Mengamati komunitas blogger Indonesia cukup menyenangkan. Ada banyak hal-hal menarik yang terkadang hanya berawal dari satu orang, tetapi kemudian sudah menjadi trademark karena begitu luar biasanya respon orang yang meniru.

Kalau bicara komunitas blogger Indonesia, maka rasanya belum pas kalau belum menyebut milis id-Gmail yang juga biasa disebut Kampung Gajah. Bagaimana pun juga tokoh-tokoh di komunitas ini adalah sesepuh-sesepuh dunia blog Indonesia. Menariknya, milis yang tadinya hanya diperuntukkan untuk tempat permintaan orang-orang yang menginginkan undangan pembuatan akun di Gmail ini malah menjelma menjadi komunitas tempat bincang-bincang masalah IT, dan juga tentang dunia per-blog-an. Dari komunitas ini banyak muncul istilah-istilah jenaka seperti basbang (basi banget), dan Hi Roy! yang legendaris. Sampai-sampai mereka membuat Wiki id-Gmail, sebuah situs berpenampilan seperti Wikipedia dengan artikel hal-hal jenaka yang biasa didiskusikan oleh komunitas ini.

Selebihnya, ada komunitas blogger lain seperti Indonesian Muslim Blogger yang aktif juga dengan milisnya. Per 18 Agustus 2006, mereka memiliki anggota sebanyak 556 orang. Ada lagi Angkringan Jogja untuk orang Jogja. Untuk Bandung ada Bandung Blog Village, dan masih banyak lagi. Selain berbasis milis, banyak di antara mereka yang secara rutin mengadakan pertemuan. Isinya biasanya nggak cuma pertemuan silaturahmi biasa, tapi juga penuh dengan diskusi seputar tips-tips blog, fenomena blog, dan lainnya.

Lalu, siapa tokoh-tokoh utama alias public figure di dunia blog Indonesia? Mungkin orang akan beda-beda jawabannya, tapi tidak dalam menyebut 2 orang lulusan ITB ini: Priyadi Iman Nurcahyo dan Enda Nasution. Fenomena yang menarik akan kita jumpai kalau kita berkunjung ke priyadi.net milik Priyadi. Dalam setiap postingan Priyadi yang umumnya bernuansa gadget atau current issue, orang-orang akan berbondong-bondong mengisi kolom komentarnya. Bukan hanya berjumlah 2 digit; malah kadang-kadang mencapai 3 digit alias seratusan. Yang lebih mengherankan lagi adalah fakta bahwa mengisi komentar di priyadi.net sudah menjadi sebuah kebanggan tersendiri, apalagi kalau berhasil masuk urutan 10 besar. Maka nggak heran kalau kita menjumpai komentar-komentar seperti, “nomor 1 lagikah saya?” atau “baca belakangan, yg penting 15 besarrrr hihihi ;))”. Menarik sekali.

Ada lagi si artis dadakan Herman Saksono yang pernah sampai dipanggil dan diperiksa polisi karena membuat rekayasa foto Mayang dengan Bambang yang dicampuradukkan dengan foto SBY dan Roy Suryo.

Pernah Priyadi mengadakan semacam survey yang ia namakan Top 100 Blog Indonesia dengan bantuan Technorati pada 2005, dan di situ bisa kita lihat beberapa blog yang betul-betul populer, seperti priyadi.net sendiri di posisi 3, Blog Enda Nasution, Polisi EYD yang spesialis membahas perihal bahasa seperti di kolom Bahasa di Kompas Sabtu, Catatan Jay adalah Yulian, dan sebagainya.

Walaupun blog Indonesia yang populer banyak, tapi tokoh-tokohnya terbatas. Tokoh-tokoh inilah trend-setter di dunia blog. Mereka menciptakan trend, termasuk trend diskusi atau pembahasan—entah kata apa yang pas—tentang Roy Suryo. Roy Suryo? Ada apa dengan dia? Ya, menurut saya, di sinilah yang paling menarik. Menarik mengamati bagaimana arus informasi mengalir di dunia blog melawan informasi di media-media mapan non-blog seperti surat kabar dan TV.

Sudah sejak lama komunitas blog Indonesia mempermasalahkan ketidakpakaran seorang Roy Suryo yang sering didaulat media sebagai pakar telematika. Banyak pendapat-pendapat Roy Suryo yang ngasal, menurut komunitas blog. Terutama ketika dia diminta untuk meneliti kasus-kasus foto rekayasa artis, seperti foto Artika, foto Mayang, dan foto Bjah. Karena kecenderungannya untuk diminta terlibat dalam penelitian kasus-kasus seperti itulah, maka tokoh bergelar KRMT lulusan UGM ini sering dipelesetkan panggilannya menjadimaaf, pakar pornomatika.

Puncaknya adalah saat dalam wawancara Metro TV Roy Suryo menyebut bahwa 68% pemilik akun friendster adalah palsu. Langsung saja komunitas blogger ramai memperbincangkan angka sakti itu. Hebatnya, Priyadi mengambil inisiatif dengan menanyakan langsung ke administrator Friendster, yang dijawab dengan, “... and his comment about 68% of Friendster users being fake is categorically not true. We have never issued such statement to Mr.Suryo before.

Bisa jadi, sejak saat itulah muncul sapaan khas yang hanya dimengerti komunitas blogger Indonesia: Hi Roy! Terkadang, cara menuliskannya harus dengan lambang ™ menjadi Hi Roy! Ini adalah bentuk fast reply atau fast comment setiap kali ada pernyataan-pernyataan atau klaim-klaim Roy Suryo di media yang dinilai bombastis atau belum teruji kebenarannya.

Lebih menarik lagi, ada blog khusus yang mengamati Roy Suryo: Roy Suryo Watch. Tapi dalam dunia blog Indonesia, nggak semuanya bersikap demikian terhadap Roy Suryo. Ada segelintir orang yang masih tetap mendukungnya. Salah satunya dengan membuat tandingan Roy Suryo Watch, bernama Roy Suryo Watch-Watch!

Memang, 68% menarik.

Singapore,
Pagi buta, 19 Agustus 2006

oleh newbie di dunia blog

Beberapa catatan:
1. Ternyata Mas Priyadi bukan lulusan ITB seperti yang saya sebut di atas. Ini dinyatakan sendiri oleh Mas Priyadi di komennya di bawah.

2. Mengenai angka 68%, rupanya angka itu memiliki suatu makna khusus di dunia statistik. Silakan mengacu ke sini. Jadi, yang perlu dipermasalahkan bukan angka 68%-nya itu sendiri, tapi penggunaan angka itu oleh Roy Suryo yang nggak berdasar. Terima kasih Mas Tirta untuk masukannya.

Labels: ,