Delicate, Delightful, Delicious
~A Blog

Wednesday, April 25, 2007

Dua Juta Dollar Per Tahun Untuk Lee Hsien Loong

Awal April lalu, isu yang hangat di Singapore adalah tentang kenaikan gaji pejabat-pejabat pemerintahan Singapore. Ini termasuk presiden, perdana menteri, minister mentor (Lee Kuan Yew), senior minister (Goh Chok Tong), dan menteri-menteri dalam kabinet.

Dengan aturan baru ini, maka gaji Lee Hsien Loong akan menjadi 3.76 juta dollar Singapore per tahun, 5 kali dari apa yang diterima George W. Bush, dan 8 kali dari Abe Shinzo. Sedangkan minister mentor (Lee Kuan Yew) dan senior minister (Goh Chock Tong) akan mendapatkan 3.7 juta. Menteri kabinet sendiri akan mengantongi 1.94 juta. Lengkapnya di tabel di bawah ini:

Perhitungan kenaikan ini didasarkan pada model perhitungan benchmark usulan Lee Kuan Yew yang sudah dimulai sejak 1994.

Sederhananya, model benchmark ini menyediakan rumus perhitungan gaji yang didasarkan pada perbandingan dengan penghasilan-penghasilan tertinggi di 6 sektor swasta, dalam hal ini di bidang hukum, perbankan, akuntansi, teknik, perusahaan multinational, dan perusahaan manufacturing lokal.

Misalnya untuk pejabat publik dengan level MR4, cara menghitung penghasilan benchmark ialah dengan mengambil dan mengurutkan 8 penghasilan tertinggi dari masing-masing bidang tersebut. Dari 48 orang ini diambil nilai mediannya, yaitu nilai pertengahan antara orang ke-24 dan ke-25. Gaji untuk MR4 sekarang adalah 55% dari penghasilan benchmark tersebut, yang pada akhirnya direncanakan untuk dinaikkan sampai 88%.

Data perbandingan gaji kepala negara di berbagai negara bisa disimak di bawah ini:

Walaupun kenaikannya dilakukan secara bertahap—sampai dengan akhir 2008—tetap saja reaksi masyarakat Singapore beragam. Di media mainstream seperti surat kabar dan TV yang memiliki hubungan erat dengan pemerintah, reaksi yang ditampilkan terlihat seimbang antara yang pro dan kontra.

Tetapi di blog, komentar-komentar yang kontra lebih terlihat dominan.

Yang paling menonjol adalah komentar-komentar yang mempertanyakan kelayakan penggunaan formula benchmark itu. Masalahnya, penentuan penggunaan formula itu diputuskan pada 1994, masa saat PAP pimpinan Lee Kuan Yew mendominasi Singapore, sehingga ada kesan bahwa penerapan kenaikan gaji sekarang ini hanya akan menambah tebal pundi-pundi penghasilan pejabat-pejabat PAP. Ini ditambah fakta bahwa PAP menguasai 82 dari 84 kursi parlemen hasil dari pemilihan umum 2006 lalu.

Mengingat kenaikan gaji ini terjadi beberapa saat setelah kenaikan GST (Goods and Services Tax), ada yang kemudian memelesetkan GST menjadi Government Salary Top-up.

Lalu, nggak sedikit juga yang mempertanyakan keabsahan logika di balik formula benchmark itu. Ada komentar menarik di sebuah blog yang menulis

"It must be fun being a minister. Because unlike the rest of Singapore, you'll never have a bad year.

What do I mean? Well, let's say a cardiosurgeon in Singapore does very well in his career this year, makes a lot of money and is the top-earning cardiosurgeon this year. Next year he may not do so well. Maybe he will have fewer patients. Or perhaps he just won't have so many complicated cases, so he has to charge less for doing simpler surgeries. Consequently, he will earn much less. That's life. Some years are good; some years are not so good.

Ministers, however, have no such problem. Their salary is pegged to whoever is earning most, in a given year. When our top cardiosurgeon is earning a lot, the ministers will peg their salaries to him. When our top cardiosurgeon has a bad year, the ministers will just drop him out of the list."

Dari pihak pemerintah sendiri, argumen-argumen yang muncul di balik keputusan ini lebih bersifat senada, yang intinya adalah untuk menjaga kredibilitas dan kualitas pemerintah Singapore.

Mereka ingin memastikan bahwa hanya orang-orang terbaiklah yang memegang tampuk kepemimpinan Singapore, demi masa depan Singapore. Kalau gaji di bidang pelayanan publik seperti ini nggak bersaing dengan sektor swasta, maka kemungkinan orang-orang terbaik Singapore untuk direkrut swasta sangat tinggi. Menurut Menteri Pertahanan, Teo Chee Hean, kelompok tersebut merujuk pada orang-orang seperti Dr. Vivian Balakrishnan, Dr. Balaji Sadasivan, Dr. Ng Eng Hen—sekarang menempati pos-pos menteri di kabinet—yang dulu direkrut dengan susah payah.

Lee Kuan Yew sendiri berkomentar

“The cure for all this talk is really a good dose of incompetent government. Your asset values will disappear, your apartments will be worth a fraction of what it is, your jobs will be in peril, your security will be at risk and our women will become maids in other persons' countries - foreign workers."

Komentar ini disebut banyak kalangan terlalu berlebihan dan nggak relevan.

Mendukung pernyataan Lee Kuan Yew, seorang penulis Malaysia memberikan perspektifnya tersendiri dalam sebuah tulisannya di harian Malaysia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Menurutnya Singapore berhak untuk mengambil keputusan kenaikan gaji seperti itu dengan alasan menjamin tim kelas satu yang memimpin Singapore.

Seperti yang sering dikemukakan oleh Lee Kuan Yew, hanya Singaporelah yang bisa bertransformasi dari negara dunia ketiga (third world) menjadi negara dunia pertama (first world) hanya dalam satu generasi. Dulu saat awal-awal Singapore memisahkan diri dari Malaysia, 1 Ringgit sama dengan 2 Dollar Singapore; 40 tahun kemudian, keadaan berbalik. Pendapatan per kapita Singapore juga membengkak sampai hampir 6 kalinya Malaysia.

Atau bisa juga dilihat dari sudut lain. Di Malaysia, Proton dan MAS merugi milyaran Ringgit karena kesalahan manajemen. Kasus korupsi juga menimpa Perwaja dan Bumiputera Finance; sampai sekarang belum terlihat hasil penyelidikannya. Taiwan dan Thailand mengalami skandal yang cukup serius. Pemimpin-pemimpin negaranya terlibat dalam kasus korupsi yang juga melibatkan anggota keluarganya. Akibatnya nggak main-main; Thailand sampai kehilangan kepercayaan dari investor karena instabilitas politik. Taiwan mengalami penurunan pamor yang luar biasa dalam 7 tahun terakhir ini karena Chen Shui-bian yang disebut kurang kompeten. Indonesia belum bisa melepas diri dari jeratan korupsi walaupun sudah memproklamirkan reformasi sejak 9 tahun lalu. Filipina juga setali tiga uang dalam hal korupsi.

Lanjut sang penulis, kalau saja kerugian dari negara-negara tersebut dipakai untuk membayar orang-orang kelas satu, seperti yang dilakukan oleh Singapore, maka hasilnya tentu beda. Itulah salah satu faktor yang menyebabkan Singapore berada di urutan kelima pada daftar Corruption Perception Index milik Transparency International—hanya kalah dari Finlandia, Islandia, Selandia Baru, dan Denmark.

Singapore,
Rabu, 25 April 2007

*Daftar gaji kepala negara ini adalah gaji per tahun. Sebagian besar adalah data terbaru. Beberapa menggunakan data 2005. Sumber-sumber: 1, 2, 3

Bahan bacaan:
Singapore government promotes obscenity, Yawning Bread
Government salaries vs private sector salaries, CNN

Corruption Perception Index 2006, Transparency International
PM of Singapore to have salary five times more than US President, Pravda

Labels: , ,

5 Comments:

  • "Mengingat kenaikan gaji ini terjadi beberapa saat setelah kenaikan GST... "

    salah tuh ;)

    GST belom naik, gaji udah naik :)

    Well... kalo aku sih sementara ini hanya bisa bersyukur karena gaji ikut naik, gak banyak orang yang baru sebentar kerja dapet kenaikan gaji, gak tau ntar setelah gst bener2 naik juli nanti... (belum lagi ditambah property yang ikut naik gara2 f1 dst... -_-)

    By Blogger apranum, at 11:39 AM, April 27, 2007  

  • Hmmm.... Tinggal diitung zakat yang harus dibayarkan.

    2.5 % kali segitu berapa ya, hehehe....

    By Blogger Reza d'Bhro, at 11:08 AM, April 29, 2007  

  • apranum>>
    Selamet deh, gajinya naik ...

    reza d'bhro>>
    Bener juga ya. Gak kepikiran :)

    By Blogger Radon Dhelika, at 9:48 AM, May 02, 2007  

  • asik jg jadi menteri di singapur:)
    Di dunia yang serba materialistik, pedekatan ini juga bisa sebagai bendungan untuk hasrat korupsi, memicu produktivitas, dan mempersonalisasikan tugas negara (jadi ada kohesi dlm tindakan2nya - serving is my career). Contohkan saja Henry Ford di taon 1914 pada assembly line nya.. menaikan gaji buruh lebih dr 100% dr harga pasar - produktivitas melesat tinggi dari harapan.

    Kenaikan gaji bukanlah sesuatu yang aneh dan phenomenal namun sesuatu yang harus dipelajari efek nya di dalam political economy. Saya memiliki sikap yang cukup positif apabila ini juga di-implementasikan di negara2 lain.

    Sayang nya, bila di Indonesia.mungkin hrs dimulai dari pegawai negeri yang paling kecil dl. Namun dari sabang sampai Merauke. Berapa jumlah pegawai nya itu? dan brapa kenaikan yang cukup agar efek nya bisa terasa? Saya kira kas negara akan kewalahan juga nantinya.. dan klo dr kecil, yang diatas juga nda mau kalah donk.. dilemma juga.

    Memang resep dr negara tetangga tidak bs selalu cocok dgn kehidupan benegara di Indonesia.

    By Anonymous Antony Simon, at 2:06 PM, March 09, 2008  

  • thanks infonya yang menarik

    By Anonymous Hanya online, dibayar dolar, at 9:12 AM, December 18, 2010  

Post a Comment

<< Home