Delicate, Delightful, Delicious
~A Blog

Sunday, August 17, 2008

Masalah Kependudukan dan Paradigma Berkeluarga di Singapore


“After all, children cost their parents more in food and college tuition than they bring in.”

Tingkat kesuburan (fertility rate) adalah salah satu data penting yang digunakan untuk mengetahui karakteristik demografi suatu objek. Misal, Mali yang tercatat berangka 7,34 menunjukkan bahwa setiap wanita di sana melahirkan sebanyak rata-rata 7,34 kali sepanjang hidupnya. Ini adalah angka tertinggi di dunia. Sekadar informasi, angka rata-rata tingkat kesuburan dunia adalah 2,58.

Untuk negara seperti Indonesia dengan tingkat kesuburan 2,34 (tahun 2008), masalah berkurangnya jumlah populasi barangkali tidak pernah terlintas dalam benak para pengambil kebijakan. Tetapi lain halnya dengan negara-negara maju seperti Jepang (tingkat kesuburan 1,27), Jerman (1,36), Korea Selatan (1,21), atau pun Singapore (1,29) karena tingkat kesuburan minimal yang dibutuhkan negara maju agar populasi tidak berkurang drastis dalam jangka panjang adalah sekitar 2,1. Dan jelas, empat negara tadi adalah sedikit dari banyak negara-negara maju yang terancam masalah kependudukan di masa depan.

Memangnya seberapa krusial masalah ini?

Di Korea Selatan, seperti diberitakan Korean Times akhir tahun lalu, 32 persen sekolah dasar di Korsel terpaksa tutup karena begitu rendahnya angka kelahiran.

Sebuah artikel di The New York Times membahas tentang angka 1,29 bagi Singapore. Dengan angka sekecil itu, diproyeksikan populasi negara mini yang jumlah penduduknya setengah dari Jakarta ini akan menciut hingga setengahnya dalam 45 tahun. Lebih jauh, efek penurunan tajam ini disebut mustahil untuk diperbaiki seperti semula.

Pemerintah Singapore bukan berarti berpangku tangan terhadap fakta ini. Sudah berjalan 20 tahun sejak pertama kali Singapore menerapkan kebijakan-kebijakan seputar penambahan jumlah populasi. Harapannya jelas untuk memotivasi masyarakat untuk memiliki anak, tapi kenyataannya hingga saat ini belum memuaskan. Justru beberapa parameter lain mengalami penurunan: rata-rata umur ibu yang melahirkan anak pertama menjadi 29,4 tahun. Pasangan suami istri juga menunggu rata-rata 28 bulan sebelum memiliki anak pertama.

Padahal kalau mau disebut, kebijakan-kebijakan pemerintah perihal kelahiran anak ini akan membuat jutaan ibu Indonesia melongo tidak percaya. Betapa tidak—di tahun 2004, Perdana Menteri Lee Hsien Loong menyebut bahwa anggaran pemerintah sebanyak 300 juta SGD disisihkan untuk keperluan insentif-insentif bagi keluarga. Di antaranya, ada kebijakan baby bonus: pemerintah akan memberi bonus tunai 3000 SGD bagi setiap keluarga untuk kelahiran anak pertama dan kedua, serta 6000 SGD untuk anak ketiga dan keempat.

Belum cukup sampai di situ, kemudahan-kemudahan bagi ibu yang melahirkan pun diberikan. Jika sebelumnya cuti melahirkan bagi ibu yang bekerja hanya boleh sampai 8 pekan, sejak 2004 lalu ditambah menjadi 12 pekan. Orang tua pun diberikan insentif berupa potongan pajak penghasilan hingga 10 ribu SGD untuk anak kedua dan 20 ribu SGD untuk anak ketiga dan keempat. Daftar ini sebenarnya hanya beberapa dari insentif-insentif lain yang kebih banyak lagi.

Tapi sayangnya, memang semua itu belum berhasil. Untuk bisa mencapai "angka keramat" 2,1 berarti harus ada 60 ribu bayi setahun. Sedangkan angka tahun lalu saja hanya 39.490, dengan kecenderungan menurun setiap tahunnya. Keluarga dengan dua anak adalah komposisi yang terbanyak di Singapore saat ini menurut sebuah survei.

Masalahnya di mana?

Paradigma mungkin. Saya mengutip beberapa pendapat orang Singapore yang dikutip The Straits Times 12 Juli 2008:

Karen (bukan nama sebenarnya), 30, direktur di sebuah perusahaan berkomentar, “After all, children cost their parents more in food and college tuition than they bring in.”

“If people want to maximize their subjective well-being, they should stop at one. Progression from one to two children has ramifications for the family finances, time use and the socialization for the parents, and the well-being of the child … I want to nurture myself without neglecting my daughter.”

Walaupun ini hanya pendapat satu orang, jangan kaget kalau ternyata pendapat ini diakui mewakili pemikiran sebagian besar orang Singapore. Pemikiran seperti ini sebenarnya tidak muncul secara tiba-tiba, karena bisa jadi faktor lingkungan adalah yang terbesar yang melahirkan banyak orang dengan pemikiran seperti itu secara pelan-pelan tanpa disadari.

Di Singapore, normanya adalah suami istri bekerja dua-duanya untuk sebuah gaya hidup yang meliputi mobil, wisata tahunan ke luar negeri, dan les-les tambahan untuk pelajaran, musik, dan lainnya bagi anak.

Nuansa persaingan karir di level korporat juga seperti tidak ada henti. Ini membuat pasangan suami istri yang bekerja berpikir bahwa memiliki anak berarti opportunity cost yang sangat besar menanti mereka.

“With three months maternity leave, morning sickness and numerous medical certificates, a mum will be less productive than a peer who is free of the above. Children can slow a woman’s climb up the career ladder,” komentar seorang manajer finansial, 29 tahun.

Memang tidak semua orang Singapore seperti itu. Toh ada juga keluarga yang beranak lebih dari dua, seperti kisah suami istri Peter dan Jilyn Tan yang dianugerahi lima anak.

Harus diakui, resikonya bagi mereka, banyak kemewahan-kemewahan yang harus mereka lupakan, seperti liburan tahunan ke Indonesia atau Malaysia seperti para tetangganya. Anak pertama mereka juga harus rela tidak ikut kursus musik dan sebangsanya di saat kebanyakan teman-temannya ikut. Untuk menghemat uang, mobil serba guna berkapasitas tujuh orang yang awalnya mereka miliki juga terpaksa diganti dengan yang lebih sederhana, Nissan Sunny yang hanya muat untuk 4-5 orang.

Tapi Mrs. Jilyn Tan berkomentar bahwa tidak pernah terpikir penyesalan sedikit pun di benaknya, “The pleasures of seeing them grow up—you can’t put a price to that.”

Singapore,
Sabtu, 16 Agustus 2008

Sumber:
The Straits Times 12 Juli 2008, The State's Lulaby: Baby, come Back,
Wikipedia, List of countries and territories by fertility rate
Kompas.com, Krisis bayi di Korea Selatan

Yang juga menarik:
Link, Irwan Prayitno anaknya 9!
Kompas.com, Indonesia Terancam Baby Booming

Labels: ,

Tuesday, July 15, 2008

Tentang Pelatih

“Saya percaya 95% kesuksesan Spanyol di EURO 2008 adalah berkat para pemain, dengan Luis Aragones berperan untuk 5%-nya …” jelas Maria Villar, presiden RFEF, PSSI-nya Spanyol. Sebenarnya seberapa pentingkah peran seorang pelatih?

Ada sebuah pendapat: Kalau kita lihat sepakbola secara mikro—pertandingan per pertandingan—sangat terlihat bahwa peran pelatih sebenarnya tidak terlalu menentukan dalam kemenangan sebuah tim.

Mari kita ingat sejenak momen kemenangan dramatis Manchester United 2-1 di Liga Champions 9 tahun silam. Stadion Nou Camp menjadi saksi sejarah gol-gol Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solskjaer di menit-menit akhir babak kedua setelah sebelumnya MU tertinggal oleh gol Mario Basler di menit ke-6. Sepanjang pertandingan MU menguasai ball possession, tapi tidak berhasil menciptakan peluang yang bersih di depan gawang Bayern Munich sebelum dua gol penentuan itu. Malah, Munich yang sesekali melakukan serangan balik justru lebih merepotkan Jaap Stam dan kawan-kawan.

Di menit 67 Ferguson memasukkan Sheringham. Lalu kemudian di menit 81 Solskjaer turut serta. Memang, ini bisa dilihat sebagai perubahan strategi Ferguson yang pada akhirnya menempatkan tiga penyerang sekaligus dan merubah gaya permainan. Tapi bagaimana kita menjelaskan peran Ferguson atas kedua gol Sheringham dan Solskjaer di menit-menit akhir?

Jika saja Sheringham saat itu telat 1 detik menyambut bola umpan dari Giggs, tentu ceritanya lain. Begitupula jika Solskjaer terpeleset sedikit saat mengayunkan kaki untuk menyentuh bola sundulan Sheringham. Jadi, yang terlihat jelas adalah jasa Sheringham dan Solksjaer, bukan Ferguson.

Sekarang, ada pendapat kedua bahwa peran pelatih lebih terlihat di tataran makro. Rafael Benitez di Liverpool menjadi contoh. Liverpool yang di musim-musim sebelumnya hanya dianggap sebagai tim “kelas dua”, sejak ditangani Benitez langsung berubah drastis dengan menyabet juara Liga Champions di tahun pertama kepelatihannya. Ya, kini terlihat peran nyata seorang pelatih.

Susahnya jadi seorang pelatih

Posisi seorang pelatih sangat rentan terhadap kritik. Bisa dari pemain, pemilik klub (atau asosiasi sepakbola negara), para penggemar, dan tentu saja media. Bagi pemilik klub dan penggemar, bagus tidaknya pelatih hanya dilihat dari prestasi tim. Ini harga mati.

Menariknya, jika sebuah tim memiliki performa buruk, biasanya yang pertama kali disalahkan adalah pelatihnya. Kita bisa berimajinasi sedikit dengan contoh Ferguson yang tadi disebut. Ferguson oleh banyak kalangan dianggap jeli dan berani melihat peluang untuk memasukkan kedua pemain super-sub, Sheringham dan Solskjaer. Ini peran dia dalam terciptanya kedua gol itu. Tapi toh jika ternyata dua gol itu gagal tercipta, tidak akan ada pihak yang serta merta memuji strateginya. Kemungkinan, justru dia akan dikritisi: Kenapa Beckham dimainkan di tengah, tidak di kanan sejak awal? Kenapa tidak memainkan Solskjaer dari awal? Kenapa membiarkan tim kehilangan konsentrasi di awal-awal pertandingan? Dan saya yakin masih banyak lagi kemungkinan “kesalahan” Ferguson.

Ah, kasihan sekali memang seorang pelatih. Jika performa tim buruk, pemain akan tetap bermain, pemilik tidak tergoyahkan posisinya, penggemar akan tetap mendukung tim kesayangannya. Tapi pelatih? Tentu saja akan kehilangan kursinya. Tidak heran jika per 2006, rata-rata ada 40 pemecatan pelatih di kompetisi Liga Inggris di semua divisi per tahunnya.

Apa tugas dan peran pelatih?

Bersama timnya—terkadang terdiri dari asisten pelatih, pelatih tim utama, pelatih tim cadangan, pelatih kiper, fisioterapis, kepala pencari bakat (chief scout)—pelatih (atau manager di Liga Inggris) bertanggung jawab atas sebuah tim.

Pelatih yang bertanggung jawab penuh atas jadwal dan metode latihan, nutrisi dan kebugaran pemain, seleksi pemain sebelum pertandingan, strategi, dan mental pemain saat pertandingan.

Mengenai mental pemain, pelatih sebenarnya punya peran yang cukup dahsyat saat jeda pertandingan 15 menit, karena ia berada di luar lapangan dan bisa mengamati jalannya pertandingan selama babak awal. Sehingga, di satu-satunya momen saat sang pelatih bisa bertatap muka langsung dengan semua pemainnya itu, ia sebenarnya bisa berbuat banyak: membicarakan strategi, apa yang salah selama babak pertama, pengaturan tempo, dan—ya, termasuk menggenjot mental pemain.

Dikisahkan saat Liverpool menghadapi Milan di partai final Liga Champions 2005, ketika jeda, Gerrard mengutarakan keputusasaannya di ruang ganti setelah timnya tertinggal tiga gol di babak pertama. Tapi Benitez tetap terlihat percaya diri, “Cobalah cetak satu gol dan kita lihat apa yang terjadi.” Maksud pesannya adalah agar pemain Liverpool bisa membuat sang lawan gugup.

Pada akhirnya sejarah panjang Liga Champions mencatat partai final itu sebagai salah satu yang bersejarah setelah Liverpool mengejar ketertinggalan tiga gol dan berbalik menang lewat adu penalti.

Tantangan utama

Menurut beberapa literatur yang saya baca, tantangan utama seorang pelatih justru bukan berasal dari lapangan, melainkan dari luar lapangan—semua hal non teknis.

Bagaimana menghadapi sorotan dan kritikan pihak luar, terutama media, adalah satu hal. Tapi ada banyak hal lain yang menyangkut pemain. Di antara masalah yang umum adalah mengurus pemain yang sudah di ambang masa pensiun—tentang kontrak dan lainnya. Seorang pelatih pun bisa saja mengurusi masalah perkawinan seorang pemain yang tidak harmonis. Belum lagi kalau ada pemain yang bengal di kehidupan sosial sampai berurusan dengan polisi, seperti kasusnya Joey Barton.

Terkadang, dinamika tim pun bisa sangat ekstrim dengan adanya faktor senioritas pemain tua terhadap pemain muda. Ini bisa jadi penghambat kemajuan para pemain muda.

Kalau sebuah tim sangat heterogen seperti Arsenal yang tim utamanya berasal dari 17 negara yang berbeda, satu masalah tambahan muncul: adaptasi. Bisa dibayangkan betapa hebatnya seorang Arsene Wenger yang bisa membuat sebuah tim multinasional dengan berbagai perbedaan seperti itu bermain dengan kompak.

Menjadi jelas sekarang kenapa memiliki kemampuan dan pengetahuan sepakbola yang dalam saja tidak cukup untuk menjadi seorang pelatih yang sukses. Bahkan ditambah pengalaman pun belum menjamin kesuksesan, karena itu semua masih seputar kemampuan teknis.

Ada faktor non teknis yang membuat pelatih semacam Jurgen Klinsmann bisa sukses membawa Jerman ke semifinal Piala Dunia 2006 walaupun awalnya banyak pihak yang meragukan kualitas komposisi tim Jerman saat itu. Kharisma. Dan pelatih harus disegani dan dihormati oleh para pemain. Ini yang membuat pelatih semacam Alex Ferguson bisa sukses di Manchester United. Ini juga yang membuat Steve McClaren dipecat walaupun baru setahun menjadi arsitek tim nasional Inggris.

Roy Keane menyebut satu faktor non teknis yang membuat Inggris gagal melaju ke putaran final EURO 2008, “Terlalu banyak ego para pemain Inggris yang terlibat, dan itu membuat mereka membayar mahal.” Kharisma McClaren tidak cukup untuk bisa memperoleh respek dan menyatukan para “artis” Inggris semacam Beckham, Gerrard, Lampard, Cole, Owen menjadi satu tim yang padu luar dalam.

Aragones?

Kembali ke Aragones. Bukan pekerjaan semalam dua malam kalau kita lihat sekarang Spanyol bisa juara EURO 2008. Empat tahun sudah Aragones memimpin tim Spanyol. Gagal di Piala Dunia 2006, tapi prestasi Spanyol sedikit demi sedikit mulai stabil setelahnya.

Seperti layaknya pelatih negara besar Eropa lainnya, Aragones pun tidak jauh dari kritik dan sorotan tajam media. Keputusan paling berani Aragones—yang ditentang banyak pihak di Spanyol—adalah keberaniannya tidak membawa Raul ke skuad Spanyol untuk EURO 2008. Padahal Raul adalah pencetak gol terbanyak tim nasional Spanyol sampai saat ini, dan masih produktif di Real Madrid. Tapi toh nyatanya publik Spanyol sekarang bungkam dan terkesima dengan duet anyar David Villa dan Fernando Torres.

Jadi bagaimana? Secara pribadi, saya percaya Aragones punya kontribusi yang signifikan, baik dari segi teknis mapun non teknis, dalam sukses Spanyol di tahun ini walaupun tampaknya Villar berpendapat lain.

Ah, bagaimana pun Aragones bisa menimpali Villar begini, “5% tidak apa-apa bagi saya. Anda sendiri berapa persen?”

Singapore,
Selasa, 15 Juli 2008

NB: Penulis adalah penggemar timnas Inggris. Penulis hanya seorang penikmat sepakbola tanpa pengalaman kepelatihan. Mohon maaf kalau ada info yang tidak akurat.

Bahan bacaan:
Aragones Played a Small Part in Spain's EURO 2008 Success; Goal.com
Football Coaching, Half Time Psychology; Peak Performance Online

Labels: ,

Saturday, January 19, 2008

Reality Show Bernama Demokrasi

Sudah beberapa bulan terakhir ini berita-berita di media cetak dan elektronik dipenuhi ulasan-ulasan dan analisis-analisis paling aktual tentang pemilu di AS. Di Singapore sendiri, saya perhatikan hampir setiap hari ada tulisan-tulisan baru tentang topik hangat ini. Kalau bukan berita dari hasil kaukus dan pemilu pendahuluan (primary), maka ulasan-ulasan pakar tentang mengapa Obama bisa kalah di New Hampshire, tentang siapa wakil paling potensial dari Republik, dan sejenisnya.

Saya tidak paham bagaimana bisa perhatian saya sampai tersedot ke perkembangan politik AS. Hasil-hasil kaukus dan pemilu pendahuluan di Iowa maupun New Hampshire yang terpampang di koran saya ikuti lekat-lekat. Ketika mendengar tentang “adegan tangisan” Hillary, serta-merta saya cari videonya di Youtube. Lalu saya membaca tentang gaya Obama yang oleh banyak orang disebut kharismatik. Lagi-lagi saya jadi tergoda untuk mengamatinya lewat Youtube. Karena itulah sekarang saya sedikit banyak familiar dengan Huckabee, Giuliani, McCain, selain Obama dan Hillary tentu saja.

Ada perasaan penasaran—itu jelas. Penasaran yang memuncak pada pertanyaan “siapa yang akan memimpin AS dan mempengaruhi dunia 4 tahun ke depan?” Mungkin agak berlebihan, tapi saya merasa bahwa perasaan penasaran ini sedikit banyak mirip dengan perasaan ketika saya mengikuti AFI (Akademi Fantasi Indosiar) beberapa tahun lalu. Semuanya memuncak pada “Mawar, Veri, atau Kia?” Atau juga saat mengikuti Singapore Idol tahun 2006 lalu dengan Hady Mirza dan Jonathan Leong-nya

Ketika kali pertama AFI muncul dulu, gaungnya sampai ke mana-mana. Yang menikmati bukan hanya anak-anak muda, tapi saat itu bisa dengan tiba-tiba ada sekelompok wanita setengah baya yang menjadi pendukung Veri atau sekelompok anak-anak yang berjingkrak-jingkrak sambil berteriak-teriak “Mawar … Mawar” di depan layar TV mereka.

Kalau dipikir-pikir, setidaknya ada 2 hal yang menjadikan acara reality show jenis kontes terlihat begitu menarik. Pertama adalah faktor kejutan yang ditawarkan di setiap episodenya. Tidak salah, karena yang paling menarik di AFI adalah masa-masa eliminasi peserta yang menguras emosi sebagian besar orang. Bahkan, saat itu kata “eliminasi” menjadi bahasa sehari-harinya anak-anak. Yang kedua, proses “pengartisan” orang-orang biasa sebagai peserta. Orang-orang dengan segala macam latar belakang yang selama ini belum pernah muncul di TV “diartiskan”. Saya yakin kalau peserta AFI diganti menjadi artis-artis yang sudah sering muncul di TV, maka nuansanya tidak akan sama dengan AFI yang di tahun pertamanya saat itu bisa meledak dengan merebut perhatian 56.1% pemirsa TV di Jabotabek untuk acara puncaknya.

Dan pada akhirnya kepintaran produser dan sutradara dalam mengemas acara lah yang membuat popularitas reality show jenis kontes belum terlihat akan pudar dalam waktu dekat ini. Lihat saja, American Idol sudah mencapai musim ke-7, So You Think You Can Dance masih panjang umur dengan musim ke-3-nya, dan kalau ingin lebih luas lagi bisa menyebut The Apprentice yang memasuki musim ke-7.

Kalau kita perhatikan sedikit lebih seksama, perasaan saya yang menyamakan pemilu AS dengan reality show menjadi cukup beralasan. Dalam banyak hal, kemiripan keduanya menjadi tampak relevan.

Sifat kontes dengan eliminasi-eliminasinya? Oh jelas, yang paling menarik dari Pemilu Amerika justru di situnya. Malah, ada yang bilang kalau pemilu tahun ini adalah yang paling menarik dalam beberapa periode terakhir karena sudah menawarkan ketegangan bahkan sejak pemilihan calon tingkat partai. Belum ada yang bisa memprediksi siapa yang akan memenangkan konvensi Partai Demokrat di bulan Agustus nanti, walaupun di Republik sudah mengerucut ke beberapa nama.

Peserta “reality show” Pemilu AS juga boleh dibilang orang-orang biasa yang sebelum masa kampanyenya di tahun 2007 belum begitu sering muncul di layar kaca maupun media-media lainnya. Hanya setelah berkampanye lah dunia sekarang menjadi tertarik dengan latar belakang Barack Obama, misalnya. Ayah kulit hitam, ibu kulit putih, pernah di Indonesia beberapa lama, dan seterusnya. Mirip dengan tabloid-tabloid gosip yang dulu mengupas Veri dari A-Z. Lulusan STM, anak tukang becak, menjadi salah satu harapan keluarga, dan seterusnya.

Pada akhirnya, Pemilu AS dan juga pemilu-pemilu lain, termasuk yang di Indonesia memiliki batas perbedaan yang semakin tipis dengan reality show. Sama-sama kontes popularitas; hanya kemasannya yang beda.

Tidak ada yang salah dengan kenyataan bahwa pemilu telah menjadi reality show dengan sendirinya. Hanya saja, satu hal yang saya sayangkan adalah bila esensi pemilu benar-benar sama dengan esensi reality show yang hampir semua unsurnya bertujuan hiburan komersial. Politik untuk hiburan? Saya sedikit enggan untuk mengakuinya, tapi kenyataan yang ada di negara kita bisa jadi masih seperti itu.

Sebagian orang menyebut pemilunya kita adalah pesta demokrasi. Dan kalau kita lihat ke jalanan selama pemilu berlangsung, agaknya masyarakat kita benar-benar mengartikan “pesta” dengan makna yang denotatif. Bagi mereka, musim pemilu adalah musim panen uang dan kaos. Sedikit berpanas-panas ria, maka upahnya uang 10 ribu dengan kaos berlambang parpol. Yang sedikit beruntung bisa mendapatkan rompi. Yang punya bisnis percetakan, wah jelas ini laiknya musim panen buah-buahan yang ranum.

Sangat sayang kalau kita menganggap pemilu yang menjadi papan nama demokrasi dilihat tak ada bedanya dengan acara AFI. Padahal uang yang dihabiskan bisa miliaran. PDIP konon menghabiskan 50 miliar untuk belanja iklan TV pada medio 2004. Kalau belanja iklan radio, surat kabar, atribut, transportasi, konsumsi, dan lainnya digabungkan, bisa kita bayangkan berapa sebenarnya “harga” satu kursi di DPR. Pengeluaran AS sendiri untuk Pemilu 2004 lalu mencapai 1.2 milyar Dollar AS.

Idealnya, harus ada manfaat yang diberikan ke masyarakat. Pendidikan politik, lalu proses yang benar, sehingga yang terpilih adalah yang benar-benar berkualitas, diketahui rekam jejaknya oleh orang banyak, dan merepresentasikan pilihan mayoritas.

Tapi rasanya itu masih butuh waktu yang agak lama, terutama masalah pendidikan politik. Perhatikan saja slogan-slogan yang dulu dikumandangkan salah satu pasangan calon di Pilkada Jakarta: “Coblos kumisnya!” Atau mari kita coba telusuri iklan-iklan Pemilu Legislatif dan Presiden 2004 lalu. Ada iklan “Coblos nomor 35; 3 ke kanan, 5 ke bawah” yang masih cukup hangat dalam ingatan kita, lalu ada juga “Ingat, tanggal 5, coblos nomor 5!” dan masih banyak lagi.

Ada pendidikan apa di sana? Tetapi bagaimana pun, kita harus sadar itu adalah cara marketing yang diterapkan oleh tim kampanye parpol-parpol dan calon-calon setelah sekian lama mempelajari demografi beserta karakter calon-calon pemilih. Realitas yang tercermin adalah bahwa calon pemilih kita memang tidak membutuhkan yang mendidik.

Asal ramai, itulah reality show—oh maaf, maksudnya demokrasi.

Singapore,
Sabtu, 19 Januari 2007

Menjelang Kaukus Nevada

Perlu dicoba:
Online flash game: Kung-Fu Election. Credit goes to NEF for the link.
> Ke Google, key in "kung fu election". Pilih yang pertama, AtomFilms. tapi kadang-kadang nggak bisa, jadi silakan klik "cached"nya.
Saya sudah tamat pakai Huckabee dan Edwards :)

Labels: ,

Wednesday, April 25, 2007

Dua Juta Dollar Per Tahun Untuk Lee Hsien Loong

Awal April lalu, isu yang hangat di Singapore adalah tentang kenaikan gaji pejabat-pejabat pemerintahan Singapore. Ini termasuk presiden, perdana menteri, minister mentor (Lee Kuan Yew), senior minister (Goh Chok Tong), dan menteri-menteri dalam kabinet.

Dengan aturan baru ini, maka gaji Lee Hsien Loong akan menjadi 3.76 juta dollar Singapore per tahun, 5 kali dari apa yang diterima George W. Bush, dan 8 kali dari Abe Shinzo. Sedangkan minister mentor (Lee Kuan Yew) dan senior minister (Goh Chock Tong) akan mendapatkan 3.7 juta. Menteri kabinet sendiri akan mengantongi 1.94 juta. Lengkapnya di tabel di bawah ini:

Perhitungan kenaikan ini didasarkan pada model perhitungan benchmark usulan Lee Kuan Yew yang sudah dimulai sejak 1994.

Sederhananya, model benchmark ini menyediakan rumus perhitungan gaji yang didasarkan pada perbandingan dengan penghasilan-penghasilan tertinggi di 6 sektor swasta, dalam hal ini di bidang hukum, perbankan, akuntansi, teknik, perusahaan multinational, dan perusahaan manufacturing lokal.

Misalnya untuk pejabat publik dengan level MR4, cara menghitung penghasilan benchmark ialah dengan mengambil dan mengurutkan 8 penghasilan tertinggi dari masing-masing bidang tersebut. Dari 48 orang ini diambil nilai mediannya, yaitu nilai pertengahan antara orang ke-24 dan ke-25. Gaji untuk MR4 sekarang adalah 55% dari penghasilan benchmark tersebut, yang pada akhirnya direncanakan untuk dinaikkan sampai 88%.

Data perbandingan gaji kepala negara di berbagai negara bisa disimak di bawah ini:

Walaupun kenaikannya dilakukan secara bertahap—sampai dengan akhir 2008—tetap saja reaksi masyarakat Singapore beragam. Di media mainstream seperti surat kabar dan TV yang memiliki hubungan erat dengan pemerintah, reaksi yang ditampilkan terlihat seimbang antara yang pro dan kontra.

Tetapi di blog, komentar-komentar yang kontra lebih terlihat dominan.

Yang paling menonjol adalah komentar-komentar yang mempertanyakan kelayakan penggunaan formula benchmark itu. Masalahnya, penentuan penggunaan formula itu diputuskan pada 1994, masa saat PAP pimpinan Lee Kuan Yew mendominasi Singapore, sehingga ada kesan bahwa penerapan kenaikan gaji sekarang ini hanya akan menambah tebal pundi-pundi penghasilan pejabat-pejabat PAP. Ini ditambah fakta bahwa PAP menguasai 82 dari 84 kursi parlemen hasil dari pemilihan umum 2006 lalu.

Mengingat kenaikan gaji ini terjadi beberapa saat setelah kenaikan GST (Goods and Services Tax), ada yang kemudian memelesetkan GST menjadi Government Salary Top-up.

Lalu, nggak sedikit juga yang mempertanyakan keabsahan logika di balik formula benchmark itu. Ada komentar menarik di sebuah blog yang menulis

"It must be fun being a minister. Because unlike the rest of Singapore, you'll never have a bad year.

What do I mean? Well, let's say a cardiosurgeon in Singapore does very well in his career this year, makes a lot of money and is the top-earning cardiosurgeon this year. Next year he may not do so well. Maybe he will have fewer patients. Or perhaps he just won't have so many complicated cases, so he has to charge less for doing simpler surgeries. Consequently, he will earn much less. That's life. Some years are good; some years are not so good.

Ministers, however, have no such problem. Their salary is pegged to whoever is earning most, in a given year. When our top cardiosurgeon is earning a lot, the ministers will peg their salaries to him. When our top cardiosurgeon has a bad year, the ministers will just drop him out of the list."

Dari pihak pemerintah sendiri, argumen-argumen yang muncul di balik keputusan ini lebih bersifat senada, yang intinya adalah untuk menjaga kredibilitas dan kualitas pemerintah Singapore.

Mereka ingin memastikan bahwa hanya orang-orang terbaiklah yang memegang tampuk kepemimpinan Singapore, demi masa depan Singapore. Kalau gaji di bidang pelayanan publik seperti ini nggak bersaing dengan sektor swasta, maka kemungkinan orang-orang terbaik Singapore untuk direkrut swasta sangat tinggi. Menurut Menteri Pertahanan, Teo Chee Hean, kelompok tersebut merujuk pada orang-orang seperti Dr. Vivian Balakrishnan, Dr. Balaji Sadasivan, Dr. Ng Eng Hen—sekarang menempati pos-pos menteri di kabinet—yang dulu direkrut dengan susah payah.

Lee Kuan Yew sendiri berkomentar

“The cure for all this talk is really a good dose of incompetent government. Your asset values will disappear, your apartments will be worth a fraction of what it is, your jobs will be in peril, your security will be at risk and our women will become maids in other persons' countries - foreign workers."

Komentar ini disebut banyak kalangan terlalu berlebihan dan nggak relevan.

Mendukung pernyataan Lee Kuan Yew, seorang penulis Malaysia memberikan perspektifnya tersendiri dalam sebuah tulisannya di harian Malaysia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Menurutnya Singapore berhak untuk mengambil keputusan kenaikan gaji seperti itu dengan alasan menjamin tim kelas satu yang memimpin Singapore.

Seperti yang sering dikemukakan oleh Lee Kuan Yew, hanya Singaporelah yang bisa bertransformasi dari negara dunia ketiga (third world) menjadi negara dunia pertama (first world) hanya dalam satu generasi. Dulu saat awal-awal Singapore memisahkan diri dari Malaysia, 1 Ringgit sama dengan 2 Dollar Singapore; 40 tahun kemudian, keadaan berbalik. Pendapatan per kapita Singapore juga membengkak sampai hampir 6 kalinya Malaysia.

Atau bisa juga dilihat dari sudut lain. Di Malaysia, Proton dan MAS merugi milyaran Ringgit karena kesalahan manajemen. Kasus korupsi juga menimpa Perwaja dan Bumiputera Finance; sampai sekarang belum terlihat hasil penyelidikannya. Taiwan dan Thailand mengalami skandal yang cukup serius. Pemimpin-pemimpin negaranya terlibat dalam kasus korupsi yang juga melibatkan anggota keluarganya. Akibatnya nggak main-main; Thailand sampai kehilangan kepercayaan dari investor karena instabilitas politik. Taiwan mengalami penurunan pamor yang luar biasa dalam 7 tahun terakhir ini karena Chen Shui-bian yang disebut kurang kompeten. Indonesia belum bisa melepas diri dari jeratan korupsi walaupun sudah memproklamirkan reformasi sejak 9 tahun lalu. Filipina juga setali tiga uang dalam hal korupsi.

Lanjut sang penulis, kalau saja kerugian dari negara-negara tersebut dipakai untuk membayar orang-orang kelas satu, seperti yang dilakukan oleh Singapore, maka hasilnya tentu beda. Itulah salah satu faktor yang menyebabkan Singapore berada di urutan kelima pada daftar Corruption Perception Index milik Transparency International—hanya kalah dari Finlandia, Islandia, Selandia Baru, dan Denmark.

Singapore,
Rabu, 25 April 2007

*Daftar gaji kepala negara ini adalah gaji per tahun. Sebagian besar adalah data terbaru. Beberapa menggunakan data 2005. Sumber-sumber: 1, 2, 3

Bahan bacaan:
Singapore government promotes obscenity, Yawning Bread
Government salaries vs private sector salaries, CNN

Corruption Perception Index 2006, Transparency International
PM of Singapore to have salary five times more than US President, Pravda

Labels: , ,

Saturday, April 21, 2007

Tujuh Gol Itu Bagi AS Roma

Partai kedua perempat final Liga Champions musim ini antara MU dan AS Roma di Old Trafford, 10 April 2007 lalu, memang tidak mudah dilupakan.

Bagi MU, ini adalah partai yang cukup bersejarah. Seperti saat MU membalikkan keadaan di partai final Liga Champions melawan Bayern Munich 8 tahun lalu, partai ini pun mungkin akan dikenang sampai beberapa generasi mendatang. Jelas, sebuah pertandingan melawan klub yang sedang bercokol di posisi kedua klasemen sementara Liga Italia, dengan memasukkan 7 gol yang berkelas akan selalu diingat pendukung MU.

Van Der Sar menyebut

It wasn't that Roma played badly, we were just very, very good." (Buzzle.com)

Media di mana-mana menulis tentang kejeniusan Ferguson, kepantasan Ronaldo sebagai pemain terbaik dunia, terjawabnya keraguan public atas Carrick, dan tema-tema monoton lainnya.

Kebalikannya, media internasional sedikit sekali membahas hasil pertandingan ini dari sisi Roma. Padahal, bagi Roma, momen itu pun akan terus diingat dan membekas sampai beberapa generasi, walaupun mereka berusaha keras ingin melupakannya.

Dari komentar-komentarnya, Luciano Spalletti sampai terdengar begitu terpukul—kalau tidak ingin disebut remuk redam—dengan hasil pertandingan itu.

Would I have changed anything? I would’ve stayed at home!” (Channel4.com)

Sang pangeran Roma, Francesco Totti, juga berkomentar senada

"It was the saddest night of my career." (Soccertimes.com)

Philippe Mexes, yang dituding sebagai penyebab 2 dari 7 gol MU sampai harus meminta maaf kepada pendukung Roma secara resmi.

"We can only apologise to our supporters, despite the bad result in Manchester. Please continue following us." (Eurosport.com)

Tidak aneh sebenarnya mengomentari mengapa Mexes harus sampai sejauh itu. Sepak bola di zaman modern ini sudah berubah menjadi bagian dari dinamika emosi orang banyak melewati apa yang bisa dijelaskan oleh rasio. Ada yang teriak karena gol, tapi ada juga yang menangis sesenggukan karenanya. Ada juga yang bondo nekat berangkat ke Jakarta untuk mendukung timnya, tanpa berpikir panjang tentang duit di dompet untuk ongkos pulang.

Di Roma, seperti ditulis koresponden SoccerTimes, Chris Courtney, sepakbola sudah jadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Di ibukota Italia itu, selain AS Roma, ada lagi Lazio. Basis pendukungnya pun beda. Sebagian besar masyarakat Roma yang tinggal di kota adalah pendukung AS Roma. Sedangkan sisanya yang di pinggir kota Roma adalah pendukung setia Lazio. Sehingga, kalau Anda pendatang baru di kota Roma, lalu ditanya “Anda Romanisti?”, maka bisa dibayangkan bagaimana kelanjutan kisah hidup Anda kalau Anda adalah Laziale yang jujur.

Chris Courtney menulis deskripsi yang menarik tentang suasana kota Roma tiap akhir pekan, saat pertandingan AS Roma disiarkan melalui televisi.

I can hear the drama. When the team scores, one can hear shouts through the windows. When a shot goes wide, groans of disappointment ring out. A defensive gaffe earns a string of comments and corrections in organization.

Sekarang kita punya bayangan apa yang terjadi dengan pendukung Roma setelah menyaksikan “pembantaian” tim kesayangannya itu oleh MU tempo hari. Di pagi hari setelah malam itu, kota Roma yang biasanya cukup riuh rendah, terlihat lebih sepi. Orang-orang yang biasanya duduk-duduk mengobrol di kafe terlihat jarang. Sebuah toko buah, yang penjualnya adalah pendukung fanatik Roma, tidak berjualan di hari itu, bersamaan dengan pekerja-pekerja kantor yang menghilang karena “sakit” di hari itu.

Oleh pendukungnya, pemain dan pelatih Roma disebut “badut” sehari setelah kekalahan menyakitkan itu. Beberapa pendukung sampai mengepung stasiun radio, stasiun TV, dan kantor surat kabar di Roma, menuntut agar Luciano Spalletti dipecat.

Lebih parah lagi, dikabarkan Roma sempat menerima ancaman bom. Itu belum semua, karena masih ada sebuah paket berisi 120 kg wortel dan beberapa bebek hidup dikirim ke salah satu fasilitas latihan Roma beberapa jam sebelum pertandingan melawan Sampdoria, 15 April lalu.

Walaupun berhasil menang 4-0 dan menunjukkan performa yang membaik saat melawan Sampdoria, tetap saja pendukung-pendukung Roma masih kecewa dengan kekalahan 7-1 itu. Tidak ada nyanyian, tidak ada tarian, dan hanya sedikit senyum yang terlihat dari para pendukung Roma pasca kemenangan itu. Tampaknya luka Old Trafford terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan satu atau dua kemenangan.

Ini memang bagian-bagian dari sepakbola yang tidak bisa dijelaskan dengan logika biasa. Ya semoga saja tidak ada kasus “Andres Escobar”—seperti di Piala Dunia 1994—versi dua di Roma.

Singapore,
Kamis, 19 April 2007


Bahan bacaan:
"AS Roma will need time to recover from Man U rout", SoccerTimes.com
"AS Roma targeted by bomb scare and prank packages", International Herald Tribune
"Fans label Roma 'clowns'", Mirror

Labels: ,