Disini Di Jual Kartu Perdana
Kalau Budi Rahardjo fokus pada hal itu, maka saya lebih tertarik untuk menyorot hal yang lebih sederhana, tetapi sudah menjadi penyakit kronis bangsa Indonesia karena terlalu biasa diabaikan. Yang saya maksud adalah tentang kesalahan penggunaan awalan dan kata depan.
Contohnya iklan berikut ini di Kompas. Ini adalah iklan yang dipasang oleh Kompas Cyber Media (KCM), memberitahukan kalau walaupun Kompas nggak terbit pada tanggal 31 Desember dan 1 Januari lalu karena berturut-turut libur Idul Adha dan tahun baru Masehi, pelanggan setia Kompas masih bisa menikmati berita-berita aktual Kompas di KCM. Maksudnya jelas, tapi mata saya cukup sensitif saat itu untuk melihat satu kesalahan tata bahasa di situ. Ya, jelas sekali ada kesalahan penggunaan “di” yang seharusnya menjadi awalan, bukan kata depan. Begitu juga kesalahan serupa di iklan yang dipasang KIA.
Inilah sebabnya saya menyebut kesalahan penggunaan kata depan dan awalan sebagai penyakit kronis orang Indonesia. Padahal ini adalah pelajaran bahasa Indonesia sejak kita SD. Anda bisa mendapati semua lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa, dosen, Doktor sering melakukan kesalahan yang sama. Gambar di bawah ini adalah salah satu kesalahan yang saya dapati di Jurnal Teknik Sipil ITB.
Jadi, saya nggak terlalu meradang melihat fenomena “apotik” yang dengan gagah mengungguli “apotek” di hasil pencarian Google, walaupun kita semua tahu kalau “apotek” dan “apotik” adalah contoh paling klasik pelajaran kata baku. Tapi beda kasus kalau saya mendapati fenomena kesalahan penggunaan kata depan dan awalan yang menjamur, menggurita. Karena seharusnya nggak ada alasan bahwa kita bisa salah dalam penggunaan kata depan dan awalan. Ini adalah hal yang sama sekali nggak dipengaruhi bahasa asing atau bahasa populer. Kalau kita membaca ulang tulisan kita sekali saja, saya yakin ada peluang yang sangat besar bagi kita untuk mengidentifikasi kesalahan penggunaan kata depan dan awalan di tulisan kita.
Penelitian sederhana saya menghasilkan fakta menarik bahwa halaman web dengan kata “di mana” dan “dimana” yang berhasil di-indeks oleh Google di semua halaman web berbahasa Indonesia berjumlah hampir sama. Berarti, secara kasar bisa disebut bahwa 1 dari 2 orang Indonesia nggak paham bedanya kata depan dengan awalan.
Bagaimana pun bahasa adalah cermin penggunanya. Dari bahasa kita bisa mengetahui—atau minimal menerka-nerka—kepribadian, cara berpikir, ketelitian, maupun keseriusan orang. Nggak heran bila ada seorang ekspatriat di Jakarta yang sampai menanyakan seberapa serius Adam Air memperhatikan perawatan pesawat-pesawatnya. Ada apa gerangan? Oh, rupanya sang ekspat ini menemukan 10 kesalahan tata bahasa Inggris dari iklan Adam Air selembar penuh di Jakarta Post 19 Desember 2005! Logikanya, kalau sekadar membawa naskah iklan ke Jalan Jaksa untuk diedit saja nggak bisa, bagaimana dengan urusan perawatan pesawat? Makanya saya bisa memaklumi kalau di akhir tulisannya, dia menulis, “Sorry Adam, but for all your expenditure, you've lost at least one potential passenger.”
Dalam konteks yang lebih ketat, Ariel Heryanto juga pernah menyindir kita semua dalam tulisannya di Kompas saat Nadine “Indonesia is a beautiful city” Chandrawinata sedang menjadi topik bahasan yang hangat. Tulisnya, “Indonesia semakin mirip bangsa-bangsa bekas jajahan Inggris. Semakin banyak orang Indonesia yang tidak mampu menulis satu halaman atau bicara lima menit dalam bahasa Indonesia yang mulus, tanpa istilah-istilah bahasa Inggris mutakhir yang sedang pop. Mereka juga tidak mampu menulis satu halaman atau bicara lima menit dalam bahasa Inggris yang mulus, tanpa berlepotan logat dan pengaruh tata-bahasa bahasa Indonesia. Ada banyak Nadine di antara yang menertawakan Nadine.”
Dengan ungkapan Ariel Heryanto seperti itu, seharusnya sudah nggak terkejut lagi kalau kita mendapati salah satu tokoh berbahasa Indonesia lisan terbaik adalah justru Richard Gozney, orang asing.
Oh ya, apakah Anda menemukan satu kesalahan penggunaan awalan di tulisan ini? Selamat, berarti Anda lulus.
Singapore,
Kamis, 22 Februari 2007
NB: Maaf bagi yang kurang berkenan dengan tulisan ini
Bahan bacaan:
Pedoman ejaan, Wikipedia Indonesia
Tulisan Jakartass tentang iklan Adam Air
"Remy Sylado: Bahasa Televisi Harus Luwes", Gatra.com
"Nadine" oleh Ariel Heryanto, Kompas.com
"Panduan Menulis dan Mempresentasikan Karya Ilmiah" oleh Budi Rahardjo, cert.or.id
Blog Polisi EYD
Perlu dicoba:
dimana vs "di mana", apotek vs apotik, Google